Minggu, 25 Mei 2008
Pemerintah tidak berhati nurani dengan menaikkan BBM
Ya Allah, siapa saja yang menjadi pengatur urusan umatku, kemudian ia membebani mereka, maka bebanilah ia. (Doa Rasulullah saw.)

“Pemerintah Keterlaluan,” demikian headline sebuah media nasional yang mengkomentari kenaikan BBM 1 Oktober tahun 2005. Pernyataan yang sama kita tujukan kepada pemerintah sekarang ini. Tanpa peduli kesulitan rakyat, pemerintah ngotot tetap menaikkan BBM.

Dampak kenaikan ini tidak perlu diperdebatkan lagi. Sudah banyak pengamat yang mengatakan bahwa naiknya BBM akan menambah jumlah orang miskin. Harga-harga langsung meroket naik, biaya tranportasi pun meningkat, buruh terancam PHK massal. Pemerintah tampaknya tidak mau tahu. Mereka sudah buta mata, buta telinga, dan—yang paling menyedihkan—buta nurani.

Berbagai cara dilakukan Pemerintah yang tak bernurani ini untuk menenangkan masyarakat. Senjata utamanya adalah subsidi langsung. Pemerintah membagi-bagikan uang sebesar Rp 100.000 perbulan. Apakah ini menyelesaikan persoalan? Tentu saja tidak! Rp 100.000 perbulan (yang berarti Rp 3000 perhari) tidak akan cukup, mengingat biaya hidup meningkat berlipat-lipat. Ryas Rasyid dalam diskusi dengan HTI menggambar BLT seperti seorang yang dipukul habis-habisan sampai babak belur, supaya tidak nangis dia diberikan permen. Rakyat akan semakin menderita, untuk membujuk rakyat diberikan Rp 3000 perhari.

Jelas, kebijakan ini sangat zalim. Padahal masih banyak cara yang bisa digunakan oleh Pemerintah tanpa harus mengorbankan rakyat. Pemerintah, misalnya, bisa mengenakan pajak yang sangat tinggi terhadap orang-orang kaya yang berpenghasilan lebih dari Rp 5 juta, atau mengenakan pajak tambahan terhadap rumah-rumah mewah para pejabat yang harganya di atas 500 juta, demikian juga yang mempunyai mobil mewah lebih dari satu. Apa susahnya membuat kebijakan seperti ini. Pemerintah juga bisa saja menunda pembayaran utang plus bunga (APBN 2008) yang jumlahnya 151,2 trilyun. Pemerintah juga bisa menyita harta koruptor yang jumlahnya lebih dari Rp 200 triliun. Pemerintah juga bisa mengambil alih tambang emas, perak, minyak dan batu baru yang sekarang dikuasai oleh asing. Karena semuanya adalah pemilikan umum yang merupakan hak rakyat, tapi sekarang lebih dari 80 persen dikuasai asing. Akan tetapi, kebijakan ini malah tidak diambil oleh Pemerintah.

Kami berani mengatakan, kebijakan ini merupakan upaya sistematis untuk membunuh rakyat. Sebab, dengan kebijakan ini, akan semakin banyak rakyat yang meregang nyawa karena kemiskinan; akan semakin banyak anak-anak yang sakit karena orangtuanya tidak mampu memberikan gizi yang baik, juga karena kemiskinan; dan akan semakin banyak orang miskin yang sulit ke rumah sakit karena biaya rumah sakit yang semakin tidak terjangkau oleh mereka. Ini bukanlah persoalan main-main. Ini adalah tindakan pembunuhan terhadap rakyat yang termasuk dosa besar. (Lihat: QS an-Nisa’ [4]: 93).

Mengapa Pemerintah mengeluarkan kebijakan ini? Tidak lain, demi mematuhi tekanan negara-negara imperialis melalui IMF, yang telah memaksa Pemerintah untuk melakukan liberalisasi ekonomi, termasuk migas. Seperti yang diungkap Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila Universitas Gadjah Mada (UGM), Revrisond Baswir kepada Tempo Interaktif (2/10/2005), kenaikan harga BBM tersebut hanyalah bagian dari target liberalisasi sektor migas yang akan melepas harga minyak domestik ke pasar dunia. “Kenaikan ini hanya sebagian saja dari proses menuju liberalisasi tadi dan Pemerintah selangkah lagi dalam agenda tersebut,” kata Baswir. Ia juga memperkirakan, Pemerintah masih akan menaikkan harga BBM, karena harga yang sekarang pun masih di bawah harga pasar. Menurutnya, Pertamina sudah akan kehilangan izin PSO (public service obligation)-nya, dan akhirnya di sektor hilir migas akan masuk pengecer BBM lainnya di Indonesia seperti Exxon, Caltex, dan sebagainya.

Seperti kehilangan akal, Pemerintah juga memanfaatkan berbagai cara untuk melegalkan kedzolimannya. Media massa pun diduga ditekan agar tetap pro kenaikan BBM. Para ekonom dibeli untuk melakukan analisis yang pro kenaikan BBM. Para menteri pun harus beriklan di TV yang biayanya pastilah mahal.

Nasihat sabar disampaikan kepada masyarakat. Memang, keharusan bersabar saat mengalami kesulitan merupakan perintah Allah Swt. Namun, bukankah Allah Swt. juga memerintahkan kepada kita, tentu juga kepada ulama , untuk tidak berdiam terhadap kebijakan penguasa yang menyengsarakan rakyat. Lalu mengapa penguasa itu tidak dinasihati, padahal diam terhadap kemungkaran penguasa adalah dosa besar, apalagi jika ada kemampuan dan kesempatan untuk menasihatinya.

Bagi kita, pemerintah dzolim produk kapitalis ini, tidak boleh dibiarkan menyengsarakan rakyat. Kita harus melakukan perlawanan. Bukan semata-sama perlawanan terhadap antek-antek kapitalis yang berkuasa, tapi perlawanan terhadap sistem kapitalis yang menjadi pangkal penderitaan rakyat. Karenanya, kita harus bersungguh-sungguh, bahkan ekstra bersungguh-sungguh untuk memperjuangkan syariah dan Khilafah. Sistem inilah yang akan menghentikan kedzoliman sistem kapitalis yang membuat rakyat menderita ini. Sekali lagi , hanya syariah dan Khilafah.

Terakhir, kita mengingatkan kepada Pemerintah, hendaklah segera bertobat kepada Allah Swt., dan segera mencabut kebijakan yang menyengsarakan rakyat ini! [Farid Wadjdi].

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 10:26 | Permalink | 1 comments
Senin, 04 Februari 2008
Soal Ahmadiyah Bukan Persoalan HAM, Tapi Penistaan terhadap Islam
Hak Azasi Manusia (HAM) yang dimiliki oleh pengikut aliran Ahmadiyah, juga mempunyai sejumlah restriksi sama dengan warga negara lain, dan bukannya tanpa batas. Ketua Tim Advokasi Forum Umat Islam (FUI) Munarman sehubungan dengan anggapan beberapa kalangan yang menilai pelarangan aliran sesat adalah salah satu bentuk pelanggaran HAM.

"HAM itu secara teoritis, konseptual, dan prakteknya juga mengenal pembatasan. Tidak ada HAM yang dilaksanakan sebebas-bebasnya, "ujarnya di Jakarta, Senin(4/1).

Menurutnya, seseorang atau sekelompok orang yang melakukan sesuatu atas dasar HAM tidak boleh melanggar HAM orang atau kelompok lainnya. Karena itu, lanjut Munarman, orang yang mengikuti aliran Ahmadiyah juga wajib dibatasi agar tidak meresahkan umat Islam yang merasa HAM-nya terlanggar.

"Apa yang dilakukan Ahmadiyah bukanlah ekspresi kebebasan, tetapi penistaan terhadap ajaran agama Islam, "tegasnya.

Mengenai 12 butir penjelasan yang diajukan Ahmadiyah kepada Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem), Munarman mengindikasikan bahwa hal tersebut dapat diterima pemerintah, karena ada sejumlah orang yang dekat dengan kekuasaan yang menjadi pembela Ahmadiyah.

Ia juga mengingatkan, fatwa MUI telah sebanyak dua kali (1985 dan 2005) menyatakan bahwa Ahmadiyah sebagai aliran yang sesat. Munarman menegaskan, seharusnya setelah fatwa MUI pada tahun 2005, pemerintah tidak perlu ragu lagi, dan bertindak tegas untuk membubarkan Ahmadiyah di Tanah Air.

Sebelumnya, Bakor Pakem pada Selasa (15/1) memutuskan untuk tidak melarang aliran Ahmadiyah dan memberi kesempatan jamaah aliran tersebut untuk melakukan perbaikan. Rapat yang dihadiri seluruh elemen Bakor Pakem, di antaranya Kejaksaan Agung, Polri, dan BIN, tersebut memutuskan tidak melarang Ahmadiyah setelah pimpinan aliran itu mengirimkan 12 butir penjelasan tertulis.

Jaksa Agung Muda Intelejen (Jamintel) Wisnu Subroto mengatakan, Bakor Pakem bisa memahami penjelasan tertulis Ahmadiyah itu. "Bakor Pakem akan terus memantau dan mengevaluasi, " katanya.

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 06:52 | Permalink | 1 comments
Minggu, 09 Desember 2007
Konfrontasi Indonesia VS Malaysia, Persaudaraan Yang Retak Akibat Nasionalisme
Konfrontasi Indonesia VS Malaysia, Persaudaraan Yang Retak Akibat Nasionalisme

Baru baru ini hangat berita di media massa konfrontasi antara Indonesia dan malaysia. Misalnya dalam kasus lagu rasa sayange yang di jadikan malaysia sebagai lagu jinggel pariwisata negara jiran itu. hampir seluruh warga Indonesia terperanjat. Betapa tidak, semasa kecil hampir seluruh anak Indonesia amat akrab berdendang lagu 'Rasa Sayange', sebab di bangku SD guru kesenian menjadikannya sebagai salah satu lagu daerah yang mesti dihafal, bahkan salah seorang teman saya berkata, gurunya akan mencubitnya jika tidak menghafa lagu itu.Lagu 'Rasa Sayange' terasa riang, sederhana, dan amat menyenangkan dinyanyikan bersama-sama. Dan semua sepakat ketika menyanyikan lagu itu terbayang di pelupuk mata betapa indahnya Ambon nun di Maluku sana. Kok bisa menjadi lagu kebudayaa malaysia.????, Banyak orang Indonesia mulai menyebut negara jiran itu, dengan sebutan Malingsia(Maling=Pencuri), karena negara jiran itu mencaplok ambalat, kebudayaan Indonesia, dll

Ini sebenarnya bukan hal yang pertama, sebelumnya ada konflik ambalat, pemukulan wasit karate, dan masih banyak lagi. Bahkan kalau anda keMalaysia, anda mungkin saja dianggap pendatang haram, walaupun anda punya izin resmi.Orang malaysia sering menyebut orang indonesia dengan sebutan Indon, Kata “Indon” mulai menjadi populer di Malaysia ketika media sana menyiarkan berita mengenai perbuatan kriminal yang dilakukan orang Indonesia. Misalnya, “Mafia Indon Mengganas” atau “PRT Indon Menculik Anak”. Lambat laun, persepsi orang terhadap “Indon” tidak lagi bagus (atau setidaknya netral) melainkan jelek. Seorang Malaysia pernah bercerita, “Indon” artinya mirip “Preman” di sini. Anak yang nakal akan dimarahi, “Mau jadi apa kamu nanti? Mau jadi indon?” .Walaupun awalnya sebutan itu tak bermaksud jelek.Apakah bangsa Indonesia di Malaysia memang sedemikian buruk citranya? Dan apakah rasialisme untuk hal tersebut bisa dibenarkan? Apalagi untuk bangsa yang sama-sama meyakini Allah Rabbnya da Muhammad Rasulnya, dan Alqur'an Kitabnya

kalau boleh di bilang, benih benih konflik dua negara serumpun yang sama2 mayoritas muslim itu, mulai tumbuh subur. Belum lagi konflik perang kata yang di lakukan blogger malaysia dan Indonesia di dunia maya. Ada beberapa situs yang saling menghina satu sama lain. Misalnya dari Indonesia : http://www.malingsia.com/ (maling=pencuri), http://www.id-top.blogspot.com/, http://www.malaysiamaling.blogspot.com/. Misalnya dari malaysia : http://www.ihateindon.blogspot.com/ . Semuanya saling melakukan perang kata yang saling menghina

Akar masalah sesungguhnya

Akar masalah dari semua ini tidak lain adalah terpecahnya Ummat Islam menjadi negeri negeri kecil, dan adanya Nasionalisme di neger-negri Islam.Tidak di ragukan lagi, bahwasanya Nasionalismelah akar masalah perpecahan Ummat Islam. Karena Nasioanalisme, krisis palestina tidak pernah usai, ummat Islam di beberapa negeri saling bermusuhan satu sama lain, misalnya dalam kasus perang Iran-Irak.Begitu pula dengan konflik Malaysia Indonesia. Karena Nasionalismelah Indonesia dan Malaysia bertikai, walaupun sama-sama Muslim.Masing masing didorong kepentingan nasion, bukan kepentingan Islam sebagai sebuah keseluruhan. Perpecahan seperti inilah yang membuat umat Islam ini terus-menerus mengalami proses pelemahan dan pada akhirnya termarjinalisasi di semua sektor kehidupan dalam konteks global. Islam menentang nasioanalisme

Nasionalsime Buang ke Tempat Sampah

Berdasarkan tinjauan filosofis dan historis di atas, dapat kita pahami mengapa Islam menentang dan menolak ide nasionalisme itu. Sebab nasionalisme sebenarnya adalah ide kosong dan tidak layak untuk membangkitkan manusia. Nasionalisme dalam sejarahnya dan konteks kekinian juga terbukti telah membawa kemudharatan, penderitaan, dan kesengsaraan umat manusia. Apakah masuk akal ide destruktif dan berbahaya seperti itu kita terima tanpa reserve ?

Secara syar’i, umat Islam diharamkan mengadopsi nasionalisme karena nasionalisme bertentangan dengan prinsip kesatuan umat yang diwajibkan oleh Islam. Kesatuan umat Islam wajib didasarkan pada ikatan aqidah, bukan ikatan kebangsaan, seperti nasionalisme. Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara.” (QS Al Hujurat : 13)

Ayat di atas menunjukan bahwa Umat Islam adalah bersaudara (ibarat satu tubuh), yang diikat oleh kesamaan aqidah Islamiyah (iman), bukan oleh kesamaan bangsa. Rasulullah SAW bahkan mengharamkan ikatan ‘ashabiyah (fanatisme golongan), yaitu setiap ikatan pemersatu yang bertentangan dengan Islam, termasuk nasionalisme :

“Tidak tergolong umatku orang yang menyerukan ashabiyah (fanatisme golongan, seperti nasionalisme). (HR. Abu Dawud)

Jelaslah, ikatan yang layak di antara umat Islam hanyalah ikatan keimanan. Bukan ikatan kebangsaan. Sebagai perwujudannya dalam realitas, Islam mewajibkan umatnya untuk hidup di bawah satu kepemimpinan (Khilafah Islamiyah). Haram bagi mereka tercerai-berai di bawah pimpinan yang lebih dari satu. Rasulullah SAW bersabda :

“Jika dibai’at dua orang khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (HR. Muslim).

Rasulullah SAW bersabda pula :

“Barangsiapa datang kepada kalian, sedangkan urusan kalian terhimpun pada satu orang laki-laki (seorang Khalifah), dia (orang yang datang itu) hendak memecah kesatuan kalian dan menceraiberaikan jamaah kalian, maka bunuhlah dia.” (HR. Muslim)

Dalam Piagam Madinah (Watsiqah Al-Madinah) disebutkan identitas Umat Islam sebagai umat yang satu :

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah kitab (perjanjian) dari Muhammad Nabi SAW antara orang-orang mu`min dan muslim dari golongan Quraisy dan Yatsrib…: ‘Sesungguhnya mereka adalah umat yang satu (ummah wahidah), yang berbeda dengan orang-orang lain …” (Lihat Sirah Ibnu Hisyam, Juz II hal. 119).

Nash-nash seperti di atas dengan jelas menunjukkan adanya kewajiban umat untuk bersatu, di bawah satu negara Khilafah. Tidak dibenarkan umat memiliki lebih dari seorang khalifah (imam). Abdurrahman Al Jaziri menjelaskan pendirian empat imam madzhab yang saleh sebagai berikut:

“Para imam (Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, dan Ahmad) –rahimahumulah— bersepakat pula bahwa Umat Islam tidak boleh pada waktu yang sama di seluruh dunia mempunyai dua Imam (Khalifah), baik keduanya sepakat maupun bertentangan.” (Abdurrahman Al-Jaziri, Al- Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, Juz V/308).

Berdasarkan hal ini, sudah saatnya Umat Islam menyadari kontradiksi nasionalisme dengan norma Islam di atas. Mereka hendaknya menyikapi nasionalisme dengan tegas, yaitu membuang nasionalisme ke tempat sampah. Sebab nasionalisme memang ide najis (kufur) dan terbukti tidak ada gunanya bagi umat Islam. Apa gunanya ide yang absurd dan kosong ? Apa gunanya ide yang membuat umat Islam terpecah-belah ? Apa gunanya ide yang membuat kita terus dijajah dan dieksploitir oleh kaum penjajah yang kafir ?

Karena itu, sekali lagi marilah kita buang nasionalisme yang destruktif itu ! Mari kita kuburkan nasionalisme yang hanya melanggengkan penjajahan kafir atas kita ! Marilah kita kembali kepada ajaran Islam yang murni, yakni kembali kepada ikatan (rabithah) keimanan, bukan ikatan nasionalisme yang palsu dan rapuh. Marilah kita berusaha untuk mewujudkan ikatan yang suci itu dalam bentuk satu institusi politik pemersatu umat Islam di seluruh penjuru dunia, yakni negara Khilafah Islamiyah.

Oleh karena itu Malaysia Indonesia, BERSATULAH, Mari kita bersama sama menegakkah Khilafah, yang pernah di janjikan Rasulullah : “Kemudian akan kembali adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam.” [HR Ahmad dan Baihaqi dari Nuâman bin Basyir dari Hudzaifah]

Hentikan segala upaya, yang bisa merosak persaudaraan dan persatuan kita sebagai Ummat Islam

Tiada Kemuliaan Tanpa Islam, Tiada Islam Tanpa Syariah, Tiada Syariah Tanpa Tegakkanya Daulah Khilafah !! Allohu Akbar !!

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 11:30 | Permalink | 1 comments
Sabtu, 08 Desember 2007
Islam, Warisan Istimewa yang Diabaikan Barat
Roger Garaudy, intelektual terkemuka asal Perancis, punya “angan-angan” menarik dan futuristik. Menurutnya, andai saja Barat memilih dan menerima Islam sebagai sistem atau pandangan hidup (wordview), maka Barat tidak akan melakukan penjajahan di dunia Islam.

Selain itu, bangsa-bangsa Barat juga tidak akan menggelar perang dan merampas hak-hak kehidupan bangsa lain, terutama umat Islam. Inilah nasib tragis yang dialami Barat hingga kini. Mereka ingin dan terus ingin menjajah bangsa-bangsa Muslim dengan berbagai cara dan pola.

Tiap tahun mereka merekayasa hegemoni bangsa-bangsa Muslim yang dianggap sebagai ancaman kepentingan Barat. Mengenai hal ini, kita bisa melihat bagaimana mereka (Amerika Serikat/AS, Inggris, Perancis, Italia, Belanda, Jerman, dan Negara-negara sekutu lainya) bersatu pada memecah wilayah-wilayah Islam di Timur Tengah, Afrika, dan Asia. Sekitar 2001, seorang tokoh pendidikan keturunan Arab pernah bercerita, AS berharap tahun 2002 Indonesia mengalami Balkanisasi.

Bangsa Barat bersikap serakah terhadap masyarakat Islam, menurut Garaudy, karena mereka memilih renaisans (kelahiran kembali) atau- dalam bahasa orientalis aufklarung (pencerahan)- Italia dibanding memilih renaisans Islam.

Padahal, bila ditelisik masa renaisans Islam lebih dulu lahir di Barat. Tepatnya di Spanyol. Sayangnya renaisans di Spanyol diabaikan Barat, dan mereka memilih renaisans Italia. “Masa kelahiran kembali (renaisans) Barat telah terjadi di Spanyol Islam-ketika Bani Ummayah berkuasa- empat abad sebelum renaisans di Italia, ” terang Gaurady (Roger Garaudy, Promesess de l’Islam, 1981. Alih bahasa Prof. Dr. H. M. Rasyidi).

Ketika Islam masuk di Gibaltar (Jabal Thariq), Spanyol, oleh pasukan Islam di bawah komando Ziyad ibn Thariq, banyak masyarakat Barat yang memilih menjadi Muslim. Sementara mereka yang tetap pada agama Kristen dilindungi kendati mereka tidak memeluk Islam. Tidak ada gereja yang dihancurkan, dan rumah-rumah mewah mereka tetap dibiarkan berdiri.

Setelah Islam diterima di kawasan ini, di tempat ini pula muncul ulama, filsuf, hukama, qadli, dan ilmuan-ilmuan masyhur dan penting yang telah menyumbangkan ilmu-ilmu mereka kepada Barat. Di sini kita bisa menyebut Ibn Rusyd (pakar perbandingan fiqh dan filfasat, Al-Qurtubi (mufasir), dan lainnya di berbagai tempat.

Lembaga pendidikan tinggi setingkat universitas (jami’ah) dan jabatan profesional dalam ilmu adalah temuan muslim. Pengangkatan atau wisuda seorang murid yang telah menyelesaikan pendidikan dan lulus ujian telah menjadi tradisi sejak didirikan universitas tertua di dunia Al-Azhar di Kairo. Tradisi ini mengajarkan bahwa sang murid sudah berhak untuk menjadi muallim (pengajar).

Klasifikasi materi buku-buku di perpustakaan besar memunculkan berbagai karya referensi dan karya bibliografi. Karya ensiklopedi pertama adalah buatan Ikhwan al-Shafa tahun 983 M, tapi Marshal Cavendish-lah 800 tahun kemudian yang dianggap sebagai penemu ensiklopedia hanya karena ia bangsa Barat dan menyusunnya dalam bahasa Inggris.

Ilmu pengetahuan yang maju, peradaban yang tinggi dan perpustakaan besar dengan beribu-ribu buku telah menarik begitu banyak ilmuan dari seluruh penjuru dunia tak terkecuali ilmuan Barat yang sengaja belajar ke pusat-pusat peradaban Islam tersebut. Pada gilirannya para ilmuan Barat yang pulang kembali ke negerinya menjadi sebab munculnya renaisans di Barat.

Methode ilmiah adalah sumbangan peradaban Islam terbesar pada pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam laporan laboratorium Al-Battani (w. 929M), Al-Biruni (w. 1048M) dan Ibnu Haitsam (w. 1039M), kita bisa jumpai penjelasan dan penggunaan methode tersebut. Tapi yang dianggap penemu methode ilmiah adalah Roger Bacon karena ia mensekulerkan ilmu pengetahuan dengan methode ilmiah tersebut.

Di bidang matematika, Al-Khwarizmi (w. 850) menemukan algoritma (diambil dari namanya) dan aljabar (dari judul bukunya berjudul Al-Jabr wa al-Muqobbala), 300 tahun kemudian dunia Barat mengenal angka nol dan mengadopsi angka Arab dan meninggalkan sistem angka romawi yang rumit dan tak bertele-tele. Sunguhpun kini aljabar dan algoritma wajib diajarkan, tak ada sejarah yang diajarkan di kelas sekedar menuliskan nama Al-Khwarizmi sebagai penghormatan.

Hal serupa terjadi pada bidang kesusastraan. Misalnya, novel Alf Laila wa Lailah (kisah Seribu Satu Malam) sebenarnya bukan mahakarya sastra, meskipun diakui sebagai karya seni dengan kreatifitas isinya yang tinggi, tetapi salah satu tokohnya Abu Nawas (w. 810) lebih terkenal karena anekdot dan kelucuannya dari pada filsafat dan kearifannya.

Demikian pula Ibnu Thufail (w. 1185).Ia adalah pengarang novel-novel filsafat yang paling dini. Karyanya risalah Hayy Ibnu Yaqzan (Kehidupan Ibnu Yaqzan) banyak dijiplak dan cerita Robinson Crusoe karya Dafoe adalah adalah tiruan rasis darinya. Tentu saja Dafoe yang lebih terkenal di dunia sastra Barat.

Model orbit planet Copernicus yang kemudian dirumuskan dengan baik oleh Kepler dalam Hukum Kepler I, II dan III sebenarnya telah dihasilkan dari laboratorium di Maraga oleh ilmuan seperti Al-Tusi (w. 1274 M) yang kemudian diteruskan oleh Ibnu Al-Syatir (w. 1375 M) di Damaskus.

Ibnu Al-Haytsam (w. 1039 M) mempelopori penelitian tentang optika. Eksperimennya menggunakan lebih dari 27 jenis lensa. Roger Bacon, Leonardo da Vinci dan Kepler bahkan mungkin Newton telah mengambil inspirasi bahkan menjiplak dari bukunya Kitab Al-Manazhir (Kamus Optik). Sebab teori tentang mata yang bukan sumber cahaya (mirip kesimpulan Newton yang menggugurkan pendapat Euclid dan Ptolomy), hukum refleksi dan refraksi (yang lebih terkenal dengan hukum Snellius) serta pertambahan ukuran bintang dekat zenith sesungguhnya telah dirumuskan dengan baik oleh Ibnu Al- Haytsam lewat berbagai eksperimennya.

Belum lagi ilmu kedokteran. Dunia mestinya berterimakasih pada Ibnu Sina. Mereka, bangsa Barat menyebutnya dengan Ave Sena) yang telah menulis Kitab Qanun fi Al-Tibb yang berisi berbagai jenis penyakit dan pegobatannya secara komprehensif. Buku tersebut menjadi acuan selama beberapa abad kemudian dan diajarkan kepada seluruh calon-calon dokter pada saat itu.

Sampai akhir abad ke-19 tingginya ilmu pengetahuan kedokteran sumbangsih para dokter muslim terlihat saat para calon dokter di Prancis harus mendapatkan surat izin praktek dari Kepala Dokter Muslim di Tunisia. Tapi kemudian pemerintah kolonial Prancis melarang keras tindakan tersebut. Eropa berusaha menghapuskannya dengan alasan mengangapnya rendah hanya karena dokter mereka harus merunduk ke Tunisia yang Islam.

Mereka Tidak Jujur Sayang seribu sayang kejayaan dan kebaikan kaum muslimin itu dicuri dan diaku-aku sebagai hasil karya Barat. Parahnya lagi, hasil karya mulia para ilmuan Muslim itu secara dihancurkan oleh para penguasa yang tidak peduli perjuangan dan pengorbanan umat Islam. Mereka lebih senang korupsi dan berkongsi penjajah Barat, yang sejak semua benci dengan Islam.

Walaupun demikian, Barat betul-betul banyak berhutang kepada Islam. Sayang mereka tak jujur atas sumbangan besar kaum muslimin itu. “Semenjak 13 abad, Barat telah menolak warisan ketiga ini, yaitu warisan Islam yang pada masa lalu mestinya dapat dan terang akan dapat mempertemukan kebudayaan Barat dengan kebudayaan-kebidayaan lainnya di seluruh dunia, ” ujar Garaudy, pemeluk Katholik yang menjadi atheis dan berakhir menjadi Muslim.

Ia menegaskan, jika saja Barat bersikap fair dan merendah, maka mereka akan menjadi bangsa yang bermartabat. ”Selain itu, warisan ketiga itu juga akan membantunya untuk merasakan dimensi-dimensi kemanusian dan ketuhanan yang telah terpisahkan selama kebudayaan Barat berkuasa secara sepihak, mengembangkan kemauannya untuk menguasai alam dan manusia. ”

Bila saja Barat mau menerima Islam, maka Barat tidak akan bernasib seperti sekarang ini:sekular, liberal, dan ambigu, dan rasial

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 06:07 | Permalink | 0 comments
Selasa, 04 Desember 2007
Forum Umat Islam: Tolak Keras Pemberlakuan Asas Tunggal
Forum Umat Islam: Tolak Keras Pemberlakuan Asas Tunggal

Tetapi, perbedaan antar sejumlah fraksi mengenai azas parpol baru dapat diselesaikan pada rapat Pansus terakhir Selasa dinihari sekitar pukul 01. 00 WIB. Karena itu, RUU itu batal disahkan pada rapat paripurna DPR pada Selasa siang.

Hal itu disampaikannya di sela-sela rapat paripurna, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (4/12)

Dengan penundaan pengesahan itu, maka target DPR untuk mengesahkan RUU Parpol pada 4 Desember 2007 tidak tercapai.

Ganjar mengatakan, RUU yang akan mengatur partai politik peserta pemilu itu akan disahkan pada Kamis 6 Desember 2007.

Sementara itu, Anggota Pansus RUU Parpol dari Fraksi PKS, Nasir Djamil, mengemukakan perbedaan pendapat menyebabkan fraksi-fraksi di DPR terbelah dua.

Fraksi Partai Golkar (FPG), Fraksi PDIP dan Fraksi Partai Demokrat (FPD) berada dalam satu sikap yang menginginkan agar semua parpol berazaskan Pancasila.

Sedangkan fraksi lainnya, PPP, PAN, PKS, PDS, PKB, Bintang Pelopor Demokrasi (BPD) dan Partai Bintang Reformasi (PBR) menyetujui rumusan yang diajukan pemerintah bahwa azas parpol tidak bertentangan dengan Pancasila. Sebagaimana rumusan yang terdapat dalam UU No. 31/2002 bahwa azas parpol tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

"Jadi ini hanya perbedaan soal tafsir antara FPG, FPDIP, dan FPD dengan yang dirumuskan oleh pemerintah, namun rumusan yang disetujui tetap seperti yang terdapat dalam UU No. 31/2002 bahwa azas parpol tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, sesuai rumusan pemerintah, "jelasnya.

Awas Bahaya Laten Orba

Gagasan mengembalikan asas tunggal Pancasila sebagai asas satu-satunya Parpol di Indonesia, seperti zaman Orde Baru yang ternyata didukung oleh parpol-parpol Orba--kecuali PPP, membuktikan bahwa bahaya laten Orba masih eksis di zaman reformasi ini.

Padahal di negara manapun di dunia ini, jika suatu rezim tumbang maka seluruh parpol pendukungnya juga harus menjadi partai terlarang. Seperti yang menimpa partai fasisme di Italia, Nazi di Jerman, dan PKI di Indonesia. Ini pekerjaan rumah utama yang belum diselesaikan oleh elemen-elemen reformis di Indonesia.

Tolak Pancasila sebagai asas tunggal

Sikap menolak dikembalikannya Pancasila sebagai asas tunggal telah suarakan lantang oleh ormas-ormas Islam yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI).

FUI memandang bahwa fenomena pemberlakuan kembali asas tunggal Pancasila merupakan wujud nyata dari hakikat kebobrokan demokrasi yang diusung partai-partai besar mantan rezim Orde Baru, yang sejatinya mengusung kepentingan kaum kapitalis Barat dan sebab itu harus dibubarkan.

Selain itu, keinginan kembali kepada Pancasila sebagai asas tunggaljuga merupakan indikasi dari adanya "Islamophobia" dari kaum sekuler dan para komprador kaum imperialisBarat yang sangat membenci perkembangan Islam dan perjuangan penerapan syariah Islam yang semakin marak dalam kehidupan demokrasi pasca reformasi.

"Mereka berharap bahwa dengan pengasastunggalan parpol, maka dengan mudah mereka akan mengasastunggalkan ormas dan menggilas seluruh partai, ormas, dan gerakan Islam di negeri ini, "ujar Sekjen FUI M. Al-Khaththath dalam jumpa pers, di Gedung Kahmi Center, Jakarta, Senin malam



Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 03:47 | Permalink | 1 comments
Belum Kompak Tentang Azas Parpol, DPR Tunda Sahkan RUU
Belum Kompak Tentang Azas Parpol, DPR Tunda Sahkan RUU

DPR menunda pengesahan RUU tentang Partai Politik (Parpol) akibat masih adanya perbedaan pendapat yang belum bisa diselesaikan di antara fraksi-fraksi menyangkut azas parpol.

Ketua Pansus RUU tentang Parpol, Ganjar Pranowo mengemukakan, semula DPR telah menetapkan jadwal pengesahan terhadap RUU tersebut pada rapat paripurna Selasa (4/12).

Tetapi, perbedaan antar sejumlah fraksi mengenai azas parpol baru dapat diselesaikan pada rapat Pansus terakhir Selasa dinihari sekitar pukul 01. 00 WIB. Karena itu, RUU itu batal disahkan pada rapat paripurna DPR pada Selasa siang.

Hal itu disampaikannya di sela-sela rapat paripurna, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (4/12)

Dengan penundaan pengesahan itu, maka target DPR untuk mengesahkan RUU Parpol pada 4 Desember 2007 tidak tercapai.



Ganjar mengatakan, RUU yang akan mengatur partai politik peserta pemilu itu akan disahkan pada Kamis 6 Desember 2007.

Sementara itu, Anggota Pansus RUU Parpol dari Fraksi PKS, Nasir Djamil, mengemukakan perbedaan pendapat menyebabkan fraksi-fraksi di DPR terbelah dua.

Fraksi Partai Golkar (FPG), Fraksi PDIP dan Fraksi Partai Demokrat (FPD) berada dalam satu sikap yang menginginkan agar semua parpol berazaskan Pancasila.

Sedangkan fraksi lainnya, PPP, PAN, PKS, PDS, PKB, Bintang Pelopor Demokrasi (BPD) dan Partai Bintang Reformasi (PBR) menyetujui rumusan yang diajukan pemerintah bahwa azas parpol tidak bertentangan dengan Pancasila. Sebagaimana rumusan yang terdapat dalam UU No. 31/2002 bahwa azas parpol tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

"Jadi ini hanya perbedaan soal tafsir antara FPG, FPDIP, dan FPD dengan yang dirumuskan oleh pemerintah, namun rumusan yang disetujui tetap seperti yang terdapat dalam UU No. 31/2002 bahwa azas parpol tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, sesuai rumusan pemerintah, "jelasnya.

Awas Bahaya Laten Orba

Gagasan mengembalikan asas tunggal Pancasila sebagai asas satu-satunya Parpol di Indonesia, seperti zaman Orde Baru yang ternyata didukung oleh parpol-parpol Orba--kecuali PPP, membuktikan bahwa bahaya laten Orba masih eksis di zaman reformasi ini.

Padahal di negara manapun di dunia ini, jika suatu rezim tumbang maka seluruh parpol pendukungnya juga harus menjadi partai terlarang. Seperti yang menimpa partai fasisme di Italia, Nazi di Jerman, dan PKI di Indonesia. Ini pekerjaan rumah utama yang belum diselesaikan oleh elemen-elemen reformis di Indonesia.

Tolak Pancasila sebagai asas tunggal

Sikap menolak dikembalikannya Pancasila sebagai asas tunggal telah suarakan lantang oleh ormas-ormas Islam yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI).

FUI memandang bahwa fenomena pemberlakuan kembali asas tunggal Pancasila merupakan wujud nyata dari hakikat kebobrokan demokrasi yang diusung partai-partai besar mantan rezim Orde Baru, yang sejatinya mengusung kepentingan kaum kapitalis Barat dan sebab itu harus dibubarkan.

Selain itu, keinginan kembali kepada Pancasila sebagai asas tunggaljuga merupakan indikasi dari adanya "Islamophobia" dari kaum sekuler dan para komprador kaum imperialisBarat yang sangat membenci perkembangan Islam dan perjuangan penerapan syariah Islam yang semakin marak dalam kehidupan demokrasi pasca reformasi.

"Mereka berharap bahwa dengan pengasastunggalan parpol, maka dengan mudah mereka akan mengasastunggalkan ormas dan menggilas seluruh partai, ormas, dan gerakan Islam di negeri ini, "ujar Sekjen FUI M. Al-Khaththath dalam jumpa pers, di Gedung Kahmi Center, Jakarta, Senin malam

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 03:34 | Permalink | 0 comments
Lima Ribu Orang Tertular AIDS di Indonesia Setiap Hari, Pekan Kondom Nasional: Pelegalan Zina
Lima Ribu Orang Tertular AIDS di Indonesia Setiap Hari, Pekan Kondom Nasional: Pelegalan Zina

Setiap hari ada 5000 orang tertular virus HIV di Indonesia dan dari jumlah tersebut 1.000 orang lebih di antaranya berusia 0- 15 tahun

Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulawesi Selatan Anwar M Diah pada peringatan Hari HIV/AIDS sedunia dan workshop kesehatan reproduksi yang digelar di Hotel Boulevard, Makassar, mengatakan, ada 5000 orang tertular virus HIV/AIDS setiap hari.

"Dari hasil survei Komisi Perlindungan AIDS (KPA) nasional, rata-rata 5.000 orang sehat tertular virus HIV setiap hari," jelas Anwar M Diah.

Menurutnya, rata-rata yang tertular virus HIV sesuai data KPA nasional itu adalah usia produktif antara 15-24 tahun. Sementara dari total 5000 yang tertular setiap hari itu, sekitar 1.400 usia 0-5 tahun.

Kondisi tersebut, lanjutnya, sangat memprihatinkan, karena fenomena yang muncul ke permukaan itu bagian dari fenomena gunung es. Artinya, dari data yang ada maka yang belum terdeteksi masih ada sepuluh kali lipat dari jumlah yang ada.


Meningkat

Beberapa negara di Afrika dan Asia menunjukkan perlambatan laju penyebaran HIV/ AIDS. Tentunya ini berita yang menggembirakan. Namun di Indonesia, jumlah orang yang hidup dengan HIV dan AIDS (ODHA) cenderung meningkat.

Semua kelompok usia di Tanah Air, termasuk anak-anak, termasuk dalam ODHA. Data terbaru Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Depkes menyebutkan, dalam waktu 3 bulan antara Juli-September 2007 ada tambahan 786 kasus HIV/ AIDS. Rinciannya, 91 orang terkena HIV, dan 695 kasus AIDS.

Total penderita yang terpapar HIV/ AIDS di Indonesia berjumlah 16.288 orang, 500 di antaranya berusia 0-19 tahun. Sedangkan total penderita yang meninggal mencapai 2.287 orang. Provinsi dengan jumlah kasus terbanyak adalah Jakarta dan Papua

Sabtu (1/12) digelar hari AIDS sedunia. Sedihnya, moment ini sudah dimanfaatkan oleh para kapitalis perusak negeri dengan melegalkan perzinahan lewat Kampanye Pekan Kondom Nasional. seolah mereka benar-benar tengah menanggulangi penyakit AIDS tanpa melihat penyebab utama AIDS itu sendiri, seks bebas. Padahal mereka sedang menyebarkan kemungkaran dengan melegalkan perzinahan. Ada kepentingan para kapitalis dalam program ini.

Solusi yang Salah Kaprah

Data statistik penderita AIDS di negeri ini menurut Departemen Kesehatan, jumlah kumulatif kasus HIV di Indonesia sejak 1987 sebanyak 5.904 sedangkan jumlah pasien AIDS dilaporkan sebanyak 10.384 dan 2.287 diantaranya meninggal dunia. Diperkirakan jumlah kasus sebenarnya mencapai lebih dari 200 ribu kasus.

Di Semarang dilaporkan sekitar lima ribu kondom akan dibagikan kepada para sopir dan kernet. Sungguh sangat ironis, katanya penanggulangan AIDS malah membuka jalan kepada perzinahan.

Apa benar mereka melakukan hal itu untuk menanggulangi AIDS? Lalu mengapa mereka tidak menghentikan maraknya seks bebas sebagai biang pengundang murka Pencipta Alam Raya ini? Padahal pengakuan jujur seorang penderita AIDS berkata “Sebab narkoba dan seks bebas merupakan cara penularan HIV/AIDS yang paling gampang,” katanya di Pekanbaru. Lelaki berusia 31 tahun yang mengaku bernama Boy ini telah tiga tahun menderita HIV/AIDS akibat dari pergaulan bebas dan kecanduan narkoba jenis putau.

Di zaman rusak yang beridelogi kapitalisme ini, aturan Allah diabaikan. Akibatnya generasi muslim dicekoki dengan kampanye semu para kapitalis. Siapa yang membiayai LSM untuk mengkampanyekan Pekan Kondom Nasional? Jelas ada kepentingan para produsen Kondom. Awalnya gratis, selanjutnya beli.

Kondomisasi: Pelegalan Zina

Pekan Kondom Nasional (National Condom Week) yang digelar oleh para pegiat kapitalis itu penuh dengan racun yang membahayakan. Salah satu tujuannya tiada lain mempopulerkan kondom. Mereka tidak menyentuh sama sekali kapada akar masalah munculnya AIDS. Sehingga, hari AIDS hanya dijadikan sebagai promosi produk kondom. Lebih parah lagi, mengkampanyekan perzinahan.

Hubungan seks di luar nikah dalam Islam disebut zina. Perzinahan dalam Islam dilarang. Dosanya termasuk dosa besar. Hukuman bagi para pezina juga sangat berat, yaitu dicambuk atau dirajam hingga meninggal bagi pelaku yang sudah berpasangan.

Solusi penaggulangan AIDS hanya satu kembali kepada Islam. Apalagi bagi rakyat Indonesia yang mayoritas muslim ini sudah selayaknya menjadikan aturan dari Tuhannya sebagai rel kehidupan. Bukan aturan manusia yang lemah dan terbatas.

Hanya kemurkaan Allah yang akan segera datang bila maraknya free sex ini dibiarkan bahkan dikampanyekan secara terselubung oleh mereka para pegiat kapitalisme. Mereka tentu harus dihentikan bila tidak tunggu saatnya azab Allah yang sagat pedih akan menimpa. Para pemimpin negeri ini paling bertanggung jawab atas maraknya kemungkaran di masyarakat ini. Apalagi memberikan pelegalan. Mereka suatu saat nanti akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Dan balasannya adalah siksaan neraka yang menyala. Naudzubillah.

Walhasil, untuk menanggulangi AIDS, tolak kondomisasi dan hentikan perzinahan dan tegakkan Islam.

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 03:28 | Permalink | 0 comments
Anggota HT Syahid dalam Unjuk Rasa di Tepi Barat Menentang KTT Annapolis, syuhada itu Bernama Hisyam al-Baradei
Anggota HT Syahid dalam Unjuk Rasa di Tepi Barat Menentang KTT Annapolis, syuhada itu Bernama Hisyam al-Baradei

Saat berdiri dalam upaya mengingkari kemungkaran atas konferensi yang dilakukan para penguasa yang dzalim yang telah membiarkan tanah kaum muslim dirampas penjajah, tiba-tiba sebuah timah panas menembus dada seorang lelaki muda. Seorang pria berumur 36 tahun tersebut pun roboh, syahid.

Hisyam Na’im al-Baradei itulah nama lengkapnya. Ia merupakan seorang anggota Hizbut Tahrir (HT) Palestina yang berjuang untuk mengembalikan kehidupan Islam. HT dikenal sebagai gerakan yang tidak pernah menggunakan kekerasan dalam perjuangannya. Namun, kelompok yang lahir di al-Quds ini dianggap oleh para analisis AS sebagai kelompok radikal yang berbahaya, akan membawa kesengsaraan bagi para penguasa AS dan kaki tangannya saat ini. HT menginginkan Khilafah berdiri, satu-satunya institusi umat Islam sedunia yang akan mengalahkan AS. Saat ini HT bergerak di lebih 40 negara di dunia.

Hari selasa (27/11) bertepatan dengan pelaksanaan Konferensi Annapolis, selepas sholat Ashar ia bergabung bersama ribuan muslim lainnya untuk menolak konferensi yang mungkar tersebut. HT telah mengorganisir aksinya di berbagai kota di Palestina, diantaranya di Jenin, al-Khalil, Bethlehem, Ramalah dan Ghaza. Dalam konferensi skenario Amerika tersebut dihbicarakan kembali upaya solusi dua negara bagi krisis Timur Tengah. Negara Israel bagi bangsa Yahudi dan negara Palestina bagi kaum Muslim. Solusi ini tentu langkah naif penguasa Palestina karena berarti mengakui penjajah Israel.

Dengan gema kalimah tauhid sembari memegang panji Rasulullah Saw, peserta aksi keluar dari Masjid Besar di kota al-Khalil. Aksi pengingkaran atas konferensi yang mungkar tersebut dilakukan dengan damai. Dengan hanya mengandalkan senjata lidah kebenaran untuk mengatakan yang hak kepada dunia. Mereka mulai berjalan sambil tak henti-hentinya meninggikan tahlil. Namun, para penguasa yang korup melalui bodigarnya tidak rela ada yang berpandangan lain selain pandangan tuannya. Aksi unjuk rasa yang damai tersebut dianggap berbahaya.

Ketika ribuan kaum Muslim keluar dari Masjid untuk berjalan mengatakan kebenaran, tiba-tiba para polisi dan sayap militer yang setia dengan Abbas menghadang para peserta masirah. Senjata tersebut bukan untuk menembaki para penjajah. Pentungan tersebut bukan untuk mengusir laknatullah Israel. Namun untuk mengusir dan membubarkan saudara mereka sendiri, kaum Muslim yang sedang beramar makruf nahii munkar. Satu demi satu para milisi Fatah tersebut mulai memukuli barisan terdepan aksi dengan pentungan. Sedangkan yang lainnya menembakkan senjata untuk membubarkan aksi.

Beberapa diantaranya dipisahkan dari kerumunan aksi, kemudian dipukuli beramai-ramai hingga tak sadarkan diri. Seorang pemuda lainnya juga diseret oleh para polisi Abbas tersebut. Pemuda tersebut tidak bersenjata sedikitpun. Tapi polisi menegeroyokinya, kemudian di seret dan dimasukkan ke mobil keamanan.

Hisyam tidak ridha tanah kelahirannya dirampas Yahudi. Jiwa para anak cucu Umar al-Faruq itu tidak rela kepada penguasa negerinya yang malah membiarkan sebagian tanahnya tersebut dicaplok Yahudi. Bahkan bergandengan dengan penjajah itu. Berarti harga diri kaum Muslim dibiarkan diijak-injak. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Kecuali setelah Khilafah yang menyatukan Islam sedunia dibubarkan. Hisyam dengan penuh keimanan berjuang untuk mempertahankan kemulian Islam dan kaum Muslim.

Saat masiirah (aksi damai) bersama ribuan muslim lainnya, ia harus bertemu dengan Rabbnya. Sosok pria energik ini akhirnya meninggalkan dunia yang fana’ untuk bertemu Rabbnya disambut bidadari syurga yang menanti.

Pria yang wajahnya senantiasa bersinar ini meninggal dalam keadaan mulia. Insya Allah dalam keadaan husnul khatimah. Bahkan ia menutup usianya dalam keadaan syahid setara dengan derajat Hamzah bin Abdul Muthalib. Namanya harum, dan dikenang oleh sahabat-sahabat perjuangannnya di seluruh dunia. Mulai dari Timur Tengah, Tanah Eropa hingga Indonesia mereka mengucapkan selamat jalan dan doa.

Kepergiannya tidak membuat perjuangan berhenti menegakkan Khilafah yang akan menerapkan Islam di seluruh dunia. Malah akan semakin gencar untuk menggelorakan dakwah hingga janji Allah terwujud, melalui tegaknya Islam dan Khilafah.

“Syayyiduss syuhada’ Hamzah radiyallahu ‘anhu wa rojulun qooma amama imaamul jaa’ir faqtuluhu“, demikian sabda Rasulullah Saw. yang artinya “Penghulu para syuhada itu Hamzah dan seorang laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa korup, lalu ia membunuhnya.“

“Cukuplah Allah sebagai sebaik-baiknya pelindung kami, Tidak ada daya dan kekuatan melainkan Allah, Ya Allah, rahmatilah dia, ampunilah dia, dan tulislah baginya surga firdaus yang paling tinggi. Sesungguhnya kepunyaan Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kita kembali. Ya Allah terimalah kesyahidannya, kebaikan atasnya, berilah kedudukannya seperti Hamzah radhiyallahu’anhu.”

Sumber www.hizbut-tahrir.or.id

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 03:16 | Permalink | 0 comments
Protes Muslim Palestina Menentang KTT Annapolis di al-Khalil Palestina
Selasa (27/11) bertepatan dengan palaksanaan konferensi Annapolis, ribuan rakyat Palestina melakukan aksi penolakkan atas konferensi ini. Di Tepi Barat, aksi damai yang digelar oleh HT Palestina serta merta dihalau oleh Polisi dengan tindakan anarkis. Para polisi yang setia pada Abbas memukuli dan menembakkan senjata untuk membubarkan kerumunan masa. Seorang diantaranya, Hisyam Biradiyah, telah syahid ditembak dadanya. Berikut beberapa foto dari aksi tersebut.

Aksi kekerasan ini lagi-lagi merupakan kekalahan intelektual para penguasa muslim yang berkolabarasi dengan AS. Adalah hal yang sangat memalukan bagi para polisi setia Abbas saat aksi damai yang hanya menggunakan senjata mulut ini dilawan dengan pentungan dan dentuman peluru. Lebih naif lagi merupakan logika naif yang memalukan ketika Abbas membiarkan sebagian tanah Palestina dirampas oleh Israel.

Palestina merupakan tanah kaum Muslim. Solusinya bukan menyerahkan sebagian daerahnya kepada Israel yang telah menjajah rakyat Palestina. Namun direbut kembali negeri yang telah dibebaskan oleh Umar al-Faruq ini. Khilafah Islamiyyah, dalam waktu yang takkan lama lagi akan segera membebaskannya, termasuk juga negeri-negeri muslim lainnya serta menerapkan aturan Allah Swt. [z/syabab.com]

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 03:06 | Permalink | 0 comments
Din Syamsuddin: Pemerintah Harus Lepas dari Cengkraman Kapitalisme Global
Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, mengatakan pemerintah harus melepaskan diri dari cengkraman kapitalisme global bila menginginkan kesejahteraan yang sejati bagi seluruh rakyat.

"Pemerintah boleh saja bersahabat dengan negara-negara yang menggunakan sistem kapitalis, tetapi jangan sampai bertekuk lutut di hadapan kapitalisme global, " katanya pada acara penandatanganan nota kesepahaman antara Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan Asbisindo (Asosiasi Bank Syariah Indonesia) tentang "Pemberdayaan Ekonomi Umat" di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, Senin(3/12).

Menurutnya, cengkraman kapitalisme global hanya akan menghasilkan neokolonialisme dan neoimperialisme yang dampaknya hanya akan menyengsarakan rakyat. Ia juga berpendapat, pengaruh dari kapitalisme global kini tidak hanya terasa di wilayah metropolitan atau kota besar tetapi juga terasa hingga ke sejumlah daerah pedesaan.

"Dengan penjajahan gaya baru ini, maka yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin, "tukasnya.

Ia meminta, agar negara lebih berpihak pada rakyat secara sejati antara lain dengan menampilkan politik perekonomian nasional yang berorientasi kepada ekonomi kerakyatan. Contohnya, dengan memberikan kemudahan akses bagi rakyat miskin agar dapat memperoleh dana yang dibutuhkan sebagai modal untuk mendirikan usaha mereka.

Din merasa yakin apabila unsur ketidakadilan yang terdapat dalam iklim perekonomian nasional dapat diatasi, maka umat Islam di Indonesia yang sebagian besar masih didera oleh kemiskinan juga dapat bersaing untuk menunjukkan tingkat kompetitifnya.

"Umat kini mengalami ironi yang bertingkat-tingkat. Bila dahulu Islam masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan dan memiliki sejumlah sentra ekonomi, kini yang dihadapi adalah suatu kenyataan bahwa terdapat kesenjangan antara jumlah orang Islam dan realitas peran umat dalam aspek sosial-ekonomi di Indonesia, " ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Ia juga menyerukan agar umat Islam lebih banyak tampil sebagai "problem solver" atau pemecah masalah dibandingkan menjadi bagian dari permasalahan itu sendiri.

makanya untuk itu mari kita tegakkan idiologi Islam, yang akan menghancurkan pengaruh kapitalisme, Allahu Akbar.!!!!

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 03:02 | Permalink | 0 comments
Pelajaran Berharga dari Maraknya Aliran Sesat di Indonesia

Pelajaran Berharga dari Maraknya Aliran Sesat
Senin, 19 Nopember 07 - oleh : Muhammad Faruq Al-Murtadlo

Pada minggu-minggu terakhir ini, umat Islam di Indonesia cukup dikejutkan dengan maraknya aliran sesat yang muncul secara tiba-tiba dengan mengatasnamakan Islam. Hampir tiap tahun (seolah-olah terprogram dan terencana) aliran-aliran tersebut bermunculan dengan nama yang berbeda-beda, meskipun secara substansi sama. Yakni, aliran yang pemimpinnya mengaku mendapatkan wahyu dari Allah sehingga mengaku sebagai nabi, mengaku sebagai Isa al-Masih, mengaku mampu berkomunikasi dengan malaikat Jibril, dan hal-hal lain yang bagi umat Islam sudah final dan tetap, tidak boleh diperdebatkan dan diikhtilafkan, karena semuanya sudah dijelaskan secara gamblang, baik dalam Alquran maupun sunah Nabi serta kesepakatan mayoritas atau jumhur ulama.

Fakta aliran sesat di Indonesia

Hanya dalam rentangan waktu selama 6 tahun saja (2001 – 2006) , Jumlah aliran sesat dengan mengatasnamakan Islam yang ada di Indonesia sudah mencapai 250 aliran. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi ternyata 20 persen diantaranya ada di Jawa Barat (www.antara.com, 31/10/07), dan tidak menutup kemungkinan realitas yang ada dilapangan bisa jadi lebih banyak lagi. Sebab, aliran sesat yang ada di Indonesia ini bagaikan “penomena gunung es”, apa yang muncul kepermukaan tidak menunjukan keadaan yang sebenarnya. Sekedar contoh bisa di sebutkan diantaranya:
Kelompok Lia Eden yang mengklaim sudah mendapat wahyu dari malaikat Jibril; Kelompok Al-Qur’an suci yang menyatakan bahwa sunnah tidak berlaku lagi. Mereka tidak mengakui lagi Muhammad sebagai utusan Allah, malah menjadikan pimpinan tertinggi kelompoknya sebagai pengganti Muhammad sebagai rasulullah. Lebih dari itu, mereka juga menghalalkan bersetubuh dengan keluarga dekat; Kelompok Islam Sejati yang ada di kampong Curaheum. Sholat mereka hanya tiga kali dalam sehari (ashar, maghrib, dan isya). Mereka juga mengklaim telah mampu menentukan datangnya kiamat; Kelompok Hidup di Balik Hidup yang ada di Cirebon. Pimpinan kelompok ini juga mengklaim telah mendapat wahyu, bahkan mereka saat ini mampu pulang pergi ke surga dan nereka; Aliran Ahmadiyyah, dengan “rasul”nya Hazrat Mirza Gulam Ahmad; Kelompok Al-Qiyadah Al-Islamiyyah. Dimana pimpinan tertingginya (Ahmad Mussaddeq) mendeklarasikan dirinya sebagai utusan Allah yang baru sebelum akhirnya pada minggu kemarin dia mencabut kembali ucapannya;dll.

Akar masalah maraknya aliran sesat

Maraknya aliran sesat yang ada di Indonesia tentu saja tidak muncul secara kebetulan. Ada beberapa factor pendukung terhadap maraknya aliran sesat ini, yang mana akar masalahnya itu bermuara pada paradigma sekularisme yang di jadikan asas di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini. Beberapa faktor pendukung tersebut bisa di petakan sebagai berikut:

1. Secara internal.

Pertama, lemahnya penjagaan akidah Islam oleh negara. Sebagaimana yang kita pahami, Indonesia tidak menjadikan agama (Islam) sebagai landasan negaranya. Sehingga kebijakan pemerintah yang keluar sangat sedikit dukungannya terhadap penguatan akidah. Akibatnya tentu saja berdampak negative terhadap fitalitas akidah umat. Misalnya, kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan agama di sekolah-sekolah umum (SMA/SMP) maupun di PTN/PTS yang memberikan alokasi waktu belajar agama hanya sekitar 2 jam dalam seminggu, itu pun hanya sebatas pada beberapa aspek ajaran Islam yang berada pada wilayah privat saja semacam thoharoh, sholat, dsb, tanpa kemudian diajarkan ajaran Islam secara komprehensif. Tentu saja hal ini sangat tidak cukup untuk memperkokoh akidah umat. Alokasi pendidikan agama yang minimalis tersebut di perparah pula dengan biaya pendidikan yang mahal. Sehingga tentu saja memberatkan keluarga miskin yang mayoritas beragama Islam di negeri ini. Akhirnya hal tersebut telah menjadi lingkaran setan yang mengungkungi umat Islam di Indonesia.

Ketiadaan sangsi yang tegas sebagimana yang disabdakan oleh Rasulullah, “man baddala diinahu faqtuluuhu” (barang siapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah ia) (HR Jamaah kecuali Imam Muslim) telah semakin memperparah kerapuhan akidah umat. Padahal dalam perspektif Islam, salah satu tugas utama pemerintah adalah membina, menjaga dan melindungi akidah umat dari segala bentuk penyimpangan, pendangkalan dan pengkaburan serta penodaan.
Kedua, kurangnya pembinaan dan aktivitas dakwah oleh ormas Islam. Dengan kurangnya perhatian pemerintah terhadap aktivitas penjagaan akidah umat, maka hal ini telah berdampak pula terhadap kekurang optimalan ormas Islam dalam melakukan pembinaan ditengah-tengah umat.

Ketiga, faktor ekonomi. Tentu kita masih teringat akan sabda Rasul, bahwa “kefakiran itu membawa kepada kekufuran”. Faktanya, hampir setengah dari jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2006 kemarin, hidup dibawah garis kemiskinan. Padahal kemiskinan ini merupakan suatu conditio sine qua non, yakni suatu kondisi dimana tindak kejahatan (jarimah) itu kemungkinan besar akan muncul. Dalam Islam, termasuk tindak kejahatan ketika seseorang mengaku-ngaku sebagai nabi setelah Nabi Muhammad. Contoh kasus, untuk aliran al-Qiyadah al-islamiyyah, sebagimana laporan dari Sekretaris Jenderal ALUMI, Ihsan S Latief, bahwa aliran ini mengharuskan kepada anggotanya menyerahkan uang sebesar Rp 750 ribu untuk mendapatan surat pengampunan dosa. Seandainya anggota aliran ini berjumlah 100 orang, dana yang terkumpul pada pimpinan aliran ini tidak kurang dari Rp. 75.000.000,-. Apalagi jika benar sebagaimana yang di klaim oleh pimpinan aliran ini, bahwa anggotanya sudah berjumlah lebih dari 40 ribu orang. Tentu saja hal tersebut jika dilihat dari sudut pandang kewirausahaan merupakan sebuah “usaha” yang sangat menguntungkan.

2. Secara eksternal

Pertama, adanya sebuah konspirasi untuk menstigmatisasi (cap negative) ajaran Islam, diantaranya dengan memakai istilah istilah Islam. Bisa kita perhatikan bahwa aliran-aliran yang muncul seringkali menggunakan istilah-istilah Islam. Misalnya Islam sejati, Al-Qur’an suci dan sebagainya. Atau kita bisa melihat pada kasus munculnya kelompok “Komando Jihad” di era 70-an (di masa Ali Murtopo). Yang ternyata dikemudian hari terungkap bahwa hal itu sebagai skenario intelegen untuk memberikan cap negative terhadap jihad. Padahal jihad itu merupakan salah satu ajaran Islam yang akan tetap ada sampai hari akhir. Pun demikian halnya ketika aliran sesat tadi menggunakan kata-kata bai’at, khilafah dan sebagainya. Padahal sebagaimana sabda Rasul yang diriwayatkan oleh Imam Muslim “man maata laisa fii ‘unuqihi baiah maata miitatan jahiiliyah” (barang siapa yang mati sedangkan diatas pundaknya tidak ada bai’at kepada seorang Imam/kholifah, maka matinya mati jahiliyyah). Sehingga tidak heran banyak pula kaum muslim terjebak pada konspirasi ini yang pada akhirnya masyarakat jadi mudah mengganggap sesat pada ajaran Islam yang masih asing bagi mereka.

Kedua, Penanaman sikap saling curiga sehingga menjauhkan ukhuwah. Yang mana Pada kondisi ini upaya – upaya untuk memprovokasi sesama muslim hingga terjadinya bentrokan fisik sangat mudah dilakukan.

Keriga, Akhirnya kita pun paham bahwa maraknya aliran sesat di Indonesia ini tidak terlepas dari skenario asing untuk menghancurkan umat Islam bahkan Islam itu sendiri. Sebagaimana yang diungkapkan dari Ketua Umum IKADI Prof.Dr Ahmad Satori Ismail, ketika beliau mengintrograsi salah satu pimpinan aliran sesat beberapa waktu lalu. Dalam hal ini kita harus waspada bahwa umat Islam sedang terus dihancurkan. Isu war on terrorism yang diusung musuh-musuh Islam tidak mampu merobohkan Islam dan perjuangan penerapan Islam. Kini isu aliran sesat digulirkan untuk tujuan yang sama

Islam punya solusi

Memang benar, perlu disadari bahwa ajaran Islam mengakui ikhtilaf (perbedaan) diantara pemeluknya. Hal tersebut setidaknya disebabkan oleh dua factor yang mana kedua-duanya tidak dipermasalahkan dalam Islam. Factor pertama, muncul dari realitas nash (dalil) – berupa al-Qur’an maupun al-Hadist – yang tidak sedikit mengandung lebih dari satu makna (nash zanni). Factor kedua, tidak lain dari subyek yang memahami nash itu sendiri (factor intelektual) yang pada faktanya tidak sedikit pula dari masing-masing subyek tersebut menghasilkan suatu pemahaman yang berbeda terhadap satu nash. Walaupun demikian, yang harus digaris bawahi di sini bahwa ikhtilaf tersebut hanya ada dan di bolehkan pada wilayah nash zanni bukan pada nash qath’i. sehingga dari sana terbukalah pintu ijtihad. Tentu, bagi mereka yang sudah memenuhi syarat-syarat sebagai mujtahid.

Standarisasi sebuah kelompok itu dikatakan sesat atau tidak harus dikembalikan kepada pandangan dan pemikiran yang dianutnya, yakni Islam. Misalnya, Islam telah menetapkan sejumlah pemikiran dasar, baik yang kemudian disebut rukun Islam, rukun iman, maupun sejumlah pemikiran yang dinyatakan oleh dalil-dalil yang qath'i. Jika ada kelompok yang mengklaim sebagai kelompok Islam, tetapi pandangan dan pemikirannya bertentangan dengan sejumlah pemikiran dasar di atas, maka kelompok tersebut tidak dapat dikatakan sebagai kelompok Islam.

Kalau kemudian di dalam negara Khilafah ada kelompok seperti ini, maka langkah-langkah negara untuk menanganinya antara lain :
Pertama, Negara harus melakukan itsbât (mengambil keputusan tetap), bahwa kelompok tersebut dinyatakan telah keluar dari Islam, setelah melakukan sejumlah pembuktian, dengan bukti-bukti yang qath'i, sebagaimana sabda Nabi saw.:



“Dimana kalian mempunyai bukti-bukti yang meyakinkan di sisi Allah, tentang kekufurannya.”

Dengan adanya kepastian hukum tersebut, maka vonis kafir atau murtad bisa dijatukan pada kelompok tersebut.
Kedua, Negara harus meminta mereka untuk bertobat, agar kembali ke pangkuan Islam. Caranya, bisa dengan dilakukan debat intelektual (wa jâdilhum billati hiya ahsan), dengan meruntuhkan apa yang sebelumnya menjadi keyakinannya, kemudian membangun keyakinan yang baru terhadap Islam. Kalau ini tidak berhasil, maka bisa dilakukan dengan memberikan mau'izhah wa tadzkîr (nasihat dan peringatan), termasuk mengingatkan akan konsekuensi dari masing-masing pilihan yang diambilnya. Inilah yang ditempuh oleh Ali bin Abi Thalib ketika mengutus Ibn Abbas untuk melakukan debat dengan Khawarij sehingga sebagian besar di antara mereka akhirnya insyaf dan kembali ke pangkuan Islam. Ketika Musailamah al-Kadzdzab muncul pada tahun ke-10 H, Rasulullah tidak langsung memeranginya, melainkan memberinya peringatan melalui surat, yang beliau kirimkan kepada Musailamah.

Ketiga, Jika cara yang kedua gagal, Negara akan memerangi mereka. Khususnya, mereka yang tetap bertahan dalam kelompok tersebut. Dalam hal ini, mereka diperangi sebagai ahl ar-riddah (orang murtad). Setelah Musailamah diberi peringatan oleh Rasulullah saw., tetapi dia tetap bergeming, kemudian setelah itu Rasulullah saw. wafat, maka Abu Bakar ash-Shiddiq melanjutkan misi Rasulullah saw. dengan memerangi kelompok Musailamah. Abu Bakar juga telah memerangi kelompok ahl ar-riddah yang lain, termasuk mereka yang menolak membayar zakat.

Dalam konteks Indonesia, upaya menindak aliran sesat yang marak saat ini tampak masih dilakukan setengah hati, sehingga pemerintah terkesan kebingungan dan ragu-ragu. Betapa tidak, ditinggalkannya Islam sebagai asas negera telah menjadikan negeri yang mayoritas penduduknya umat Islam ini berada pada posisi yang dilematis. Contoh kasus untuk al-Qiyadah al-Islamiyah misalnya, aliran ini sebenarnya sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu sebelum di ketahui publik pada tahun 2007. bahkan beberapa tahun sebelumnya MUI sendiri sudah melaporkannya pada pemerintah untuk di tindak lanjuti lebih lanjut. Namun sayangnya, pemerintah membiarkan aliran sesat tersebut terus berkembang sehingga sampai menimbulkan keresahan di tengah-tengah umat.

Terlepas dari itu semua, kita tentu saja mendukung upaya – upaya yang dilakukan oleh lembaga negara semacam Badan Koordinasi Pengawas Aliran dan Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) – meski agak sedikit lambat – secara resmi telah melarang salah satu aliran sesat yang ada di Indonsia (al-Qiyadah al-islamiyyah). Kita berharap Bakorpakem tidak berhenti hanya pada kasus al Qiyadah al Islamiyyah saja, tapi juga pada seluruh aliran sesat yang saat ini masih merajalela di tengah masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lia Eden dan lainnya. Mestinya, aliran-aliran sesat itu juga harus segera dilarang. Jangan sampai muncul di tengah umat suatu anggapan bahwa pemerintah melakukan tebang pilih dalam pelarangan aliran sesat itu.

Kita mendukung pula pihak kepolisian dalam menangkap beberapa tokoh aliran sesat ini. Sebab dalam perspektif Islam, adanya aliran sesat, pemurtadan dan semacamnya di tengah-tengah masyarakat dapat mengakibatkan keamanan masyarakat terganggu sehingga diperlukan peran polisi (syurthah) yang mana salah satu perannya adalah menjaga keamanan dalam negeri, dan jika di perlukan, polisi (syurthah) ini bisa sampai ditugasi untuk memerangi kelompok aliran sesat yang menolak kembali pada ajaran Islam yang lurus.

Kita juga sangat apresiatif terhadap peran MUI sebagai lembaga yang telah cukup berani mengeluarkan fatwa tentang kesesatan suatu aliran, sehingga umat memiliki sandaran yang jelas kepada siapa loyalitas mereka akan diserahkan. Kita juga mensuport MUI dalam menjalankan perannya yang lain untuk kemaslahatan umat. Diantaranya, sebagai pewaris tugas-tugas para nabi (Warasat al-anbiya) yakni memperjuangkan perubahan kehidupan agar berjalan sesuai ajaran Islam; sebagai pembimbing dan pelayan umat (Ra'iy wa khadim al ummah), dalam kaitan ini, Majelis Ulama Indonesia senantiasa berikhtiar memenuhi permintaan umat, baik langsung maupun tidak langsung, akan bimbingan dan fatwa keagamaan; sebagai penegak amar makruf dan nahyi munkar serta peran-perannya yang lain demi kemasahatan umat

Ikhtitam

Dari uraian diatas jelaslah bahwa maraknya aliran sesat di Indonesia saat ini, merupakan salah satu “masalah akibat” dari di tinggalkannya agama (Islam) dari pengurusan kehidupan kita. Sistem sekuler yang di paksakan di negeri ini terbukti gagal menjaga akidah umat. Kita tentu saja tidak ingin akidah umat ini disimpangkan serta dinodai oleh siapapun dalam bentuk apapun. Hanya negara khilafah sajalah yang mampu menghentikan segala bentuk penyimpangan, penodaan, pengkaburan serta pendangkalan terhadap akidah umat.
Inilah pelajaran berharga dari maraknya aliran sesat. Dan sebagai bukti bahwa kita sudah mengambil pelajaran itu, segeralah campakan sekularisme lalu berjuanglah menegakkan Islam dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyyah !

Wallâhu a'lam bi ash-shawâb.

sumber www.gemapembebasan.or.id

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 02:58 | Permalink | 0 comments
Minggu, 23 September 2007
Rekayasa Asas Tunggal Pancasila Oleh Sebagian Kalangan DPR Merupakan Serangan Terhadap Konsep Syariah
Oleh : Fahmi AP Pane

Anggota Lembaga Penerbitan dan Media Massa DPP Partai Persatuan Pembangunan

Usulan Fraksi Golkar, PDIP dan Demokrat untuk mengubah klausul asas partai dalam UU Partai Politik dari ‘tidak boleh bertentangan’ menjadi ‘harus berasaskan’ Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 perlu diluruskan. Anggota ketiga fraksi DPR RI tersebut mengaitkan konflik, separatisme, perda bernuansa syariah, dan kerapuhan sendi negara dengan tidak dipakainya Pancasila sebagai satu-satunya asas partai (Republika, 13-14 September 2007).

Namun, rekayasa asas tunggal lebih memperlihatkan ketakutan berlebihan terhadap Islam ketimbang ingin menerapkan Pancasila. Buktinya, mereka yang berlatar belakang partai berasas Pancasila juga tidak luput dari korupsi, bahkan sempat melindungi kadernya yang menjadi terpidana korupsi, menjual aset bangsa kepada asing, menyerahkan ruang milik bangsa demi uang, liberalisasi pendidikan, dan lain-lain. Selain itu, ada kekhawatiran kemenangan partai-partai Islam, seperti terjadi di Aljazair, Palestina, Mesir, dan Turki, akan memengaruhi peta politik Indonesia. Sekalipun tidak eksplisit menyebut asas Islam sebagai penyebab konflik dan separatisme, namun opini anggota DPR dari Golkar, Idrus Marham, yang mengaitkan asas Islam dalam berpartai dengan kedua hal tersebut jelas tidak berdasar. Faktanya, Islam justru pencegah konflik dan peredam separatisme, seperti terbukti di Aceh. Setelah jatuhnya orde baru yang mewajibkan asas tunggal Pancasila, Presiden BJ Habibie mengubah strategi dengan mengembalikan keistimewaan Aceh melalui legalisasi syariah Islam, meski sebatas aspek ibadah, adat, pendidikan dan peran ulama, selain yang sudah diberlakukan, semacam hukum pernikahan, warisan, perbankan, dan lain-lain.

Implementasi syariah Islam adalah pintu masuk perdamaian Aceh. Menurut Mayjen (purn) Sulaiman AB (2005:108-109), pemerintahan Habibie menilai penerapan syariat Islam adalah alternatif solusi. Perundingan Helsinki memang menentukan, tapi tanpa penerapan syariah Islam, juga bencana gempa-tsunami, mustahil terjadi pengalihan wacana berpikir rakyat Aceh, yang sebelumnya terobsesi referendum dan kemerdekaan.

Implementasi Syariat Islam secara terbatas itu adalah counter ideas (wacana tandingan). Lahirnya UU Nomor 44/1999 dan UU Nomor 18/2001, dan akhirnya UU Nomor 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh, adalah karena disetujui oleh partai/fraksi, baik yang berasas Pancasila maupun Islam. Partai-partai berasas Pancasila (Golkar dan PDIP) adalah dua partai terbesar yang kumulasi suaranya melebihi 50 persen.

Fakta berbicara

Indonesia memang masih menghadapi persoalan konflik dan separatisme. Namun, itu terjadi di Maluku dan Papua, yang tidak didominasi kaum Muslimin dan partai berasas Islam. Sebaliknya, Golkar dan PDIP lah yang menguasai daerah yang masih menyisakan persoalan konflik dan separatisme tersebut. Golkar dan PDIP meraih 11 dan 10 kursi dari 45 kursi DPRD Provinsi Maluku. Sementara dua partai berasas Islam terbesar, PPP dan PKS hanya meraup empat dan lima kursi. Adapun di Papua yang masih kental dengan separatisme dan rekayasa negara asing, ada tiga partai dominan, yakni Golkar (15 dari 58 kursi DPRD Papua), PDIP (delapan), dan PDS (enam). PPP dan PKS masing-masing hanya mendapat satu kursi.

Selanjutnya, mengenai penerapan perda syariah, yang menjadi argumentasi penolakan asas Islam dalam berpolitik dan berpartai, antara lain disampaikan anggota DPR dari PDIP, Ganjar Pranowo. Penting dicatat, sampai saat ini hanya penerapan syariah Islam di Aceh yang dapat disebut sebagai penerapan perda-perda bernuansa atau perda-perda syariah Islam. Adapun daerah-daerah lain tidak bisa disebut menerapkan perda syariah Islam karena Islam bukan sumber hukum perda-perda tersebut, meskipun perda-perda itu juga tidak bertentangan dengan Islam.

Alasan berikutnya adalah perda-perda itu bertumpu pada penjagaan moralitas publik, serta tujuan penciptaan ketertiban dan keamanan umum, sebagai salah satu amanat UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Bahkan, di beberapa daerah seperti Jawa Barat, perda pengaturan minuman keras dibuat sejak era Soeharto. Jika dikaitkan dengan alasan penunggalan asas partai, maka alasan munculnya perda-perda yang dianggap bernuansa syariah Islam itu justru memukul balik ide tersebut.

Daerah-daerah yang getol menerapkan perda demikian adalah daerah-daerah yang didominasi Partai Golkar, yang berasaskan Pancasila. Kita bisa telisik misalnya pada tiga daerah di Sulawesi Selatan yang dianggap termaju dalam penerapan perda yang disebut bernuansa syariah Islam, yakni Kabupaten Bulukumba, Takalar, dan Maros. Data Pemilu 2004 menunjukkan Golkar meraih 11 kursi dari 35 kursi DPRD Kabupaten Bulukumba, sedangkan PPP dan PKS meraih empat dan dua kursi. Di Kabupaten Takalar, Golkar menyapu 16 dari 30 kursi DPRD, sedangkan PPP dan PKS hanya mendapat satu dan dua kursi. Begitu pula, di Kabupaten Maros, Golkar meraup 13 dari 30 kursi, sedangkan PPP dan PKS masing-masing dua dan tiga kursi.

Ada pengecualian, di Provinsi Bali yang didominasi PDIP (28 dari 52 kursi DPRD Bali), dan Golkar (13 kursi) tidak ada penerapan perda bernuansa syariah Islam, tapi justru hukum, adat dan ibadat Hindu Bali yang mengikat semua penganut agama, termasuk Muslim. Sementara itu, di daerah Manokwari yang didominasi Golkar dan PDIP diupayakan Perda Kota Injil. Jadi, perda-perda yang disebut bernuansa syariah Islam dibuat di daerah-daerah yang didominasi partai berasas Pancasila, dan kepala daerah yang dicalonkannya. Begitu pula perda-perda berbasis agama lain, diinisiasi oleh partai-partai serupa, yang ironisnya diberlakukan untuk semua pemeluk agama.

Partisipasi politik

Rekayasa asas tunggal sebenarnya melengkapi upaya lain untuk mengembalikan hegemonic party system, seperti strategi orde baru. Rekayasa lain adalah membentuk pemilihan sistem distrik di DPRD kabupaten/kota, menghambat kepengurusan partai di level kecamatan, desa/kelurahan hingga RT/RW, pengaturan anggota DPRD oleh surat edaran mendagri dan sebagainya. Namun, itu menjadi tidak mudah karena persaingan sesama partai sekuler justru lebih keras karena pasar pemilih yang diperebutkan sama. Apalagi, Partai Demokrat dan PAN paling beruntung dengan sistem Pemilu 2004, di mana persentase perolehan kursinya jauh di atas suaranya. Mereka ‘merebut’ kursi Golkar dan PDIP. Dampak pemaksaan asas tunggal adalah turunnya partisipasi politik rakyat dalam proses politik formal, yang terlihat pada Pemilu 1997. Namun, ketika aturan asas tunggal dicabut, angka golput menurun tajam, meski naik lagi pada Pemilu 2004 akibat gagalnya partai dan lembaga-lembaga negara dalam menyerap aspirasi rakyat, membantu menyelesaikan problematika, dan meningkatkan kesejahteraannya.

Sebenarnya, telah diungkap banyak kalangan, antara lain Prof Mahfud MD (2007:243) bahwa Pancasila adalah hasil kompromi dari perjuangan pemberlakuan Islam. Karenanya, masuk akal untuk tidak mempertentangkan Islam dan Pancasila.

Ikhtisar

* Ide sebagian kalangan di DPR soal penyeragaman asas parpol yakni Pancasila perlu mendapat pelurusan.
* Tuduhan bahwa asas Islam dalam parpol menjadi pemicu konflik, separatisme, dan wacana perda bernuansa syariah Islam, sangat tidak beralasan.
* Fakta menunjukkan bahwa konflik, separatisme, dan wacana perda syariah justru muncul di daerah yang parpol berasas Pancasilanya kuat.
* Penyeragaman asas sangat berpotensi menurunkan partisipasi politik masyarakat.

Sumber: http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=307525&kat_id=16


Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 23:07 | Permalink | 0 comments
Selasa, 11 September 2007
slamofobia di Prancis, "Kami Ingin Bebas. Kami Perangi Islam."
Sejumlah stiker anti Islam disebarkan kelompok kanan ekstrim Prancis. Tulisannya berbunyi, “Saya ingin bebas. Saya perang melawan Islam. ”

Ada sekurangnya 20 ribu orang kelompok ekstrim kanan Prancis bertekad datang dari berbagai neara Eropa untuk berkumpul di depan gedung Uni Eropa di Belgia, satu hari sebelum datangnya bulan Ramadhan.

Mereka juga menentang apa yang disebut proyek Islamisasi Eropa, karena mereka merasakan ada arus besar pemeluk Islam baru di Jerman yang benar-benar mendapat sorotan sayap keamanan Jerman. Sebelumnya aksi anti Islam juga terjadi melalui pembuatan kartun pelecehan terhadap Rasulullah saw dari media massa di Swedia. Seluruhnya terjadi menjelang Ramadhan.

Menjelang bulan Ramadhan ini, di Prancis dan Eropa secara umum memang situasinya menjadi tegang. Menurut Sami Dabah, Jubir Koalisi Perlawanan Islamophobia di Prancis, “Sudah sangat jelas, perhatian terhadap Islam seperti di blow up, tapi tentu dengan kaca mata hitam dan pandangan negatif yang dilakukan media massa melalui kutipan sejumlah informasi keamanan untuk menentang orang Muslim. ”

Koalisi Melawan Islamofobia di Prancis sudah mengeluarkan pernyataan sikap yang menegaskan protesnya terhadap laporan keamanan yang disebarkan di sejumlah media massa Prancis. Laporan keamanan yang disampaikan lewat media massa itu sangat provokatif karena antara lain menyebutkan, “Banyak lokasi bisnis khusus untuk menjual daging halal di Prancis menjadi saluran pendanaan bagi terorisme”

Islamofobia menurut Sami Dabah telah mempengaruhi lembaga negara Prancis. Sebelumnya orang-orang anti Islam hanya melakukan tuduhan terkait terorisme, tapi kini mereka sudah menyentuh langsung simbol-simbol Islam. Misalnya saja, ketika ada seorang perempuan berjilbab masuk ke sebuah gedung pemerintah untuk mengurus keperluannya, maka yang pertama dilakukan petugas dalam gedung adalah, “Tolong lepaskan jilbabmu. Ini Prancis…

Sumber : eramuslim.com

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 10:55 | Permalink | 0 comments
Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Adian Husaini : Islam Tidak Sama dengan Agama Monoteisme
Banyak kalangan yang salah paham tentang Islam. Akhir-akhir ini mereka mensejajarkan Islam dengan agama-agama lain, termasuk dalam hal keimanan kepada Allah.

”Banyak buku yang ditulis akademisi Muslim menjadikan Islam sebagai agama monoteisme. Padahal Islam bukan agama monoteisme, ” ujar Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Adian Husaini.

Menurutnya, Islam adalah agama wahyu. Karena itu, ia berbeda dengan agama-agama lain yang mengklaim sebagai agama monoteisme. Jadi memasukkan Islam sebagai agama monoteis itu tidak benar.

”Islam itu berdasarkan tauhid, dan tauhid itu bukan monoteisme. Kalau tauhid itu hanya Allah Swt yang diesakan. Berbeda dengan monoteisme. Monoteisme itu mengesakan siapa saja, termasuk mengesakan batu atau Fir’aun, ” paparnya.

Terminologi demikian, kata kandidat doktor Universitas Islam Antarbangsa (UIA) Malaysia, berawal dari buku-buku yang ditulis para oroientalis dan disadur atau dikutip mentah-mentah oleh para sarjana Muslim yang belajar ke Barat. Di sisi lain, banyak alumni Timur Tengah yang tidak kritis terhadap masalah ini. ”Ini soal serius, soal aqidah umat, ” tegas Adian.

Akibat ketidakpahaman dan kesalahan ini, maka wajar saja bila saat ini kajian Islam di banyak perguruan tinggi (Islam), agama wahyu ini dibahas sebagaimana ilmu-ilmu lain. ”Semua konsep iman dalam Islam dibongkar. Padahal antara ilmu-ilmu keIslaman punya standar yang tidak sama dengan ilmu-ilmu alam dan sosial” tegasnya.

Dampak selanjutnya, terang Adian, banyak sarjana Islam yang pemahaman Islamnya mengikuti framework orientalis. Mereka tidak lagi meyakini Islam sebagai satu-satunya agama yang benar.

Sementara itu Direktur Institute for The Study Thought and Civilization (INSIST) Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi menyatakan, agar kita tidak terseret pada pla pikir orientalis Barat, maka wordlview kita harus berdasarkan nilai tauhid.

''Wordlview Islam itu adalah aqidah fikriyyah atau kepercayaan yang berdasarkan pada akal, yang asasnya adalah keesaan Tuhan (tawhid/shahadah), yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap Muslim dan berpengaruh terhadap pandangannya tentang keseluruhan aspek kehidupan terutamanya tentang realitas dan kebenaran, " paparnya.

Sederhananya, tegasnya, Pandangan Hidup Islam itu adalah ”Ilmu, Iman, ’Amal” menyatu. Ia menjelaskan bahwa ilmu harus mendahului iman. Sedangkan ’amal tidak boleh lepas dari ilmu dan iman.

Ia menambahkan, ketika orang bersyahadat, ia harus mengawalinya dengan penuh kesadaran. Kata asyhadu, ”aku bersaksi” adalah menyaksikan dengan penuh kesadaran, keyakinan dan pengetahuan (cara pandang). Cara pandang ini mempengaruhi cara manusia melihat realitas atau segala yang wujud.

Menurutnya, definisi yang lebih teknis dan epistemologis adalah bahwa konsep-konsep Islam, apabila dikumpulkan, merupakan cara pandang yang khas dan itu juga menunjukkan cara kerja secara intelektual, saintifik dan spiritual, yang bermuara kepada konsep ”Tuhan”.

Dari konsep Tuhan inilah kemudian lahirlah konsep kehidupan, konsep dunia, konsep manusia, konsep nilai, konsep ilmu dan seterusnya.
Berbicara masalah konsep ilmu dan manusia, muncullah pendidikan; berbicara konsep manusia dan nilai, lahirlah hukum; berbicara konsep nilai dan dunia, lahirlah politik; berbicara konsep dunia dan kehidupan, lahirlah ekonomi; dan berbicara konsep kehidupan dan ilmu, lahirlah ilmu dan teknologi. Kesemuanya itu saling terkait satu dengan yang lainnya, dan bermuara kepada konsep ketuhanan.

Di sinilah, sambung Pembantu Rektor III Institut Darussalam, Gontor, konsep ”tauhid” memberikan makna yang lebih komprehensif; tidak saja mempercayai Allah sebagai yang Esa, tapi juga mengakui kesatuan dan keintegralan sistem yang terdapat di tengah-tengah makhluk-Nya

Sumber : Hidayatullah.com

Label: ,


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 10:34 | Permalink | 0 comments
Minggu, 09 September 2007
MENELUSURI DEFINISI KHILAFAH
Pengertian Bahasa Khilafah

Khilafah menurut makna bahasa merupakan mashdar dari fi’il madhi khalafa, berarti : menggantikan atau menempati tempatnya (Munawwir, 1984:390). Makna khilafah menurut Ibrahim Anis (1972) adalah orang yang datang setelah orang lain lalu menggantikan tempatnya (jaa`a ba’dahu fa-shaara makaanahu) (Al-Mu’jam Al-Wasith, I/251).

Dalam kitab Mu’jam Maqayis Al-Lughah (II/210) dinyatakan, khilafah dikaitkan dengan penggantian karena orang yang kedua datang setelah orang yang pertama dan menggantikan kedudukannya. Menurut Imam Ath-Thabari, makna bahasa inilah yang menjadi alasan mengapa as-sulthan al-a’zham (penguasa besar umat Islam) disebut sebagai khalifah, karena dia menggantikan penguasa sebelumnya, lalu menggantikan posisinya (Tafsir Ath-Thabari, I/199).

Imam Al-Qalqasyandi mengatakan, menurut tradisi umum istilah khilafah kemudian digunakan untuk menyebut kepemimpinan agung (az-za’amah al-uzhma), yaitu kekuasaan umum atas seluruh umat, pelaksanaan urusan-urusan umat, dan pemikulan tugas-tugas mereka (Al-Qalqasyandi, Ma`atsir Al-Inafah fi Ma’alim Al-Khilafah, I/8-9).

Pengertian Syar’i Khilafah

Dalam pengertian syariah, Khilafah digunakan untuk menyebut orang yang menggantikan Nabi SAW dalam kepemimpinan Negara Islam (ad-dawlah al-islamiyah) (Al-Baghdadi, 1995:20). Inilah pengertiannya pada masa awal Islam. Kemudian, dalam perkembangan selanjutnya, istilah Khilafah digunakan untuk menyebut Negara Islam itu sendiri (Al-Khalidi, 1980:226).

Pemahaman ini telah menjadi dasar pembahasan seluruh ulama fiqih siyasah ketika mereka berbicara tentang “Khilafah” atau “Imamah”. Dengan demikian, walaupun secara literal tak ada satu pun ayat Al-Qur`an yang menyebut kata “ad-dawlah al-islamiyah” (negara Islam), bukan berarti dalam Islam tidak ada konsep negara. Atau tidak mewajibkan adanya Negara Islam. Para ulama terdahulu telah membahas konsep negara Islam atau sistem pemerintahan Islam dengan istilah lain yang lebih spesifik, yaitu istilah Khilafah/Imamah atau istilah Darul Islam (Lihat Dr. Sulaiman Ath-Thamawi, As-Sulthat Ats-Tsalats, hal. 245; Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, IX/823).

Hanya saja, para ulama mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda ketika memandang kedudukan Khilafah (manshib Al-Khilafah). Sebagian ulama memandang Khilafah sebagai penampakan politik (al-mazh-har as-siyasi), yakni sebagai institusi yang menjalankan urusan politik atau yang berkaitan dengan kekuasaan (as-sulthan) dan sistem pemerintahan (nizham al-hukm). Sementara sebagian lainnya memandang Khilafah sebagai penampakan agama (al-mazh-har ad-dini), yakni institusi yang menjalankan urusan agama. Maksudnya, menjalankan urusan di luar bidang kekuasaan atau sistem pemerintahan, misalnya pelaksanaan mu’amalah (seperti perdagangan), al-ahwal asy-syakhshiyyah (hukum keluarga, seperti nikah), dan ibadah-ibadah mahdhah. Ada pula yang berusaha menghimpun dua penampakan ini. Adanya perbedaan sudut pandang inilah yang menyebabkan mengapa para ulama tidak menyepakati satu definisi untuk Khilafah (Al-Khalidi, 1980:227).

Sebenarnya banyak sekali definisi Khilafah yang telah dirumuskan oleh oleh para ulama. Berikut ini akan disebutkan beberapa saja definisi Khilafah yang telah dihimpun oleh Al-Khalidi (1980), Ali Belhaj (1991), dan Al-Baghdadi (1995) :

Pertama, menurut Imam Al-Mawardi (w. 450 H/1058 M), Imamah ditetapkan bagi pengganti kenabian dalam penjagaan agama dan pengaturan urusan dunia (Al-Ahkam As-Sulthaniyah, hal. 3).

Kedua, menurut Imam Al-Juwayni (w. 478 H/1085 M), Imamah adalah kepemimpinan yang bersifat menyeluruh (riyasah taammah) sebagai kepemimpinan yang berkaitan dengan urusan khusus dan urusan umum dalam kepentingan-kepentingan agama dan dunia (Ghiyats Al-Umam, hal. 15).

Ketiga, menurut Imam Al-Baidhawi (w. 685 H/1286 M), Khilafah adalah pengganti bagi Rasulullah SAW oleh seseorang dari beberapa orang dalam penegakan hukum-hukum syariah, pemeliharaan hak milik umat, yang wajib diikuti oleh seluruh umat (Hasyiyah Syarah Al-Thawali’, hal.225).

Keempat, menurut ‘Adhuddin Al-Iji (w. 756 H/1355 M), Khilafah adalah kepemimpinan umum (riyasah ‘ammah) dalam urusan-urusan dunia dan agama, dan lebih utama disebut sebagai pengganti dari Rasulullah dalam penegakan agama (I’adah Al-Khilafah, hal. 32).

Kelima, menurut At-Taftazani (w. 791 H/1389 M), Khilafah adalah kepemimpinan umum dalam urusan agama dan dunia, sebagai pengganti dari Nabi SAW dalam penegakan agama, pemeliharaan hak milik umat, yang wajib ditaati oleh seluruh umat (Lihat Al-Iji, Al-Mawaqif, III/603; Lihat juga Rasyid Ridha, Al-Khilafah, hal. 10).

Keenam, menurut Ibnu Khaldun (w. 808 H/1406 M), Khilafah adalah pengembanan seluruh [urusan umat] sesuai dengan kehendak pandangan syariah dalam kemaslahatan-kemaslahatan mereka baik ukhrawiyah, maupun duniawiyah yang kembali kepada kemaslahatan ukhrawiyah (Al-Muqaddimah, hal. 166 & 190).

Ketujuh, menurut Al-Qalqasyandi (w. 821 H/1418 M), Khilafah adalah kekuasaan umum (wilayah ‘ammah) atas seluruh umat, pelaksanaan urusan-urusan umat, serta pemikulan tugas-tugasnya (Ma`atsir Al-Inafah fi Ma’alim Al-Khilafah, I/8).

Kedelapan, menurut Al-Kamal ibn Al-Humam (w. 861 H/1457 M), Khilafah adalah otoritas (istihqaq) pengaturan umum atas kaum muslimin (Al-Musamirah fi Syarh Al-Musayirah, hal. 141).

Kesembilan, menurut Imam Ar-Ramli (w. 1004 H/1596 M), khalifah adalah al-imam al-a’zham (imam besar), yang berkedudukan sebagai pengganti kenabian, dalam penjagaan agama dan pengaturan urusan dunia (Nihayatul Muhtaj ila Syarh Al-Minhaj, VII/289).

Kesepuluh, menurut Syah Waliyullah Ad-Dahlawi (w. 1176 H/1763 M), Khilafah adalah kepemimpinan umum (riyasah ‘ammah) ... untuk menegakkan agama dengan menghidupkan ilmu-ilmu agama, menegakkan rukun-rukun Islam, melaksanakan jihad...melaksanakan peradilan (qadha`), menegakkan hudud... sebagai pengganti (niyabah) dari Nabi SAW (dikutip oleh Shadiq Hasan Khan dalam Iklil Al-Karamah fi Tibyan Maqashid Al-Imamah, hal. 23).

Kesebelas, menurut Syaikh Al-Bajuri (w. 1177 H/1764 M), Khilafah adalah pengganti (niyabah) dari Nabi SAW dalam umumnya kemaslahatan-kemaslahatan kaum muslimin (Tuhfah Al-Murid ‘Ala Jauhar At-Tauhid, II/45).

Keduabelas, menurut Muhammad Bakhit Al-Muthi’i (w. 1354 H/1935 M), seorang Syaikh Al-Azhar, Imamah adalah kepemimpinan umum dalam urusan-urusan dunia dan agama (I’adah Al-Khilafah, hal. 33).

Ketigabelas, menurut Mustafa Shabri (w. 1373 H/1953 M), seorang Syaikhul Islam pada masa Daulah Utsmaniyah, Khilafah adalah pengganti dari Nabi SAW dalam pelaksanaan apa yang dibawa Nabi SAW berupa hukum-hukum syariah Islam (Mawqif Al-Aql wa Al-‘Ilm wa Al-‘Alim, IV/363).

Keempatbelas, menurut Dr. Hasan Ibrahim Hasan, Khilafah adalah kepemimpinan umum dalam urusan-urusan agama dan dunia sebagai pengganti dari Nabi SAW (Tarikh Al-Islam, I/350).
Analisis Definisi

Dari keempatbelas definisi yang telah disebutkan di atas, dapat dilihat sebetulnya ada 3 (tiga) kategori definisi, yaitu :

Pertama, definisi yang lebih menekankan pada penampakan agama (al-mazh-har ad-dini). Jadi, Khilafah lebih dipahami sebagai manifestasi ajaran Islam dalam pelaksanaan urusan agama. Misalnya definisi Al-Iji. Meskipun Al-Iji menyatakan bahwa Khilafah mengatur urusan-urusan dunia dan urusan agama, namun pada akhir kalimat, beliau menyatakan,”Khilafah lebih utama disebut sebagai pengganti dari Rasulullah dalam penegakan agama.”

Kedua, definisi yang lebih menekankan pada penampakan politik (al-mazh-har as-siyasi). Di sini Khilafah lebih dipahami sebagai manifestasi ajaran Islam berupa pelaksanaan urusan politik atau sistem pemerintahan, yang umumnya diungkapkan ulama dengan terminologi “urusan dunia” (umuur ad-dunya). Misalnya definisi Al-Qalqasyandi. Beliau hanya menyinggung Khilafah sebagai kekuasaan umum (wilayah ‘ammah) atas seluruh umat, tanpa mengkaitkannya dengan fungsi Khilafah untuk mengatur “urusan agama”.

Ketiga, definisi yang berusaha menggabungkan penampakan agama (al-mazh-har ad-dini) dan penampakan politik (al-mazh-har as-siyasi). Misalnya definisi Khilafah menurut Imam Al-Mawardi yang disebutnya sebagai pengganti kenabian dalam penjagaan agama dan pengaturan urusan dunia.

Dengan menelaah seluruh definisi tersebut secara mendalam, akan kita dapati bahwa secara global berbagai definisi tersebut lebih berupa deskripsi realitas Khilafah dalam dataran empirik (praktik) --misalnya adanya dikotomi wilayah “urusan dunia” dan “urusan agama”-- daripada sebuah definisi yang bersifat syar’i, yang diturunkan dari nash-nash syar’i. Selain itu, definisi-definisi tersebut kurang mencakup (ghayru jaami’ah). Sebab definisi Khilafah seharusnya menggunakan redaksi yang tepat yang bisa mencakup hakikat Khilafah dan keseluruhan fungsi Khilafah, bukan dengan redaksi yang lebih bersifat deskriptif dan lebih memberikan contoh-contoh, yang sesungguhnya malah menyempitkan definisi. Misalnya ungkapan bahwa Khilafah bertugas menghidupkan ilmu-ilmu agama, menegakkan rukun-rukun Islam, melaksanakan jihad, melaksanakan peradilan (qadha`), menegakkan hudud, dan seterusnya. Bukankah definisi ini menjadi terlalu rinci yang malah dapat menyulitkan kita menangkap hakikat Khilafah? Juga bukan dengan redaksi yang terlalu umum yang cakupannya justru sangat luas. Misalnya ungkapan bahwa Khilafah mengatur “umumnya kemaslahatan-kemaslahatan kaum muslimin”. Atau bahwa Khilafah mengatur “kemaslahatan-kemaslahatan duniawiyah dan ukhrawiyah”. Bukankah ini ungkapan yang sangat luas jangkauannya?

Sesungguhnya, untuk menetapkan sebuah definisi, sepatutnya kita perlu memahami lebih dahulu, apakah ia definisi syar’i (at-ta’rif asy-syar’i) atau definisi non-syar’i (at-ta’rif ghayr asy-syar’i) (Zallum, 1985:51). Definisi syar’i merupakan definisi yang digunakan dalam nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah, semisal definisi sholat dan zakat. Sedang definisi non-syar’i merupakan definisi yang tidak digunakan dalam nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah, tetapi digunakan dalam disiplin ilmu tertentu atau kalangan ilmuwan tertentu, semisal definisi isim, fi’il, dan harf (dalam ilmu Nahwu-Sharaf). Contoh lainnya misalkan definisi akal, masyarakat, kebangkitan, ideologi (mabda`), dustur (UUD), qanun (UU), hadharah (peradaban), madaniyah (benda sarana kehidupan), dan sebagainya

Jika definisinya berupa definisi non-syar’i, maka dasar perumusannya bertolak dari realitas (al-waqi’), bukan dari nash-nash syara’. Baik ia realitas empirik yang dapat diindera atau realitas berupa kosep-konsep yang dapat dijangkau faktanya dalam benak. Sedang jika definisinya berupa definisi syar’i, maka dasar perumusannya wajib bertolak dari nash-nash syara’ Al-Qur`an dan As-Sunnah, bukan dari realitas. Mengapa? Sebab, menurut Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, definisi syar’i sesungguhnya adalah hukum syar’i, yang wajib diistimbath dari nash-nash syar’i (Ay-Syakhshiyyah Al-Islamiyah, III/438-442; Al-Ma’lumat li Asy-Syabab, hal. 1-3). Jadi, perumusan definisi syar’i, misalnya definisi sholat, zakat, haji, jihad, dan semisalnya, wajib merujuk pada nash-nash syar’i yang berkaitan dengannya.

Apakah definisi Khilafah (atau Imamah) merupakan definisi syar’i? Jawabannya, ya. Sebab nash-nash syar’i, khususnya hadits-hadits Nabi SAW, telah menggunakan lafazh-lafazh “khalifah” dan “imam” yang masih satu akar kata dengan kata Khilafah/Imamah. Misalnya hadits Nabi, “Jika dibaiat dua orang khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (Shahih Muslim, no. 1853). Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya telah mengumpulkan hadits-hadits tentang Khilafah dalam Kitab Al-Ahkam. Sedang Imam Muslim dalam Shahihnya telah mengumpulkannya dalam Kitab Al-Imarah (Ali Belhaj, 1991:15). Jelaslah, bahwa untuk mendefinisikan Khilafah, wajiblah kita memperhatikan berbagai nash-nash ini yang berkaitan dengan Khilafah.

Dengan menelaah nash-nash hadits tersebut, dan tentunya nash-nash Al-Qur`an, akan kita jumpai bahwa definisi Khilafah dapat dicari rujukannya pada 2 (dua) kelompok nash, yaitu :

Kelompok Pertama, nash-nash yang menerangkan hakikat Khilafah sebagai sebuah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia.

Kelompok Kedua, nash-nash yang menjelaskan tugas-tugas khalifah, yaitu : (1) tugas menerapkan seluruh hukum-hukum syariah Islam, (2) tugas mengemban dakwah Islam di luar tapal batas negara ke seluruh bangsa dan umat dengan jalan jihad fi sabilillah

Nash kelompok pertama, misalnya nash hadits,”Maka Imam yang [memimpin] atas manusia adalah [bagaikan} seorang penggembala dan dialah yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya (rakyatnya).” (Shahih Muslim, XII/213; Sunan Abu Dawud, no. 2928, III/342-343; Sunan At-Tirmidzi, no. 1705, IV/308). Ini menunjukkan bahwa Khilafah adalah sebuah kepemimpinan (ri`asah/qiyadah/imarah). Adapun yang menunjukkan bahwa Khilafah bersifat umum untuk seluruh kaum muslimin di dunia, misalnya hadits Nabi yang mengharamkan adanya lebih dari satu khalifah bagi kaum muslimin seperti telah disebut sebelumnya (Shahih Muslim no. 1853). Ini berarti, seluruh kaum muslimin di dunia hanya boleh dipimpin seorang khalifah saja, tak boleh lebih. Dan kesatuan Khilafah untuk seluruh kaum muslimin di dunia sesungguhnya telah disepakati oleh empat imam madzhab, yakni Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad, rahimahumullah (Lihat Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, V/308; Muhammad ibn Abdurrahman Ad-Dimasyqi, Rahmatul Ummah fi Ikhtilaf Al-A`immah, hal. 208).

Nash kelompok kedua, adalah nash-nash yang menjelaskan tugas-tugas khalifah, yang secara lebih rinci terdiri dari dua tugas berikut :

Pertama, tugas khalifah menerapkan seluruh hukum syariah Islam atas seluruh rakyat. Hal ini nampak dalam berbagai nash yang menjelaskan tugas khalifah untuk mengatur muamalat dan urusan harta benda antara individu muslim (QS Al-Baqarah:188, QS An-Nisaa`:58), mengumpulkan dan membagikan zakat (QS At-Taubah:103), menegakkan hudud (QS Al-Baqarah:179), menjaga akhlaq (QS Al-Isra`:32), menjamin masyarakat dapat menegakkan syiar-syiar Islam dan menjalankan berbagai ibadat (QS Al-Hajj:32), dan seterusnya.

Kedua, tugas khalifah mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh dunia dengan jihad fi sabilillah. Hal ini nampak dalam banyak nash yang menjelaskan tugas khalifah untuk mempersiapkan pasukan perang untuk berjihad (QS Al-Baqarah:216), menjaga tapal batas negara (QS Al-Anfaal:60), memantapkan hubungan dengan berbagai negara menurut asas yang dituntut oleh politik luar negeri, misalnya mengadakan berbagai perjanjian perdagangan, perjanjian gencatan senjata, perjanjian bertetangga baik, dan semisalnya (QS Al-Anfaal:61; QS Muhammad:35).

Berdasarkan dua kelompok nash inilah, dapat dirumuskan definisi Khilafah secara lebih mendalam dan lebih tepat. Jadi, Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum muslimin seluruhnya di dunia, untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam dan mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh dunia. Definisi inilah yang telah dirumuskan oleh Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani (w. 1398 H/1977 M) dalam kitab-kitabnya, misalnya kitab Al-Khilafah (hal. 1), kitab Muqaddimah Ad-Dustur (bab Khilafah) hal. 128, dan kitab Asy-Syakshiyyah Al-Islamiyah, Juz II hal. 9. Menurut beliau juga, istilah Khilafah dan Imamah dalam hadits-hadits shahih maknanya sama saja menurut pengertian syar’i (al-madlul asy-syar’i).

Definisi inilah yang beliau tawarkan kepada seluruh kaum muslimin di dunia, agar mereka sudi kiranya untuk mengambilnya dan kemudian memperjuangkannya supaya menjadi realitas di muka bumi, menggantikan sistem kehidupan sekuler yang kufur saat ini. Pada saat itulah, orang-orang beriman akan merasa gembira dengan datangnya pertolongan Allah. Dan yang demikian itu, sungguh, tidaklah sulit bagi Allah Azza wa Jalla.

wassalam


Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 13:33 | Permalink | 0 comments
Jumat, 07 September 2007
Kisah Penderitaan Dari Guantanamo
Muslim yang di penjara kepulauan Karibia itu diperlakukan laksana hewan. Sementara hak-hak agama mereka dilecehkan. Tapi mahkamah Tuhan kelak mencatatnya

Hampir setahun disekap seperti binatang, Moazzam Begg dikeluarkan dari Guantanamo. Warga Inggris itu ditangkap di Afghanistan saat melakukan berbagai kegiatan kemanusiaan untuk membantu bangsa yang terus-terusan berusaha dijajah orang itu. Tanpa proses hukum apa-apa ia disekap dan dibawa ke penjara itu selama hampir 2 tahun ini.

“Sampai hari ini, saya masih belum tahu, kejahatan apa yang saya lakukan. Saya mulai kalah melawan depresi dan keputusasaan,” katanya sesudah bebas. Menurut pengacaranya, Clive Stafford Smith, akhirnya kliennya memang “mengaku” terlibat rencana-rencana Al-Qaidah untuk ikut menyiapkan pesawat yang akan diledakkan, dan menyebarkan virus Anthrax di gedung parlemen Inggris. Namun, Smith yang membela semua warga Inggris di Guantanamo, menegaskan pengakuan itu terpaksa dilakukan.

"Jika Anda disekap sendirian selama berbulan-bulan, Anda akan melakukan apa saja agar bisa keluar,” katanya. “Bagian dari ‘Dunia Ajaib Alice’ ini, jika Anda ingin segera dibawa keluar untuk diadili, dan didampingi pengacara, maka Anda harus mengaku bersalah dulu.”

Moazzam termasuk enam orang pertama yang dikeluarkan dari Guantanamo, dan mendapat kepastian akan diadili. Kepastian untuk diadili adalah sejenis harta karun termahal di Guantanamo. “Kami pernah diberi tahu, semua yang masuk ke sana akan mendekam selama 150 tahun,” kata Suleiman Shah, 30 tahun, bekas pejuang Thaliban dari Kandahar yang sempat merasakan Guantanamo selama 14 bulan. Mungkin saja ungkapan itu merupakan intimidasi dari interogator, tapi efektif.

"Saya pernah mencoba bunuh diri,” ujar Shah Muhammad, 20 tahun. Pemuda Pakistan ini ditangkap di utara Afghanistan Nopember 2001, lalu diserahkan kepada serdadu Amerika dan diterbangkan ke Guantanamo January 2002. "Empat kali saya mencoba bunuh diri, karena jijik dengan hidup saya.”

"Bunuh diri bertentangan dengan Islam," tambahnya, "tapi hidup di sana sangat sengsara. Banyak yang melakukannya. Mereka memperlakukan saya sebagai penjahat, padahal saya tidak bersalah. " Shah Muhammad sudah dilepas dan dikembalikan ke Afghanistan. Tentu saja ia akan terus di bawah pengawasan intelijen.

Dalam waktu 18 bulan sejak kamp tahanan itu dioperasikan Januari 2002, sudah terjadi lebih dari 28 kali usaha bunuh diri, tidak satupun berhasil, tapi satu orang diantaranya kini masih koma dengan jaringan otak yang rusak.

Pangkalan militer di Teluk Guantanamo itu luasnya 117 km per segi. Di dalamnya ada “Penjara Delta” atau biasa juga disebut “Kamp Sinar-X” yang merupakan instalasi militer AS di kepulauan yang menyatu dengan Kuba itu. Meskipun sepenuhnya dikendalikan AS, tanah di ujung timur Kuba itu sendiri sebenarnya bukan milik resmi AS. Sejak tahun 1903, kedua negara “bersepakat” memberikan AS otoritas penuh untuk mangkal di situ dengan membayar 2.000 keping emas setiap tahunnya, kini setara US$ 4.085, tak peduli inflasi tak peduli rezim berganti, sampai kiamat harganya tetap segitu.

Jumlah seluruh tahanan yang ada di dalam “Kamp Sinar-X” hingga kini 660 orang berasal dari 44 negara, semua terkait dengan tuduhan sebagai bagian dari terorisme internasional. Sebagian besar adalah pejuang Thaliban yang ditangkap di Afghanistan berasal dari berbagai bangsa, terutama Pakistan dan Afghan.

Proses hukum

Setelah dua tahun disekap tanpa proses pengadilan, David Hicks, satu dari dua warga Australia di Kamp Sinar-X akhirnya ditekan untuk mengaku terlibat dalam konspirasi terror. Pentagon secara resmi mengutus penasihat hukum militer Mayor Michael Mori, untuk mendesak pemuda berusia 28 tahun itu untuk mengaku saja. Jika tidak, tak akan pernah ada pengadilan.

Pengacara Hicks dari Australia Stephen Kenny, pernah mengatakan kepada para wartawan di New York: “Kalau kesepakatan itu terjadi, saya menduga kami akan berhadapan dengan komisi militer. Tapi jika Hicks menolak, maka ia kehilangan kesempatan keluar dari sana dan diadili.”

Kenny, merupakan pengacara sipil pertama yang diberi kesempatan mengunjungi Teluk Guantanamo, dan mengaku berjumpa dengan Hicks selama 5 hari berturut-turut. Pengacara yang mewakili keluarga Hicks sejak akhir 2001 ini tidak menjalankan fungsinya untuk memproses secara hukum. Ia hanya jadi semacam konsultan bagi Mayor Mori yang misinya lebih jelas: mendesak Hicks mengakui sesuatu yang selama ini ditolaknya, yaitu keterlibatan dalam gerakan terorisme. Kenny tidak diperkenankan menjumpai warga Australian lain yang juga di penjara itu, Mamdouh Habib.

Sebagaimana sebagian besar tahanan di sana, Hicks ditangkap oleh pasukan Aliansi Utara di Afghanistan Desember 2001, lalu dijual kepada militer AS, dan diterbangkan —dengan mata mulut telinga tertutup, tangan dan kaki terikat erat— ke penjara ini Januari 2002. Selama dua tahun, Hicks terus-terusan diinterogasi oleh serdadu militer AS, dan tidak diberi kesempatan menghubungi keluarga dan pengacara.

Kegiatan sehari-hari

Seluruh tahanan baru di Guantanamo masuk dulu ke Kamp Tiga, unit dengan tingkat keamanan tertinggi. Sel-sel di unit ini berukuran 2 x 2,4 meter, dilengkapi kloset jongkok, wastafel logam, dan alas tidur yang menyatu permanen dengan dinding kawatnya.

Setiap tahanan baru langsung mendapat jatah celana pendek, celana panjang, dan dua kaos, semua berwarna oranye menyolok, alas kaki untuk mandi, handuk, pasta gigi, sampo, sajadah, topi haji warna putih, sebuah Al-Quran, dan alas tidur tanpa bantal.

Dua kali seminggu, para tahanan diberi jatah 20-30 menit untuk mandi dan gerak badan. Menurut laporan TIME, para serdadu AS penjaga bercerita, bahwa para tahanan menghabiskan sebagian besar waktunya dengan membaca Al-Quran dan menghadapi interogasi. Sebuah tanda panah kecil menunjuk arah qiblat; dan adzan dikumandangkan lima kali sehari lewat pengeras suara ke seantero penjara. Fasilitas-fasilitas terakhir ini diberikan setelah beberapa tahanan melakukan mogok makan selama lima hari.

Bekas tahanan asal Pakistan Salahuddin mengisahkan, sebagain tahanan yang bisa berbahasa Inggris mencoba memperkenalkan Islam kepada para serdadu AS yang menjaganya. “Sebagian dari mereka ada yang tertarik juga, bahkan mulai belajar mengeja Quran,” katanya.

Para penjaga melakukan patroli ke seantero penjara yang meliputi 48 unit sel, dengan rute yang diatur sedemikian rupa agar bisa melirik setiap sel tiap 30 detik. Serdadu wanita merasa pekerjaan menjaga penjara ini lebih berat dibanding para prianya. “Bikin stres! Kebanyakan para tahanan menolak melihat wanita, dan bahkan seperti enggan menerima makanan jika kami [serdadu wanita] yang mengantar,” kata Rebecca Ishmael.

Beberapa penjaga mengaku pernah dilempari kotoran oleh para tahanan. Sebaliknya, para tahanan punya banyak cerita mengerikan tentang hukuman yang mereka terima. Mohammed Sagheer, 52 tahun, seorang da’i Pakistan yang telah dikeluarkan dari Guantanamo mengajukan tuntutan hukum kepada pemerintah AS karena telah “memenjarakan dirinya tanpa alasan”. Ia menuntut ganti rugi sebesar US$ 10,4 juta dan menuduh para penjaga Guantanamo menggunakan obat untuk mengendalikan para tahanan.

“Mereka kasih kita tablet yang akan membuat kita tak sadar. Saya sembunyikan tablet-tablet itu di bawah lidah, lalu membuangnya begitu penjaga tidak melihat,” katanya. Sagheer mengaku dua kali dihukum di sel isolasi yang gelap karena meludahi penjaga, yang menurutnya telah memprovokasinya dengan melempar Qur’an dan memukulinya.

Jika berkelakuan baik, para tahanan akan dipindah ke Kamp Dua, lalu, Kamp Satu, dengan harapan mendapat fasilitas baru yang lebih manusiawi. Air mineral dalam botol, waktu yang lebih lama untuk mandi dan gerak badan. Tidak lagi berpakaian oranye menyala, para tahanan diberi kaos, gamis, dan topi serba putih.

Beberapa organisasi HAM mengangkat keadaan di penjara Teluk Guantanamo itu juga mengenai status hukum para tahanan yang tidak jelas. Pihak militer Amerika terus menerus menolak status mereka sebagai tawanan perang, walaupun sebagian besar ditangkap di medan pertempuran di mana mereka hanya punya satu pilihan, menjalankan perintah atau mati. Selama masih berada di Guantanamo, seorang tahanan tidak akan pernah mendapatkan hak untuk didampingi pengacara. Ini memang hukum perang rimba. Sebagian besar sudah berada di penjara itu hampir 2 tahun ini.

Setelah dibombardir tekanan dari berbagai pihak, akhirnya beberapa fasilitas yang lebih “manusiawi” kabarnya kini sudah ditempatkan di Guantanamo. Yang paling merasakannya diantaranya tiga orang tahanan berusia ABG, antara 13-15 tahun, yang ditempatkan di luar penjara “Kamp Sinar-X” tepatnya di salah satu bekas cottage perwira di Kamp Iguana. Pemandangannya menghadap laut. Di dalamnya terdapat dua kamar tidur yang masing-masing berisi dua ranjang, dan ruang santai dilengkapi teve dan video-player. Dapurnya dilengkapi kulkas yang selalu disuplai dengan buah-buahan dan makanan ringan. Demikian ditulis TIME.

Diantara para penjaga tahanan ABG itu adalah Sersan ‘P’, yang sebagaimana sebagian besar penjaga lainnya menutupi nama di dada kanannya dengan silotip, sehingga para tahanan tak akan pernah bisa mengidentifikasi mereka sampai kapanpun. Sersan ‘P’ ini bahkan menolak nama belakangnya ditulis oleh wartawan yang mewawancarainya.

Bila tidak sedang menjadi tentara, Sersan ‘P’ bekerja sebagai guru sekolah menengah. Ia dipilih bersama lainnya dan diwajibmiliterkan karena punya pengalaman kerja menangani remaja. “Kami mengajarkan mereka matematika dan sains,” katanya. “Para ABG itu cepat sekali belajar bahasa Inggris. Kami main sepakbola, voli, dan kehilangan beberapa bola yang jatuh ke laut.” Bekas cottage yang ditempati tahanan ABG itu halamannya di tepi jurang yang langsung berbatasan dengan laut.

Kepada TIME para perwira penjaga mengatakan kebanyakan tahanan malah bertambah gemuk sejak mereka tiba di penjara ini. Di dapur penjara, di mana makanan untuk tahanan dimasak bersama makanan untuk para penjaga terdapat berkardus-kardus pisang dan rotu pita (makanan khas Afghan, Pakistan) siap disajikan. Roti, susu, sayur-mayur dan buah –pisang, apel, pir atau kurma—selalu ada dalam daftar menu. Para jurumasak banyak menggunak an bumbu kari –sarapan pagi kari telor, makan malam ayam kari bakar.

Jalan panjang

Gambar-gambar yang sangat mengagetkan dunia, mengenai bagaimana para tahanan diperlakukan beredar di awal tahun 2002 silam. Kondisi mereka lemah, dalam pakaian oranye yang menyala, mata, mulut, dan telinga disekap, kedua tangan dan kaki dirantai. Sel-selnya seperti kandang ayam. Kawat-kawat berduri melintang ke sana kemari siap merobek kulit dan daging.

Tak ada yang tahu pasti dan merasakan apa yang sekarang terjadi di dalam penjara. Yang jelas hingga hari ini status hukum mereka belum kunjung jelas. Banyak diantara mereka hanya menjadi komoditi para penguasa perang di Afghanistan Utara, dijual ke militer Amerika, seperti yang dialami Ustadz Abubkar Baasyir di tingkat lokal Indonesia.

Sementara semua proses fana ini berlangsung, Mahkamah Yang Maha Agung terus mendengar, mencatat, dan akan menyiapkan pengadilan yang sesungguhnya kelak.

Sumber : Hidayatullah.com

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 12:23 | Permalink | 0 comments
Ketua Fraksi PKS DPR, Mahfudz Sidik : Menegakkan Khilafah Itu Penting
Semua gerakan Islam meyakini bahwa penegakan khilafah adalah penting. Demikian menurut Ketua Fraksi PKS DPR, Mahfudz Sidik. Perbedaan yang prinsip antara konsep khilafah dengan kepemimpinan yang lain (non Islam): Pertama, khilafah Islamiyah itu adalah kepemimpinan yang disepakati, satu kepemimpinan yang berdasar kepada syariat dan misi Islam. Ada aturan-aturan tentang bagaimana kepemimpinan yang mengikat. Bukan saja pemimpinannya tapi juga rakyat meneguhkan loyalitasnya kepada para pemimpin itu. Tapi dasar ikatan kepemimpinan itu harus betul-betul berlandaskan dan sesuai ajaran Islam.

Kedua, kekhalifahan Islam ini adalah kekhalifahan untuk kemudian mendayagunakan semua potensi umat Islam untuk kepentingan seluruh negeri-negeri Islam. Karena itu tak boleh lagi ada Negara Islam yang terjebak pada nasionalisme sempit pada kepentingan pembangunan lokal. Tapi bagaimana kemudian berbicara memajukan umat dan mendayagunakan potensinya untuk kepentingan umat Islam dunia. Artinya gerakan-gerakan itu bagaimana mendayagunakan potensi dengan berbagai cara untuk kemajuan bersama, tidak bergerak sendiri-sendiri, dan terjebak pada paham nasionalisme yang sempit.

“Konsep khilafah ini adalah salah satu format kepemimpinan Islam yang bersifat alamiyah (global-red). Khilafah adalah perwujudan konsep Islam yang memiliki misi rahmatan lil 'alamin. Selain secara historis Rasulullah dan para penerusnya juga telah melakukan eksistensi dakwah tentang Islam, karena itu Islam tersebar di hampir seluruh wilayah dunia. Saya kira ini bukan hanya warisan sejarah tapi juga bagian dari prinsip alamiyah dari ajaran dan misi Islam, " jelas Mahfudz.

Justru yang sering ditanyakan adalah bagaimana upaya untuk menempuh cita-cita khilafah itu sendiri. Dalam pandangan alumni FISIP UI ini, tentu saja harus berangkat dari upaya-upaya menegakkan kepemimpinan Islam di skala lokal. Dalam konteks negara-negara muslim yang ada di berbagai kawasan.

"Artinya itu menjadi icon atau kesiapan negara-negara muslim itu memiliki konsensi (kesepakatan) untuk menegakkan khilafah Islamiyah. Sekarang ini proses panjang yang harus dilalui oleh bukan hanya gerakan Islam tapi juga pemimpin Islam di berbagai negeri muslim adalah menegaskan eksistensi pemerintahan Islam di masing-masing Negara dan perlunya mewujudkan kepemimpinan Islam itu di Negara muslim, " katanya.

Dengan demikian, bila masing-masing negara sudah mengupayakan pemerintahan yang Islami, tegaknya khilafah itu sudah dekat. Itu yang menurut Mahdfudz Sidik perlu dipahami. Jadi hematnya, agenda khilafah ini bukan agenda domestik semata. "Karena itu sebetulnya keberadaan negara-negara muslim (daulah Islamiyah) adalah satu realitas yang kini ada. Meski pun masing-masing negara berbeda dari sisi kepemimpinan, penerapan syariahnya itu berbeda satu dengan yang lain, " terangnya.

Singkatnya, memulai proses khilafah itu bisa dari masing-masing negara. Kuncinya adalah ukhuwah. Harus ada koordinasi antar pemimpin negara-negara yang akan mewujudkan khilafah ini.

Sekarang ini memang orang bisa saja melihat sudah ada forum kerjasama semacam OKI. Persoalannya, lembaga ini harus mendapat pengakuan forum. Forum komunikasi dan koordinasi yang cenderung politis, sudah ada agenda yang jelas dan berkesinambungan. Paling tidak ada model kepemimpinan bersama yang jelas. "Itu baru bisa kita lakukan ketika pemimpin-pemimpin Islam meneguhkan kembali komitmennya untuk mewujudkan keadilan dan menegakkan agama (iqomatuddin), jika kepahaman ini tertanam bersama maka langkah menuju ke sana lebih mudah, " tegas Mahfudz Sidik.

Bagaimana dengan Indonesia, apa format penegakan syariat Islam konteks Indonesia yang pas? Umat Islam Indonesia, masih kata Mahfudz Sidik, memiliki pengalaman sejarah sendiri. Ketika penegakan syariat Islam lewat jalur formal sulit dilakukan, ketika kondisi kultural masyarakat belum berorintasi kepada Islam, solusinya adalah melakukan secara sistemik upaya dakwah Islam, membangun kesadaran dan membangun orientasi masyarakat kepada Islam. Agar ada kebutuhan masyarakat terhadap ajaran Islam.

Pada saat yang sama ada gerakan-gerakan Islam yang bekerja untuk mengadvokasi ajaran Islam ke dalam lembaga-lembaga formal di republik ini. "Jika dua arus ini ketemu, arus kultural (informal) dan struktural (formal), maka perubahan-perubahan ke arah penegakan syariah Islam itu akan lebih mudah dibanding gerakan yang dilakukan hanya oleh salah satu arus saja, " paparnya lagi.

Karena Khilafah perkara global maka gerakan menegakkannya harus berjalan simultan alias tidak bisa parsial. Karena itu sangat penting bahwa elemen umat yang bergerak di dua arus ini (Kultural dan struktural) harus saling bertemu, berkomunikasi untuk saling bekerjasama dalam hal yang disepakati dan toleran terhadap perbedaan yang furu. Bukannya malah saling menegasikan (menafikan/meniadakan) atau saling melemahkan satu sama lain.

"Saya kira komunikasilah yang harus kita kembangkan. Bila komunikasi terbangun baik, maka kita bisa menempatkan perbedaan pada ruang toleransi yang memadai menuju persamaan-persamaan untuk kita sepakati, " ujarnya.

Sumber : eramuslim.com


Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 12:12 | Permalink | 0 comments
Polemik Masuknya Islam ke Sulsel
Dalam seminar yang dilaksanakan oleh Center for Middle Eastern Studies, sempat dipertanyakan kapan tepatnya Islam masuk di Sulsel

Sejarah tentang kali pertama masuknya ajaran agama Islam di Sulewesi Selatan (Sulsel) masih menjadi perdebatan hingga kini. Banyak kalangan masih mempertanyakan penetapan masuknya Islam pada 9 September 1607.

Pertanyaan tersebut mengemuka pada acara Seminar Internasional dan Festival Kebudayaan Islam yang dilaksanakan oleh Center for Middle Eastern Studies, Divisi Ilmu-ilmu Sosial & Humaniora, Pusat Kajian Penelitian Unhas di Gedung Iptek dan Seni Unhas, Makassar, Jumat (7/9/) siang.

Bagaimana mungkin Islam yang baru dikenal langsung bisa mencetak ulama sekaliber Syekh Yusuf?,” tanya budayawan nasional Zawawi Imron dalam acara tersebut.

Menurutnya, adalah hal yang riskan bila Islam yang masuk di Sulsel tahun 1607 langsung melahirkan ulama pada tahun 1660-an.

Zawawi Imran hadir dalam seminar ini dalam kapasitasnya sebagai budayawan Islam (religius). Dalam kesempatan tersebut Zawawi tampil membacakan puisinya yang berjudul “Dari Sulawesi Selatan ke Afrika Selatan.”

Menanggapi pertanyaan Zawawi, Ketua Panitia Seminar, Mustari Bosrah mengemukakan, “Pertanyaan dasar inilah yang menggungah kami untuk menggelar seminar dalam membahas masalah tersebut”.

Menurut Sekretaris Panitia Seminar, Supa Atha’na, pelaksanaan seminar ini juga dipicu oleh realitas menguatnya geliat penegakan syariat Islam di Sulsel yang dimotori oleh KPPSI dan HTI.

“Ada indikasi bahwa upaya penegakan syariat islam yang sekarang sedang bergulir tidak pernah mencoba untuk melihat jejak penyebaran Islam di masa lalu, padahal sebuah bangsa yang besar tidak boleh melupakan sejarahnya kan?,” ungkap Supa.

“Kita bukannya tidak sepakat dengan upaya ini, tetapi kita perlu untuk melihat kembali masa lalu penyebaran Islam di Sulsel, karena diakui atau tidak, mereka berhasil menyebarkan Islam,” lanjutnya.

Supa melanjutkan, seminar ini memang tidak akan memberikan penyelesaian akhir atas berbagai fakta sejarah yang masih kabur terkait dengan masuknya islam di Sulsel.

“Minimal seminar ini akan memunculkan fakta-fakta baru, meskipun mentah untuk memicu penyelidikan yang lebih serius dimasa yang akan datang”, pungkas Supa.



Pahlawan Nasional

Sebagaimana diketahui, Syekh Yusuf adalah seorang ulama asal Sulawesi yang dihormati warga Afrika. Ulama yang nama lengkapnya Tuanta Salamka ri Gowa Syekh Yusuf Abul Mahasin Al-Yaj Al-Khalwati Al-Makassari Al-Banteni atau lebih populer dengan sebutan Syekh Yusuf adalah putra Nusantara, namanya justru berkibar di Afrika Selatan.

Meski sejak tahun 1995 namanya tercantum dalam deretan pahlawan nasional, berdasar ketetapan pemerintah RI, namun ia juga masuk sebagai seorang pahlawan di Afrika.

Syekh Yusuf dianugerahi penghargaan Oliver Thambo, yaitu penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Afrika Selatan.

Ia bahkan dianggap sebagai sesepuh penyebaran Islam di negara di benua Afrika. Tiap tahun, tanggal kematiannya diperingati secara meriah di Afrika Selatan, bahkan menjadi semacam acara kenegaraan.

Bahkan, Nelson Mandela yang saat itu masih menjabat presiden Afsel, menjulukinya sebagai 'Salah Seorang Putra Afrika Terbaik'.

Di Sri Lanka, Syekh Yusuf tetap aktif menyebarkan agama Islam, sehingga memiliki murid ratusan, yang umumnya berasal dari India Selatan. Salah satu ulama besar India, Syekh Ibrahim ibn Mi'an, termasuk mereka yang berguru pada Syekh Yusuf.

Sumber Hidayatullah.com


Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 12:06 | Permalink | 0 comments
Buletin Suara pembebasan, tgl.7 / Sept / 2007, Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Bulan Ramadhan bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan Allah SWT sebentar lagi datang. Shaum atau ibadah puasa bulan Ramadhan adalah salah satu aturan Allah untuk mengantarkan kaum muslimin menjadi manusia bertaqwa (lihat TMQ. Al Baqarah.183).
Namun, sayang, dalam pelaksanaannya, Ramadhan yang sejatinya menjadi bulan ibadah sekaligus syi'ar kesatuan umat itu ternoda oleh seringkali berbedanya awal dan akhir Ramadlan.

Perbedaan itu konon merupakan masalah lama yang acap kali terjadi di dunia Islam, antara satu negara dengan negara lain, bahkan satu kota dengan kota lain.
Namun di era globalisasi informasi dan canggihnya teknologi komunikasi ini, perbedaan itu mengusik nurani kita. Betapa siaran langsung solat tarawih dari Masjidil Haram sepanjang bulan Ramadhon dapat diikuti oleh kaum muslimin di seluruh dunia, termasuk di sini RCTI, dll !!!

Tapi kenapa, tak boleh diadakan siaran langsung informasi "rukyatul hilal" awaldan akhir Ramadhan? Padahal bulan sabit (hilal) yang menjadi objek yang diamati guna menentukan masuknya bulan baru adalah bulan yang satu, ya bulan sabit yang itu-itu juga? Dimana sebenarnya letak permasalahan nya? Tulisan ini akan mengurainya dalam rangka menjaga kesatuan umat dan kesucian ibadah kita.

Rukyatul Hilal Penentu Awal Ramadlan dan Aidil Fitri

Shaum Ramadhan, Aidil Fitri, dan Aidil Adha di samping merupakan ibadah yang mengatur hubungan seorang muslim dengan Rabb-nya, sesungguhnya juga merupakan salah satu fenomena yang menjadi syi'ar kesatuan umat Islam. Kaum muslimin wajib memulai puasa dan merayakan Aidil Fitri secara serentak pada hari yang sama, semata-mata demi melaksanakan perintah Allah SWT yang telah mempersatukan mereka. Banyak sekali nash-nash yang menjelaskan hal ini. Misalnya, sabda baginda Rasulullahsaw.: “Berpuasalah kalian jika melihat hilal (bulan sabit), dan berbukalah (beraidil Fitri lah) kalian jika melihat hilal. Dan jika hilal itu tertutup debu dari (penglihatan) kalian, maka sempurnakanlah (genapkanlah) bilangan bulan Sya'ban itu tiga puluh hari.” (HR. Bukhari dari AbuHurairah).

“Sesungguhnya satu bulan itu ada 29 hari, maka janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihatnya (hilal). Dan jika hilal itu tertutup awan/mendung dari (penglihatan) kalian, maka perkirakanlah ia.” (HR. Bukhari)

Hadis-hadis Rasul ini mengandung pengertian (dalalah) yang jelas (sharih), bahawa sebab syar'ie untuk mengawali Ramadhan adalah dengan melihat bulan sabit (ru`yatul hilal) untuk bulan Ramadhan. Demikian pula sebab syar'ie untuk Aidil Fitri adalah dengan melihat bulan sabit (ru`yatul hilal) untuk bulan Syawal. Ini seperti sebab pelaksanaan solat zuhur adalah tegelincirnya matahari sebagaimana sabda Nabi saw.: “Jika matahari telah bergeser dari tengah-tengah langit, maka solatlah (zuhur)” (lihat An Nabhani, As Syakhshiyyah al Islamiyyah Juz III/43).

Hisab Sekadar Membantu

Sebagian orang salah anggap bahwa dengan majunya ilmu hisab falaki (astronomi) maka kaum muslimin tak perlu merukyat untuk menentukan awal dan akhir Ramadlan. Bahkan mereka memutarbelit kata rukyat dalam hadis tersebut sebagai “rukyat bil ilmi” yakni ilmu hisab. Tentu hal itu tak boleh dibenarkan kerana tak ada indikasi (qorinah) yang menunjukkannya. Sehingga, perkataan Nabi SAW “Jika hilal tertutup awan/mendung dari (penglihatan) kalian”, ertinya, jika kalian tidak melihat hilal dengan mata kalian (bi a'yunikum). Adapun perkataan Nabi SAW “maka perkirakanlah ia” bukan bererti merujuk pada perhitungan astronomi (hisab). Melainkan ertinya adalah menyempurnakan bilangan bulan sebanyak 30 hari. Sabda Nabi SAW:

“Dan jika hilal itu tertutup awan/mendung dari (penglihatan) kalian, maka sempurnakanlah (genapkanlah) bilangannya menjadi tiga puluh hari.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Jadi, hisab astronomi paling modern sekalipun tak boleh menjadi penentu awal dan akhir Ramadhan. Sebab, Allah SWT memerintahkan memulai puasa Ramadhan dan Aidil Fitri berdasarkan rukyatul hilal. Dan aturan ibadah itu datangnya mesti dari Dzat Yang diibadahi (Al Ma'bud), muslim pun diperintahkan untuk terikat dengan hukum syara.

Kalau begitu, apa gunanya kemajuan ilmu astronomi bagi menjalankan ibadah Ramadlan?

Mengingat realiti perhitungan hisab modern (hisab haqiqiy tahqiqiy) kecil sekali kesalahan perhitungannya, yakni sebesar 2 detik dalam 4000 tahun, dan akurasinya pun diamati observer setiap bulan melalui peralatan canggih, juga terbukti . amat jarangnya kapal dalam perjalanan tersesat, dugaan-dugaan akan gerhana bulan dan matahari yang tepat, maka perlu dipertimbangkan pengunaannya dalam membantu mencari tempat strategi untuk rukyat di seluruh dunia.

Peranan ilmu hisab sebagai alat bantu ini, lantaran secara riil ilmu hisab hanya dapat menentukan wujudnya hilal dan kemungkinan dapat terlihatnya hilal. Sebaliknya, hisab tidak dapat menetapkan terlihat atau tidaknya bulan. Tambahan lagi, seperti dinyatakan oleh para ahli astronomi, hisab tidak dapat mendeteksi iklim dan cuaca. Oleh sebab itu, betapapun akuratnya perhitungan hisab moden tetap saja tidak dapat dijadikan rujukan tentang rukyatul hilal. Dia hanya sekadar membantu memudahkan rukyat, bukan malah menolak atau mementahkan rukyat.

Jadi, baik secara syar'ie maupun berdasarkan realiti, penentuan awal dan akhir Ramadlan tidak dapat tidak harus melalui penglihatan terhadap munculnya hilal (rukyatul hilal). Rasulullah saw. bersabda: “Jika kalian telah melihat hilal, maka berpuasalah kalian. Dan jika kalian telah melihat hilal, maka berbukalah (beraidul Fitri) kalian. Jika hilal tertutup awan/mendung atas (penglihatan) kalian, maka perkirakanlah ia.”

Perintah (amr) Rasulullah SAW dalam hadis-hadis untuk memulai puasa Ramadhan berdasarkan rukyatul hilal adalah perintah wajib (lil wujub), kerana perintah tersebut adalah perintah untuk melaksanakan suatu kewajiban yang telah ditetapkan oleh firman Allah SWT :

“Kerana itu barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa.” (TMQ. Al Baqarah : 185)

Perintah (amr) untuk berbuka puasa (beraidil Fitri) berdasarkan rukyatul hilal adalah juga perintah wajib (lil wujub). Kerana Rasulullah SAW telah melarang berpuasa pada dua hari raya, iaitu Aidil Fitri dan Aidil Adha. Mengingat larangan ini adalah larangan untuk melaksanakan yang mandub atau fardhu, maka perintah Rasulullah di dalam hadis “dan berbukalah (beridul Fitri) kalian jika melihat hilal” berarti adalah perintah wajib (lil wujub).

Satu Rukyat Untuk Kaum Muslimin Sedunia

Khithabusy Syari' (seruan Allah SWT) dalam hadis-hadis di atas ditujukan bagi seluruh kaum muslimin. Tak ada beanya antara orang Syam dan orang Hijjaz. Begitu pula tak ada bezanya antara orang Malaysia dengan orang Palestin Sebab, lafaz-lafaz dalam hadis-hadis tersebut bersifat umum. Dhamir jama'ah (kata ganti berupa wawu jama') yang terdapat dalam kalimat “berpuasalah kalian” (shuumuu) dan “dan berbukalah kalian” (wa afthiruu), tertuju untuk seluruh kaum muslimin. Sedangkan lafazh “melihat hilal” (ru'yatihi) adalah isim jinsi yang di-idhafat-kan (disandarkan) pada dhamir (kata ganti). Ini menunjukkan bahwa rukyatul hilal yang dimaksud, adalah ru`yat dari siapa saja, selama dia muslim. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA :

“Bahawa seorang Arab Baduwi datang kepada Rasulullah SAW. seraya berkata, 'Saya telah melihat hilal (Ramadhan).' Rasulullah saw. lalu bertanya, 'Apakah kamu bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah?' Orang itu menjawab,'Ya.' Kemudian Nabi SAW menyerukan, “Berpuasalah kalian!” (HR. Abu Dawud, An Nasa`i, At Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas).

Oleh kerana itu, jika seorang muslim telah melihat hilal untuk bulan Ramadhan maupun Syawal, di manapun ia berada, maka wajib atas seluruh kaum muslimin untuk berpuasa ataupun berbuka (beraidul Fitri). Tidak ada perbezaan antara satu negara dengan negara lainnya, atau antara seorang muslim dengan muslim lainnya. Sebab ru`yatul hilal oleh siapa saja dari kaum muslimin, merupakan hujjah bagi orang yang tidak melihat hilal.

Menolak rukyat lantaran beza negara?

Kini kaum muslimin hidup terkotak-kotak dalam berbagai bangsa dan negara. Setiap ketua negara menetapkan awal dan akhir Ramadlannya sendiri-sendiri tanpa lagi
memperhatikan nash-nash syara'. Kalaupun mereka melihat pendapat fuqoha, nampaknya dijadikan sebagai dalil sekunder. Dalil primernya adalah kekuasaan mereka atas wilayah negara mereka, dan fanatisme mereka terhadap negara dan bangsa mereka. Padahal keterpecahan mereka dalam berbagai bangsa dan negara adalah hasil rekayasa imperialisme Barat. Bukan sekedar perasaan kebangsaan murni. Tengoklah bangsa Arab yang berpenduduk sekitar 220 juta terpecah dalam sekitar 20 negara? Kita di Malaysia prihatin atas gejala disintegrasi yang boleh memecah negara ini menjadi lebih dari 20 negara! Bukankah mestinya 1,5 milion kaum muslimin ini mestinya hidup dalam satu naungan negara?!

Mengenai ikhtilaaful mathaali' (perbezaan mathla', iaitu tempat/waktu terbitnya hilal) -- yang digunakan sebagian orang sebagai alasan (untuk berbeza dalam berpuasa dan beriadul Fitri)— adalah merupakan manath (fakta untuk penerapan hukum) yang telah dikaji oleh para ulama terdahulu. Fakta saat itu, kaum muslimin memang tidak dapat menginformasikan berita rukyatul hilal ke seluruh penjuru wilayah negara Khilafah Islamiyah yang amat luas dalam satu hari, kerana alat komunikasi yang terbatas. Namun, kini fakta telah berubah. Malahan bila konsep terbitnya bulan (mathla) digunakan menjadi tidak logik.

Dalam konsep mathla, setiap daerah yang berjarak 16 farsakh atau 120 km memiliki mathla sendiri. Ertinya, penduduk Jakarta dan sekitarnya dalam radius 120 km hanya terikat dengan rukyat yang dilakukan di Cakung, tapi terikat dengan hasil rukyat di Pelabuhan Ratu. Penduduk Surabaya dan sekitarnya hanya terikat dengan rukyat di Tanjung Kodok tanpa perlu terikat rukyat di Makassar dan seterusnya. Dengan konsep mathla' wilayah Indonesia yang jarak ujung Barat hingga ujung Timur sekitar 5200 km itu akan terbagi menjadi 43 mathla'.

Kerana kesulitan itu, menurut KH. Sahal Mahfudz, NU pindah madzhab (intiqalul madzhab). Sayangnya tidak pindah ke madzhab jumhur, yakni satu rukyat untuk seluruh dunia., melainkan membuat 'madzhab' baru yakni wilayatul hukmi, yakni . penyamaan awal dan akhir Ramadlan diserahkan pada negara nasional masing-masing, Pertanyaan kita, apa landasan syar'i yang membolehkan wilayah kaum muslimin terpecah menjadi lebih dari 50 negara, yakni lebih dari 50 wilayatul hukmi? Bukankah Islam hanya mengajarkan satu wilayatul hukmi untuk seluruh dunia, yakni yang dipimpin oleh Imam Al A'zham, alias Khalifah! Rasulullah saw. bersabda:

“Jika dibai'at dua khalifah (kepala negara penguasa wilayatul hukmi), maka bunuhlah yang kedua (jika tak mau meletakkan jabatan)” (HR. Muslim).

Bilakah umat Islam akan bersatu? .



Label: ,


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 11:22 | Permalink | 0 comments
Kamis, 06 September 2007
YAHUDI "MASUK" NUSA TENGGARA TIMUR
Kelompok perusahaan Israel menanamkan investasi di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Modalnya tak tanggung-tanggung. Rp 6 trilyun rupiah

Sikap antipati masyarakat tidak menghalangi pengusaha Israel dalam melihat peluang bisnis di Indonesia. Dalam sebuah pertemuan di Kupang Jumat (31/08) kemarin, Grup Merhav, sebuah kelompok usaha swasta asal Israel, mengumumkan akan menanamkan investasi pada pengembangan bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel dengan perusahaan budi daya tanaman jarak pagar (Jatropha curcas). Modalnya mencapai US$ 700 juta atau sekitar Rp. 6 trilyun.

Hadir dalam pertemuan itu, Presiden Direktur Merhavv Group Israel, Gideon Weinstein didampingi dua orang investor Merhavv Group Israel, masing-masing Jacgues Eshel dan Yosef Ziv serta empat orang pejabat PT Manhattan Capital, yakni Sudiro Andiwiguna, Setiawan Sudei, Ir Muhammad Ansor dan Herman Ndoen.

PT Manhattan Capital yang berbasis di Jakarta merupakan investor nasional yang bermitra dengan Merhavv Group Israel dalam pengembangan sumber daya energi biodiesel seperti jatropa beserta infrastruktur pendukungnya di sejumlah daerah di Indonesia.

"Nilai uang sebanyak itu akan kami investasikan dalam pengembangan jatropa dan kegiatan lainnya, hingga menghasilkan bahan bakar biodiesel," kata Weinstein saat rapat koordinasi dengan Bupati Kupang Drs Ibrahim Agustinus Medah beserta jajarannya di Kupang ketika itu.

Grup Merhav memang tidak tanggung-tanggung dengan rencana bisnisnya itu. Sejumlah elite perusahaan multisektor langsung terbang dari negeri Yahudi itu untuk melobi dua menteri, yakni Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Pertanian Anton Apriantono.

"Pada pertemuan itu, mereka sepakat akan mengirim tim teknis untuk menguji kelayakan lahan di Kupang," kata Ibrahim saat dihubungi wartawan koran ini dari Jakarta kemarin. Tim tersebut akan memulai pengujiannya pada Oktober mendatang.

Menurut Ibrahim, dalam konsep kerjanya, Merhav nanti membagikan bibit jarak pagar kepada petani untuk ditanam pada lahan 50 ribu hektare di lima kecamatan. Yakni, Amarasi Timur, Amarasi Barat Laut, Amarasi Utara, Amarasi Barat Daya, dan Sulamu. "Ini uji coba dengan pendanaan USD 350 juta. Kalau berhasil, mereka akan memperluas lahan menjadi 100 ribu hektare dengan total investasi USD 700 juta," jelas Ibrahim.

Merhav akan mengolah biji jarak pagar itu menjadi crude oil sebagai bahan bakar biodiesel, untuk produksi dalam negeri atau ekspor. Untuk kepentingan ekspor tersebut, Merhav meminta pemerintah Kupang membangun dermaga berskala raksasa.

Ibrahim menjelaskan, petinggi Merhav memilih Kupang karena mengikuti rekomendasi menteri ESDM dan menteri pertanian. "Selain itu, di sini (Kupang) banyak lahan tidur dan daerah kering. Ini amat cocok untuk tanaman jarak," jelas bupati yang juga ketua DPD Partai Golkar NTT tersebut.

Bupati tidak setuju anggapan bahwa lokasi tersebut dipilih untuk menghindari resistansi masyarakat Indonesia terkait dengan Israel. "Buktinya, Merhav sudah berinvestasi di kawasan di India yang masyarakatnya juga banyak yang muslim seperti kita," ujarnya.

Mengenai sumber dana Merhav untuk investasi di NTT itu, Ibrahim belum tahu. Dalam presentasi, elite Merhav tidak menjelaskan asal-usul dananya. "Mereka baru mengenalkan diri. Mereka mengaku memang lahir di Israel, tetapi berkewarganegaraan Rusia," jelas Ibrahim.

Menurut Ibrahim, terlepas halal-tidaknya sumber pendanaan, pemerintah dan masyarakat Kupang menerima kehadiran Merhav. Perusahaan itu diharapkan menjadi lokomotif kegiatan investasi di Kupang sehingga bisa mendongkrak kesejahteraan masyarakat.

Meski demikian, lanjut Ibrahim, Pemkab Kupang belum menerbitkan izin prinsip kepada Merhav. Pemerintah setempat sekadar melayani investor yang bertamu, sekaligus beriktikad baik. "Kami perlu lihat dulu. Selain itu, kami harus berkoordinasi dengan pemerintah pusat terkait dengan perizinan investasinya. Ini kan menyangkut investasi asing," ujarnya.

Menurut Weinstein, jatropha yang akan dikembangkan di Kabupaten Kupang, dalam tahap awalnya mencakup 50 ribu hektare. Dan ini didukung dengan dana sebesar 350 juta dolar AS atau sekitar Rp 3 triliun. "Kami rencanakan untuk mengembangkan jatropha di Kabupaten Kupang seluas 100 ribu hektare. Karena itu kami menyiapkan dana sebanyak USD 700 juta atau sekitar Rp 6 triliun," beber Weinstein.

Weinstein menambahkan, pihaknya mendengar bahwa ketersediaan air untuk lahan pertanian di Kupang masih menjadi masalah, namun itu bukan masalah krusial karena pengembangan jatropha bisa dengan jumlah air yang minim.

Meski demikian, urai Weinstein, pihaknya membutuhkan dukungan sarana prasarana untuk pengembangan jatropa ini seperti sebuah pelabuhan raksasa. Karena itu, Weinstein berjanji untuk segera mengirim tim khusus guna mengkaji kelayakan pengembangan jatropha di Kupang dan bagaimana nantinya bibit jatropa disalurkan kepada petani untuk dikembangkan.

Rencana masuknya investor Israel ke bisnis BBN itu dibenarkan Sekretaris Timnas BBN Evita Legowo. Bahkan, lebih jauh, Evita mengungkapkan, Israel juga berkeinginan masuk ke bisnis kilang minyak. "Israel sudah menyatakan minatnya untuk proyek-proyek terkait penambangan. Mereka siap menambah kapasitas kilang di Indonesia, baik dengan modifikasi kilang yang ada atau membangun kilang baru," ungkapnya sesudah seminar nasional BBN di Hotel Sari Pan Pacific kemarin.

Di tempat terpisah, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) M. Lutfi mengatakan, pihaknya belum diberi tahu rencana investasi Merhav di Kupang. BKPM tidak keberatan jika Merhav benar-benar menanamkan uangnya di Kupang. Syaratnya, mereka melewati prosedur perizinan resmi. "Kalau mereka mengajukan izin, ya kami akan memproses," kata Lutfi saat dihubungi koran ini kemarin.

Menurut Lutfi, Merhav harus melewati prosedur perizinan resmi sebelum menanamkan investasi di Kupang. Apalagi nilai investasinya triliunan rupiah.

Lutfi menegaskan, meski tidak punya perwakilan diplomatik, perusahaan Israel tidak dilarang berinvestasi di tanah air. "Ini sama dengan beberapa perusahaan Taiwan yang berinvestasi di sini (Indonesia)," jelas Lutfi.

Dari situs www.merhav.com dan wikipedia diketahui, Merhav adalah salah satu perusahaan swasta asal Israel yang berdiri sejak 1976. Alamatnya di 33 Havazelet Hasharon St., Herzliya Pituach.

Selama ini, bidang garapannya multisektor. Antara lain, jasa konstruksi, proyek infrastruktur, energi, pertanian, elektronik, layanan keuangan, pariwisata, kimia, dan penerbangan. Merhav juga mengendalikan kepemilikan 68 persen saham Ampal-America Israel Corporation, holding perusahaan investasi di New York, yang tercatat pada lantai bursa Nasdaq dan Tel Aviv Stock Exchange.

MUI: PEMERINTAH GEGABAH JIKA BIARKAN ISRAEL MASUK INDONESIA

Pemerintah dinilai terlalu gegabah apabila benar-benar menanggapi ketertarikan Israel untuk melakukan investasi kilang minyak dan pengembangan bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel di Indonesia.

"Dari segi politik umum, gegabah jika melakukannya, "ujar Ketua Majelis Ulama Indonesia Amidhan di Jakarta, Kamis (6/9).

Menurutnya, alasan kuat yang patut dipertimbangkan untuk tidak membuka hubungan baik dengan Israel, dikarenakan sejak Indonesia merupakan pendukung perjuangan rakyat Palestina mendapat kemerdekaannya dari penjajahan zionis Israel.

Selain itu, lanjut Amidhan, antara Indonesia-Israel tidak pernah ada hubungan diplomatik, sehingga hubungan luar negeri tidak dapat dilakukan untuk bidang-bidang lain. Bahkan, Indonesia juga pernah melakukan gerakan protes terhadap Israel beberapa waktu lalu, ketika anggota parlemen Israel datang ke Denpasar, Bali.

“Jadi saya kira, walau itu persoalan perdagangan, pemerintah harus hati hati. Karena dalam perdagangan sekarang ini, tetap berbau politik, ”tandasnya.

Amidhan menambahkan, pemerintah seharusnya dapat menolak keinginan Israel untuk melakukan investasi di Indonesia. “Kalau menteri setuju itu (perjanjian Israel) sangat gegabah. Saya melihat sikap politik kita yang bertentangan dengan Israel, ” tukasnya.

Selain itu, Konstitusi Negara RI juga menentang segala bentuk penjajahan di muka bumi. Jika Indonesia mau mengadakan kerjasama dengan Israel, maka itu berarti telah berkhianat terhadap Konstitusi Negara



Rencana Israel untuk memasuki bisnis kilang minyak dan biofuel di Indonesia ditentang kalangan DPR. Karena selama ini Indonesia tidak pernah membuka hubungan dengan negara zionis itu.

KETUA MPR HIDAYAT NURWAHID: PANGGIL MENTERI ESDM TERKAIT UTUSAN ISRAEL

"Saya akan menentang, itu pasti, saya orang pertama yang di depan, rencana itu tidak pernah ada aturannya, karena Indonesia tidak pernah memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, itu sesuatu yang sangat beresiko berat, "ujar Anggota Komisi I DPR Ali Mochtar Ngabalin saat menghadiri pembukaan Simposium Internasional, di Hotel Sahid, Jakarta.

Ia menyesalkan langkah awal yang sudah dilakukan Israel untuk mulai mengembangkan tanaman jarak pagar di Nusa Tenggara Timur.

"Saya akan usulkan parlemen untuk memanggil Presiden, kita juga perlu mengirimkan nota keberatan, "ujarnya.

Senada dengan Ngabalin, Ketua MPRRI Hidayat Nurwahid mengecam rencana Israel tersebut, dan meminta DPR untuk mengambil tindakan dengan memanggil Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro.

"DPR harus memanggil Menteri ESD, kok bisa-bisanya utusan Israel ditemui, tidak mungkin mereka presentasi kalau tidak ada kemungkinan apa-apa, masak Israel datang hanya untuk presentasi gratisan, "ujarnya.

Ia menyesalkan adanya upaya dilakukan pemerintah untuk membuka peluang bagi investor dari Israel.

Padahal, lanjutnya, jika Indonesia ingin mengembangkan bisnis kilang minyak dan pengembangan bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel itu tidak perlu bekerja sama dengan negara yang kontroversial seperti Israel.

"Bisa dengan negara-negara Timur Tengah, Arab Saudi, Iran, Kuwait, Uni Emirat, Indonesia ini kan tidak kekurangan teman baik, "ungkapnya.

Menurutnya, negara-negara itu sangat siap membantu pengembangan bisnis kilang minyak dan biofuel, dan Pemerintah tidak perlu terlibat perbedaan pemikiran dengan masyarakat.

Ketertarikan Israel untuk masuk dalam bisnis kilang dan pengembangan bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel di Idonesia telah dilaporkan utusan Israel kepada Menteri ESDM akhir Agustus lalu.

Israel juga menyatakan minatnya untuk proyek-proyek terkait penambahan kapasitas kilang di Indonesia, baik dengan memodifikasi kilang yang ada ataupun membangun kilang baru

Sumber : Hidayatullah.com
kispa.org


Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 07:23 | Permalink | 0 comments
15 Perkara yang Hilang Akibat Ketiadaan Khilafah
Berikut ini adalah sebuah transkrip percakapan telepon yang disampaikan oleh Br.Issam Amirah dari Baitul Maqdis Palestina pada Konferensi yang diselenggarakan di Illinois/Chicago AS tanggal 19 November 2000(redaksi)

Dengan nama Allah SWT. Semoga shalawat dan salam tercurah pada Rasulullah saw., keluarga dan kepada para sahabatnya. Saya bersaksi bahwa tiada yang layak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.

Hadirin yang saya hormati,

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di muka bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi). Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Hamaan beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu.” (TQS. Al Qashash, 5-6)

Saudara-saudara sekalian,

Peristiwa menggembirakan seperti itu yang akan datang pada Anda dari Bait-ul Maqdis, tempat yang telah ditunggu untuk dibebaskan Islam setelah sekian lama. Tempat ini juga di mana akan segera dikuasai Khilafah, Insya Allah.

Saudara-saudara sekalian,

Saya mengucapkan selamat pada Anda atas upaya di jantung dunia kufur agar kaum muslim bangkit bersama dengan saudara-saudara muslim di seluruh penjuru dunia, yaitu orang-orang yang sepenuhnya lakukan di jalan ini. Ini membuktikan bahwa rencana Anda telah diprioritaskan secara benar.

Saudara-saudara sekalian,

Kami menemukan dalam Al Quran,

“Kemudian berteriaklah seseorang yang menyerukan, ’Hai Kafilah, sesungguhnya Kamu adalah orang-orang yang mencuri. Mereka menjawab sambil menghadap kepada penyeru-penyeru itu, ’ Barang apa yang hilang daripada Kamu ?’ Penyeru-penyeru itu berkata, ‘Kami kehilangan piala raja dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta dan akan menjamin terhadapnya.’” (TQS.Yusuf : 70-72)

Saudara-saudara sekalian,

Sudah menjadi hal yang umum jika seseorang kehilangan sesuatu, ia tidak akan ragu memberitahukan semua hal yang berkaitan dengan sesuatu yang hilang itu. Jadi kami perlu berteriak hari ini di depan semua penguasa dunia Islam sambil berkata,” Hai Raja, Presiden, Amir dan Sultan ! Kamu pencuri !” dengan tanpa ragu-ragu. Jika mereka bertanya pada apa yang hilang ? Kita akan menjawab dengan jelas dan yakin bahwa sejak mereka mengambil kekuasaan umat Islam dengan mengikuti leluhurnya yang telah berkonspirasi dengan Inggris dan terakhir AS. Kita kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Merasa kehilangan sejak runtuhnya Turki Utsmani sekitar delapan puluh tahun yang lalu. Kita merasa kehilangan ayang amat sangat dan di luar yang kita bayangkan. Kami percaya bahwa itu akan berguna bagi kaum muslim agar mengetahui dirinya telah kehilangan sehingga akan mendorong dirinya untuk secara langsung berusaha dengan orang-orang yang bersungguh-sungguh mengembalikan khilafah dan memulai jalan hidup Islam.

Saya menghitung ada 15 hal penting yang hilang dalam umat Islam akibat mereka menyerahkan dirinya pada rejim kufur dan berhenti berhukum dengan syariat Islam. Kehilangan itu adalah :

1. Keridhaan Allah SWT. Keridhaan Allah SWT dapat dicapai dengan mengikuti seluruh hukum dan aturan-Nya dengan penuh ketaatan sebagaimana dipraktikan oleh nabi kita Muhammad saw. Dengan kata lain menegakkan negara Islam yang merujuk pada syariat baik urusan di dalam maupun luar negeri pada setiap aspek kehidupan.
2. Hilangnya Imam atau Khalifah atau Amirul Mukminin, di mana bai’at kepadanya merupakan suatu yang amat vital bagi setiap muslim. Rasulullah saw bersabda, ” Barangsiapa yang mati sedangkan di pundaknya tidak ada bai’at maka matinya jahiliyah.” Saya ingin Anda membayangkan bagaimana berdosanya kaum muslim sejak runtuhnya Khilafah Ustmani tahun 1924 yang merupakan khilafah terakhir . Akhirnya secara spontan banyak yang hilang ketika kaum muslim kehilangan legitimasi kepemimpinan ini dan kehilangan lainnya menyusul seperti bola salju.
3. Hilangnya rasa aman dan jaminan keamanan yang menyebabkan ketakutan.
4. Hilangnya ilmu pengetahuan, pendidikan dan kepedulian yang lahir dari kepibadian Islam. Hal ini disebabkan oleh begitu dominannya kebodohan dan buta hurup yang diakibatkan oleh kemiskinan dan kepribadian yang goyah.
5. Hilangnya kekuatan dan Jihad yang disebabkan kelemahan dan kekalahan.
6. Hilangnya kekayaan yang disebabkan kemiskinan
7. Hilangnya pencerahan dan pedoman yang benar yang disebabkan kegelapan dan pedoman yang salah.
8. Hilangnya kehormatan dan martabat yang disebabkan penghinaan
9. Hilangnya kedaulatan dan ketergantungan dalam membuat keputusan politik akibat ketundukan kepada negara-negara penjajah kafir barat dan timur.
10. Hilangnya keadilan yang disebabkan penindasan dan ketidakadilan.
11. Hilangnya keimanan dan keikhlasan yang disebabkan pengkhianatan penempatan orang yang salah pada tempat yang salah.
12. Hilangnya sikap dan moral yang terpuji yang menyebabkan kejahatan dan sikap yang tercela.
13. Hilangnya negeri-negeri Islam dan tempat tinggal, tidak hanya Palestina tetapi juga Andalusia (sekarang yang disebut Portugal dan Spanyol), wilayah yang luas di Asia Tengah dan Timur Jauh, Kosovo, Bosnia, Kashmir dan yang lainnya, yang menyebabkan jutaan imigran, gelombang pengungsi dan pendeportasian.
14. Hilangnya tempat suci dan akibatnya adalah kaum muslim dilarang shalat di Masjid Al-Aqsa selama 50 tahun sampai saat ini. Kami juga menyesalkan untuk mengatakannya pada Anda bahwa dua masjid lainnya pun yaitu Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Nabawi tidak di dalam kondisi yang diinginkan.
15. Hilangnya kesatuan dan integritas yang diakibatkan terpecahnya negeri kaum muslim menjadi 56 bagian yang tidak sah, dan AS tengah bekerja keras menciptakan bagian ke 57 di Palestina, ke 58 di gurun Afrika barat dan ke 59 di Timor Timur.

Itulah kehilangan yang besar untuk disampaikan pada Anda bahwa semua telah lepas dari tangan kita setelah kita banyak kehilangan.

Saudara-saudara sekalian,

Hadiah yang ditawarkan oleh raja Mesir kuno pada masa nabi Yusuf adalah seberat beban unt, tetapi hadiah bagi siapa saja yang mengembalikan semua kehilangan kita adalah jauh lebih berharga dari pemberian raja mesir itu. Hal ini sebagaimana dikatakan Rasulullah saw. ketika utusan suku Aus dan Khajzraj bertanya pada saat bai’at aqabah kedua, ”Apa imbalannya bagi Kita jika Kami mengabulkan janji untuk mendukung dan melindungi Anda dan pengikut Anda (sahabat) ? Beliau berkata, “Surga.” Mereka menjawab, “Ulurkan tanganmu pada Kami untuk membuat kesepakatan. Kami akan melewati kesepakatan kita dan Kami tidak akan mundur.”

Saudara-saudara sekalian,

Supaya masa seperti itu terjadi lagi, kita serukan kepada semua penguasa dan kaum muslim yang berpengaruh, terutama petinggi militer, kepala suku - kepala suku terkemuka dan anggota-anggota parlemen, agar mereka bekerja sama dengan kaum muslim yang bersungguh-sungguh mengembalikan khilafah. Kemudian segera meminta mereka utnuk memberikan dukungan untuk menggulingkan para penguasa Arab saat ini yang tidak sah dan mengaku negara Islam. Tujuan menegakan kembali sudah sepantasnya berpedoman pada khilafah yang berdasar pada jalan kenabian di tempat yang paling memungkinkan di dunia Islam. Kemudian menggabungkan secepatnya negeri-negeri kaum muslim yang memungkinkan dalam kekhilafahan. Umat Islam akan bisa bersatu dan Islam akan diterapkan secara penuh. Kemudian menyebarluaskan Islam kepada seluruh manusia dengan dakwah dan jihad. Negara Khilafah akan menjadi satu-satunya negara yang memiliki kekuatan terhebat. Memberikan harapan berdirinya kembali khilafah menjadi budaya Kita dan mengembalikan khilafah merupakan kewajiban setiap muslim.

Saudara-saudara sekalian

Al Tabarani meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,” Jihad terbaikmu adalah ribat dan ribat terbaikmu adalah di Asqalan.” Asqalan adalah suatu kota Palestina di Mediterania. Arti ribat adalah tinggal tepat di perbatasan dengan tujuan untuk menakut-nakuti musuh dan secara terus-menerus mengharapkan musuh takut olehnya. Para ulama berkata tidak ada seorang muslimpun saat ini melakukan ribat baik di Asqalan maupun tempat lainnya karena yang biasanya dideklarasikan oleh khalifah. Dengan kata lain tidak ada seorang muslim yang bisa berhak secara praktis melakukan ribat karena ketadaan negara khilafah.
Kaidah syara berbunyi,”Apabila suatu kewajiban tidak terlaksana kecuali dengan suatu perbuatan, maka perbuatan itu menjadi wajib.”

Untuk itu, Kita memerlukan sebuah negara Khilafah yang akan membuat garis perbatasan dengan orang-orang kafir dan seorang khalifah yang akan mendeklarasikan jihad melawan mereka, menggunakan seluruh sumber umat Islam termasuk kemampuan-kemampuan militer non aktif yang sangat melimpah. Keputusan seperti itu tidak mungkin bisa diharapkan dari pertemuan pemimpin-pemimpin Arab atau pemimpin-pemimpin muslim saat ini.

Saudara-saudara sekalian,

Gambaran itu sangat jelas dan sepengetahuan saya upaya penegakan khilafah lebih kuat sejak itu dan mereka menyebarkannya lebih luas lagi. Tanah yang subuh ditaburi benih perubahan seperti umat yang lebih siap untuk menerima khilafah dari masa sebelumnya. Khilafah menjadi sebuah permintaan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dan munculnya sangat cepat. Ditambah dengan para pendukung khilafah yang diperkirakan puluhan –mungkin ratusan juta di seluruh dunia Islam. Yang merefleksikan sebuah kekuatan opini publik pada persoalan sensitif ini. Dengan kata lain, perlawanan hebat dan penindasan yang dilakukan rejim kufur beserta kroninya melawan upaya penegakan khilafah di dalam maupun dari luar justru sebagai kabar gembira untuk menerangi umat ini.Oleh karena itu saya ingin Anda yakin bahwa suatu saat nanti akan menjadi khilafah.Insya Allah.

”Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. ” (TQS Yusuf: 21)

Semoga Allah SWT memberi Kita kesabaran dan kekompakan serta memungkinkan Anda untuk memainkan peran yang penting dalam menegakkan dan memperjuangkan datangnya negara Khilafah.

“Maka Allah adalah sebaik-baiknya penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang” (TQS Yusuf: 64])

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Issam Amireh
Abu Abdullah
Baitul Maqdis
Palestina
(Ahmad Saheed /Khilafah Magazine Desember 2000)

Sumber : www.hizbut-tahrir.or.id

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 07:18 | Permalink | 0 comments
Apakah Khilafah Islamiyyah Hanya Berumur 30 Tahun dan Selebihnya Kerajaan?
“Sesungguhnya awal adari agama ini adalah nubuwwah dan rahmat, setelah itu akan tiba masa khilafah dan rahmat, setelah itu akan datang masa raja-raja dan para diktator. Keduanya akan membuat kerusakan di tengah-tengah umat. Mereka telah menghalalkan sutr, khamer, dan kefasidan. Mereka selalu mendapatkan pertolongan dalam mengerjakan hal-hal tersebu; mereka juga mendapatkan rejeki selama-selamanya, sampai menghadap kepada Allah swt.”[HR. Abu Ya’la dan Al-Bazar dengan isnad hasan]

Hadits-hadits inilah yang dijadikan dalil bahwa masa kekhilafahan itu hanya 30 tahun dan selebihnya adalah kerajaan. Lebih dari itu, mereka juga menyatakan bahwa perjuangan menegakkan khilafah Islamiyyah hanyalah perjuangan kosong dan khayalan. Sebab, Rasulullah saw telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa masa kekhilafahan itu hanya berumur 30 tahun. Walhasil, kekhilafahan tidak mungkin berdiri meskipun diperjuangkan oleh gerakan-gerakan Islam. Kalau pun pemerintahan Islam berdiri bentuknya tidak khilafah akan tetapi kerajaan.

Lalu, apakah benar bahwa hadits-hadits di atas dalalahnya menunjukkan bahwa umur khilafah Islamiyyah itu hanya 30 tahun dan selebihnya adalah kerajaan?

Untuk menjawab pendapat-pendapat ini kita harus menjelaskan satu persatu maksud dari hadits-hadits di atas.


Hadits Pertama

Kata khilafah yang tercantum dalam hadits pertama maknanya adalah khilafah nubuwwah, bukan khilafah secara mutlak.

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fath al-Bariy berkata, “Yang dimaksud dengan khilafah pada hadits ini adalah khilafah al-Nubuwwah (khilafah yang berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip nubuwwah), sedangkan Mu’awiyyah dan khalifah-khalifah setelahnya menjalankan pemerintahan layaknya raja-raja. Akan tetapi mereka tetap dinamakan sebagai khalifah.” Pengertian semacam ini diperkuat oleh sebuah riwayat yang dituturkan oleh Imam Abu Dawud,”Khilafah Nubuwwah itu berumur 30 tahun”[HR. Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud no.4646, 4647]

Yang dimaksud khilafah Nubuwwah di sini adalah empat khulafaur Rasyidin; Abu Bakar, ‘Umar , ‘Utsman, dan Ali Bin Thalib. Mereka adalah para khalifah yang menjalankan roda pemerintahan seperti Rasulullah saw. Mereka tidak hanya berkedudukan sebagai penguasa, akan tetapi secara langsung benar-benar seperti Rasulullah saw dalam mengatur urusan pemerintahan. Sedangkan kebanyakan khalifah-khalifah dari dinasti Umayyah, ‘Abbasiyyah dan ‘Utsmaniyyah banyak yang tidak menjalankan roda pemerintahan seperti halnya Rasulullah saw, namun demikian mereka tetap disebut sebagai amirul mukminin atau khalifah.

Ada diantara mereka yang dikategorikan sebagai khulafaur rasyidin, yakni Umar bin ‘Abdul ‘Aziz yang dibaiat pada bulan Shafar tahun 99 H. Diantara mereka yang menjalankan roda pemerintahan hampir-hampir dekat dengan apa yang dilakukan oleh Nabi saw, misalnya Al-Dzahir bi Amrillah yang dibaiat pada tahun 622 H. Ibnu Atsir menuturkan, “Ketika Al-Dzahir diangkat menjadi khalifah, keadilan dan kebaikan telah tampak di mana-mana seperti pada masa khalifah dua Umar (Umar bin Khaththab dan Ibnu Umar). Seandainya dikatakan, “Dirinya tidak ubahnya dengan khalifah Umar bin Abdul Aziz, maka ini adalah perkataan yang baik.”

Para khalifah pada masa-masa berikutnya meskipun tak ubahnya seorang raja, akan tetapi mereka tetap menjalankan roda pemerintahan berdasarkan sistem pemerintahan Islam, yakni khilafah Islamiyyah. Mereka tidak pernah menggunakan sistem kerajaan, kesultanan maupun sistem lainnyan. Walaupun kaum muslim berada pada masa-masa kemunduran dan keterpurukan, namun mereka tetap menjalankan roda pemerintahan dalam koridor sistem kekhilafahan bukan dengan sistem pemerintahan yang lain. Walhasil, tidak benar jika dinyatakan bahwa umur khilafah Islamiyyah itu hanya 30 tahun. Yang benar adalah, sistem kekhilafahan tetap ditegakkan oleh penguasa-penguasa Islam hingga tahun 1924 M.


Hadits Kedua & Ketiga

Kata “al-muluuk”(raja-raja) dalam hadits di atas bermakna adalah,” Sebagian tingkah laku dari para khalifah itu tidak ubahnya dengan raja-raja”. Hadits di atas sama sekali tidak memberikan arti bahwa mereka adalah raja secara mutlak, akan tetapi hanya menunjukkan bahwa para khalifah itu dalam hal-hal tertentu bertingkah laku seperti seorang raja. Fakta sejarah telah menunjukkan pengertian semacam ini. Sebab, para khalifah dinasti ‘Abbasiyyah, Umayyah, dan ‘Utsmaniyyah tidak pernah berusaha menghancurkan sistem kekhilafahan, atau menggantinya dengan sistem kerajaan. Mereka tetap berpegang teguh dengan sistem kekhilafahan, meskipun sebagian perilaku mereka seperti seorang raja.

Meskipun kebanyakan khalifah pada masa dinasti ‘Abbasiyyah, Umayyah, dan ‘Utsmaniyyah ditunjuk selagi khalifah sebelumnya masih hidup dan memerintah, akan tetapi proses pengangkatan sang khalifah tetap dilakukan dengan cara baiat oleh seluruh kaum muslim; bukan dengan putra mahkota (wilayat al-‘ahdi).

Makna yang ditunjuk oleh frasa “dan setelah itu adalah raja-raja” adalah makna bahasa, bukan makna istilah. Dengan kata lain, arti dari frasa tersebut adalah “raja dan sultan” bukan sistem kerajaan dan kesultanan. Atas dasar itu, dalam hadits-hadits yang lain dinyatakan bahwa mereka adalah seorang penguasa (khalifah) yang memerintah kaum muslim dengan sistem khilafah. Dituturkan oleh Ibnu Hibban, “Rasulullah saw bersabda,”Setelah aku akan ada para khalifah yang berbuat sebagaimana yang mereka ketahui dan mengerjakan sesuatu yang diperintahkan kepada mereka. Setelah mereka berlalu, akan ada para khalifah yang berbuat tidak atas dasar apa yang diketahuinya dan mengerjakan sesuatu tidak atas apa yang diperintahkan kepada mereka. Siapa saja yang ingkar maka ia terbebas dari dosa, dan barangsiapa berlepas diri maka ia akan selamat. Akan tetapi, siapa saja yang ridlo dan mengikuti mereka maka ia berdosa.”

Penjelasan di atas sudah cukup untuk menggugurkan pendapat yang menyatakan bahwa sistem khilafah Islamiyyah hanya berumur 30 tahun dan selebihnya adalah kerajaan. Hadits-hadits yang mereka ketengahkan sama sekali tidak menunjukkan makna tersebut. Sistem khilafah Islamiyyah tetap berlangsung dan terus dipertahankan di sepanjang sejarah Islam, hingga tahun 1924 M. Meskipun sebagian besar khalifah dinasti ‘Abbasiyyah, Umayyah, dan ‘Utsmaniyyah bertingkah laku tak ubahnya seorang raja, namun mereka tetap konsisten dengan sistem pemerintahan yang telah digariskan oleh Rasulullah saw, yakni khilafah Islamiyyah.

Tugas kita sekarang adalah berjuang untuk menegakkan kembali khilafah Islamiyyah sesuai dengan manhaj Rasulullah saw. Sebab, tertegaknya khilafah merupakan prasyarat bagi tersempurnanya agama Islam. Tidak ada Islam tanpa syariah, dan tidak ada syariah tanpa khilafah Islamiyyah.


Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 07:12 | Permalink | 0 comments
Senin, 03 September 2007
DITABRAK BLUE BIRD, MUNARMAN KOK MALAH DITAHAN POLISI
Jakarta - Tindakan Polsek Limo, Depok, menahan mantan ketua YLBHI Munarman dinilai berlebihan. Hak Munarwan selaku korban penabrakan taksi Blue Bird diabaikan.

"Dalam kasus ini polisi memang memiliki kewenangan melakukan penahanan. Tapi melihat apa yang sudah dilakukan Munarman, penahanan tersebut berlebihan. Dia korban kok malah ditahan," kata Ketua YLBHI Patra Zen kepada detikcom, Senin (3/9/2007).

Patra menjelaskan, penahanan yang dilakukan oleh polisi berdasarkan unsur obyektif dan subyektif. Dalam unsur subyektif, seseorang bisa ditahan jika bukti awal sudah lengkap. Namun bisa juga dilakukan penundaan dengan 3 syarat, yakni tidak mengulangi perbuatan, melarikan diri dan menghilangkan barang bukti.

"Sedangkan Munarman sudah mengembalikan kunci dan STNK taksi Blue Bird. Dia juga tidak mungkin menghilangkan barang bukti dan melarikan diri. Jadi penahanan dia sangat berlebihan," ungkap Patra.

Patra juga melihat apa yang dialami oleh Munarwan sangat ironis. Posisi Munarman yang awalnya sebagai korban, kini malah sebagai tersangka.

Menurut Patra, pada 14 Agustus lalu, Munarwan baru saja membawa pulang Ana, istrinya, dari RS karena mengalami keguguran. Saat melewati sebuah jalan yang sempit, kendaraan Munarman berpapasan dengan sebuah taksi Blue Bird. Saat itu posisi mobil Munarman sudah terlebih dahulu masuk.

"Namun sopir taksi itu tidak mau mengalah. Dia masuk terus dan menabrak mobil Munarman. Istrinya sakit, hujan, dan mobilnya ditabrak, membuat Munarman emosional. Dia kemudian meminta kunci dan STNK mobil tersebut, kemudian membawanya pergi," ungkap Patra.

Selanjaman, yang kini juga aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan sejumlah pasal mengerikan. Mantan Ketua Kontras Palembang ini dianggap melanggar pasal 335 KUHP tentang perbuatan yang tidak menyenangkan, pasal 368 tentang perampasan dan UU Darurat RI 12/1951 Kepemilikan Senjata Api dan Bahan Peledak Ilegal.

Skenario macam apa ini !!!

Sumber : detik.com


Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 12:15 | Permalink | 0 comments
Mulyana Siap Beberkan Dana Asing Dalam Pilpres
Mulyana W Kusumah mengendus adanya aliran dana asing yang digunakan pasangan calon tertentu tapi belum terpublikasikan. Ia akan membukanya

Anggota non aktif Komisi Pemilihan Umum (KPU) Mulyana W Kusumah siap membeberkan dana asing atau yang tidak jelas sumber penyumbangnya saat pemilihan presiden 2004 lalu.

"Ini semata-mata untuk pembelajaran politik ke depan dan bukan dalam kerangka menyudutkan pasangan manapun. Mudah-mudahan pasangan capres yang terpilih tidak terbukti menggunakan dana asing atau sumber keuangan yang tidak jelas," kata Mulyana usai menjadi pembicara dalam diskusi bulanan yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Cianjur KPUD setempat, Senin, sebagaimana dikutip Antara.

Disebutkan Mulyana, pihaknya sempat mengendus adanya aliran dana asing yang digunakan pasangan calon tertentu namun belum sempat terpublikasikan. Karena itu ia berharap KPU bisa segera mempublikaskan secara terbuka dugaan penggunaan dana kampanye yang bersumber dari pihak asing tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban publik.

"Ya kalau dipandang perlu kita bongkar-bongkar berkas lagi. Tetapi sekali lagi bukan untuk menyudutkan siapapun tapi demi perbaikan ke depan," tegas Mulyana yang baru saja keluar dari LP Cipinang karena tersandung kasus percobaan penyuapan penyidik KPK beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, bila terbukti ada dana asing atau rekening yang tidak jelas sumbernya maka sesuai dengan aturan yang ada pasangan atau tim kampanye yang menggunakan dana seperti itu harus mengembalikannya kepada kas negara.

"Kita saat itu sebenarnya telah mendapat laporan dari akuntan publik terkait adanya dugaan dana kampanye bermasalah. Hanya memang untuk melacaknya perlu institusi yang memiliki kewenangan untuk itu," sambungnya.

Persoalan ini, kata Mulyana, sebenarnya telah menyentuh pidana sehingga tindak pidana pemilu yang dilanggar harus menggunakan pasal-pasal dalam KUHP. Karena itu, katanya lagi, meskipun Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) telah dibubarkan tidak bisa menutup penyidikan pelanggaran tindak pidana yang ada.

"Hanya memang secara hukum sangat sulit dilakukan karena masih adanya interpretasi yang berbeda terkait pengaturan tindak pidana pemilu tersebut," paparnya.

Begitulah fakta dari kebobrkan Sistem demokrasi, bahkan sampai diduga ada yang menggunakan dana dari pihak asing, yg nota bene adalah dana dari pihak yg selama ini menjajah kita, dan merampas kekayaan alam negeri kita, dana asing yg dikucurkan itu, kalau memang terbukti, pasti ada udang di balik batu, apalagi kalau bukan untuk kepentingan asing, yakni kepentingan untuk menguasai negeri kita, dan hanya menguntungkan sebelah pihak, dan merugikan negeri kita.

wallahu alam bi asshowab

Sumber : www.hidayatullah.com

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 11:31 | Permalink | 0 comments
Pemerintah Mesir Vs Al-Ikhwan: Terkait dengan Detik-Detik Suksesi?
Krisis yang terjadi antara pemerintah Mesir dan Organisasi Al-Ikhwan Al-Muslimun memasuki fase baru dari dinamika perselisihan yang selama ini terjadi. Kali ini, krisis yang terjadi bukan saja pada aksi penangkapan massif, tapi sudah berlanjut hingga pada pengadilan militer. Dan pengadilan militer atas aktifis Al-Ikhwan, kini sudah menyulut kepedulian banyak Organisasi HAM internasional.

Hingga saat sekarang, belum ada kecenderungan pemerintah Mesir untuk mengubah pola hubungannya dengan Al-Ikhwan yang disebut-sebut sebagai organisasi dakwah terluas jaringannya di dunia itu. Di lapangan politik Mesir, terus terjadi pro dan kontra yang semakin besar terkait tema siapa yang akan mewarisi pemerintahan Mesir ke depan?

Sejumlah pengamat memandang, meningkatnya eskalasi tekanan pemerintah belakangan ini yang luar biasa terhadap Al-Ikhwan, adalah terkait kuat dengan pertanyaan tadi. Dr. Dhiya Rashwan, pakar masalah Organisasi Islam di Al-Ahram Politic Studies di Mesir mengatakan, “Krisis saat ini adalah krisis yang paling tajam dibanding sebelumnya, bahkan belum pernah terjadi pada pemerintahan Mubarak. ”

Tentang hubungan krisis ini dengan paket suksesi pemerintaha Mesir, ia mengatakan, “Masalah ini masih belum jelas. Karena konferensi umum partai pemerintahlah yang akan menjawabnya. Dan acara itu baru akan diselenggarakan pada bulan Agustus ini. ”

Tampaknya politik pemerintah Mesir belum akan mengubah pola pemerintahannya terkait dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun. Sejauh ini, Pemerintah masih menggunakan cara represif menghadapi Al-Ikhwan. Ada skenario di balik kondisi ini, antara lain, keinginan kuat pemerintah untuk menghapus semua rival politiknya dengan berbagai cara. Antara lain dengan memunculkan perselisihan internal, membuat celah undang-undang yang bisa melarang peran partai politik non pemerintah, sebagaimana yang terjadi pada Hizb Amal, Hizb Al-Ghad dan Hizb Al-Ahrar.

Dari sudut ini, menurut Rashwan, pemerintah Mesir melakukan interaksi terhadap Al-Ikhwan dalam dua sisi. Pertama, memunculkan politisi pro Partai Nasional sebagai partai pemerintah, untuk mengupayakan menyingkirkan peran Al-Ikwhan secara politik. Kedua, dari sisi aparat keamanan yang terus menerus menerapkan pola lama dengan menangkap setiap orang yang diduga mempunyai hubungan dengan al-Ikhwan.

Sejumlah pengamat juga memandang bahwa sikap keras pemerintah Mesir terhadap Al-Ikhwan punya kaitan untuk melemahkan tekanan dunia internasional, khususnya sikap AS, yang belakangan menuding Mesir berada di balik banyak krisis yang terjadi di Irak dan Palestina, bahkan juga Iran. Kemenangan Hamas di Palestina dalam Pemilu, juga sangat mengejutkan bagi Amerika, sehingga mereka berpikir bagaimana agar tidak terulang kemenangan yang sama di Mesir oleh Al-Ikhwan Al-Muslimun. Hamas, adalah sayap Al-Ikhwan Al-Muslimun di Palestina.

Sementara di sisi lain, LSM internasional yang bergerak di bidang HAM kian menyoroti pola kekerasan yang dilakukan pemerintah Mesir terhadap anggota Al-Ikhwan. Misalnya saja, Human Right Group Amnesty International yang mengatakan, sangat konsern memperhatikan kasus dua orang lawyer asal Ikhwan di Mesir, yakni Ragab Abu Zeid dan Saber Amer. Beberapa hari lalu, kedua anggota parlemen Mesir yang ditangkap karena tuduhan sebagai anggota Al-Ikhwan akhirnya dibebaskan, dengan uang jaminan sebesar 1.700 dolar.

Al-Ikhwan Al-Muslimun, namun sudah lebih dari 50 tahun dilarang di Mesir, dan anggotanya mencalonkan diri untuk dipilih menjadi anggota Parlemen sebagai calon independen. Kelompok ini menguasai sekitar seperlima dari 454 kursi di Majelis Rendah Parlemen.

Sumber : eramuslim.com

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 11:25 | Permalink | 0 comments
Sudan Klaim Mampu Buat Pesawat Tanpa Awak
Menteri Pertahanan Sudan, secara mengejutkan mengeluarkan statement tentang kemampuannya membuat pesawat tanpa awak.

Menurut menteri pertahanan Sudan, negaranya saat ini sudah mampu memproduksi pesawat tanpa awak, dan kini sedang melanjutkan proyek pembuatan rudal dan sejumlah persenjataan berat.

Tak hanya itu, ia juga menyampaikan bahwa pasukan Sudan sekarang sudah meninggalkan tugas pengamanan negara, dan diserahkan pada kepolisian.

Abdurrahim Muhammad Husein, dalam keterangannya mengatakan, “Kami saat ini sedang berorientasi memproduk sejumlah persenjataan dan rudal karena Sudan telah memiliki kemampuan mandiri untuk hal tersebut. Langkah membuat persenjataan legal kini telah mengalami kemajuan besar dengan proyek yang dinamakan “nasionalisasi pembuatan senjata. ”

Masih menurut Abdurrahim, “Sejak revolusi penyelamatan di Sudan terjadi pada bulan Juni 1989, Sudan tidak memiliki apapun kecuali pabrik penyimpanan senjata. Tapi sekarang Sudan mampu memproduksi bom pesawat dan meriam.

”Lebih jauh ia menguraikan bahwa negaranya saat ini telah memilih langkah untuk berorientasi penuh membuat pesawat tanpa awak.“Sekarang kita sedang memproduksi rudal dan berbagai senjata berat. Kita berusaha untuk mandiri dalam hal senjata, ” jelasnya lagi.

Menurutnya, untuk tujuan memperkuat pertahanan dan produksi senjata, pemerintah telah mengeluarkan undang-undang yang baru bagi tentara Sudan. Milter Sudan saat ini tidak lagi disibukkan untuk urusan menjaga keamanan dalam negeri yang seluruhnya diserahkan kepada polisi. Sementara mereka akan konsentrasi penuh melakukan kajian strategi umum pertahanan negara.

"Ada sejumlah negara yang melarang penjualan senjata pada Sudan. Karena itu kita membeli 'perdamaian' dari berbagai negara yang tidak terkena larangan itu. Dari berbagai sumber senjata itulah kami memperoleh senjata. Seperti yang saya katakan, bentuk kerjasama itu dilakukan dengan tukar menukar tekhnologi. Dan karenanya, pengaturan produksi senjata perang mempunyai anggota yang ditempatkan di setiap kunjungan ke luar negeri, ” jelas Abdurrahim.

ini merupakan bukti bahwa negeri negeri Muslimpun mampu mandiri, semoga dengan Tegaknya Khilafah nantinya, seluruh potensi ummat Islam di seluruh dunia dapat disatukan, amiin...

sumber : eramuslim.com


Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 11:17 | Permalink | 0 comments
Minggu, 02 September 2007
Kecewa pada Fatah dan Hamas, Hizbut Tahrir Menjadi Trend Baru Bagi Muslim Palestina
Sekarang telah datang generasi baru yang akan menjadi alternatif HAMAS dan FATAH. Abu Abdullah mengatakan saat ini banyak dari generasi remaja dan pemuda yang ikut aktif bersama Hizbut Tahrir di Palestina.

Puluhan ribu kaum Muslim Palestina pendukung Hizbut Tahrir, sebuah gerakan Islam internasional yang menolak sistem demokrasi dan menginkan syariah tegak di penjuru dunia melalui Khilafah Islamiyyah, berkumpul di Tepi Barat (West Bank) untuk merekrut ribuan orang yang kecewa terhadap kelompok Fatah Sekuler dan gerakan Islam Hamas.

"Seseorang yang tinggal di Palestina sekarang benar-benar membutuhkan partai politik, terutama pada Islam yang satu, tidak dicapai sesuatu untuk individu." kata Syeikh Abu Abdullah seperti dilaporkan telegraph online.

Sekitar 50 orang pria, muda dan tua, berkumpul selepas sholat pada suatu malam untuk mendengarkan kajian dari syeikh di salah satu masjd. Harian telegraph melaporkan diperkirakan ratusan masjid atau bahkan ribuan di Tepi Barat dan Yerusalem Timur menjadi tempat pembinaan Hizbut Tahrir untuk setiap pekannya.

Meskipun sulit memperkirakan keanggotaan mereka, rapat akbar beberapa hari yang lalu di bulan Rajab kemarin, di Ramalah telah menghadirkan sekitar 10.000 orang. Sedangkan media yang lain menyebutkan diperperkirakan peserta yang hadir hingga 40.000 ribu orang. Poster-poster seruan terhadap khilafah mereka tempel pada setiap dinding di pusat kota. Bahkan di pusat kota Ramalah terpampang sebuah banner raksasa bertuliskan, "Khilafah: Super Power Masa Depan".

Muslim Palestina Dukung Khilafah pada Konferensi Khilafah di Ramalah Palestina"Suatu pembicaraan tentang kembalinya kepada Khilafah, pembicaraan tentang kembali kepada nila-nilai agama adalah sesuatu yang menarik untuk orang-orang." kata Majid Abu Malah, 55, seorang pengajar Bahasa Arab yang ikut serta hadir dalam rapat akbar tersebut.

Dia, seperti halnya yang lain, mengatakan bahwa dia telah cukup sudah memberikan kepercayaan kepada kedua kelompok, Hamas dan Fatah, namum mengecewakan. Ia tidak akan memilih pada pemilu mendatang. "Saya percaya pada apa yang [Hizbut Tahrir] berikan."

Banyak rakyat Palestina yang kecewa terhadap kedua kelompok tersebut yang mengakibatkan Palestina terbagi dua, satu di bawah kendali Hamas dan lainnya dikuasai Fatah. Hizbut Tahrir sendiri pernah mengingatkan kedua kelompok itu untuk sama-sama kembali kepada solusi Islam, bukan saling bunuh. Dalam selebarannya beberapa bulan lalu, gerakan yang lahir dari Masjid Al-Aqsa, 54 tahun yang lalu ini mengingatkan bahwa perilaku saling bunuh antara Fatah dan Hamas merupakan kejahatan dan pengkhianatan kepada Allah Swt.

"Solusinya bukan mengirimkan 10.000 orang dari Gaza ke Israel untuk menghapuskan pos militer. Walaupun Negara Palestina berdiri di bawah kondisi yang bagus, namun bagaimana dengan negeri yang lain? Sebuah negeri seperti Yaman dan Yordania?" tegas Abu Abdullah melanjutkan pembicaraan dengan menyebutkan dua rezim Arab yang menindas, korup dan sekular.

Gerakan ini juga tidak menghiraukan penguasaan Jalur Gaza oleh Hamas baru-baru ini. Penguasaan itu tidak cukup Islami, sebab akan semakin menambah perpecahan negeri kaum Muslim seperti halnya penguasaan Taliban di Afganistan bukanlah solusi yang Islami.

Para Pemuda Pendukung KhilafahSemakin meningkatnya aktifitas Hizbut Tahrir di Palestina ini tentu bukan untuk menyaingi Hamas. Namun menawarkan solusi jitu bagi pembebasan Al-Quds, Palestina dan negeri-negeri Muslim lainnya yang saat ini masih dijajah Barat dan antek-anteknya. The Global and Mail, sebuah koran Kanada menyebutkan Hizbut Tahrir menawarkan alternatif untuk Hamas

Hizbut Tahrir, didirikan di Al-Quds pada tahun 1953, tetapi sebagian besar telah terabaikan dan tidak terdengar di Palestina sendiri hingga beberapa tahun terakhir ini. Hizbut Tahrir mulai terasa keberadaannya di Palestina sejak bulan Rajab setahun yang lalu, ketika mereka berkumpul di al-Khalil, Ramalah, dan Gaza untuk mengingat keruntuhan Khilafah.

Sedangkan media barat senantiasa menyebutkannya sebagai gerakan yang dilarang di beberapa negeri termasuk di Arab tapi aktif di Inggris dan Australia. Hal ini merupakan hal yang wajar, karena sikap dari gerakan ini yang selalu tegas untuk menolak setiap penjajahan dan kediktatoran serta solusi-solusi semu dan menipu dari para penguasa Arab. Satu solusi yang sering ditawarkan oleh gerakan ini ialah kembali kepada syariat dengan khilafah yang akan menaungi umat manusia sedunia.

Hizbut Tahrir menyerukan kepada negeri-negeri Muslim untuk kembali kepada Khilafah Islamiyyah yang akan menerapkan syariah Islam. Gerakan ini juga mengaku tidak melakukan kekerasan dalam setiap perjuangannya.

Walaupun demikian, melihat pertumbuhan Hizbut Tahrir di Palestina yang cepat ini menjadi ancaman baru bagi Israel. "Ini sebuah ancaman besar," ketakutan Eitan Azani, seorang kolonel Israel.

Sumber : syabab.com

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 10:11 | Permalink | 0 comments
Upaya Mendirikan Khilafah
Salah satu persoalan nyata yang dihadapi umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad SAW adalah masalah kekosongan kepemimpinan Negara Islam. Hal ini memang tidak diatur dengan tegas dan rinci baik dalam Alquran maupun as-Sunnah. Tentang hal ini ada pengamat Barat yang mengatakan, Barangkali sakit beliau di akhir hayatnya telah menghalangi beliau untuk melakukan hal itu, dan seorang orientalis lain, Thomas Arnold, menyatakan, sebabnya adalah karena Nabi tidak mau melanggar adat istiadat Arab yang berlaku pada masa itu.

Menurut Dhiauddin Rais (2001), pandangan-pandangan spekulatif seperti disebutkan di atas tidak bisa diterima. Sesungguhnya faktor utama yang melatarbelakangi hal ini adalah karena adanya hikmah syariat yang besar yang dikehendaki dengan tidak dijelaskannya masalah khilafah ini dengan jelas dan rinci, yaitu agar tidak mengikat umat Islam dengan aturan baku yang kaku, yang kemudian bisa tidak cocok dengan perkembangan yang terus terjadi, serta tidak sesuai dengan situasi dan kondisi. Syariat Islam memang berkehendak agar undang-undang Islam terus bersifat lentur, sehingga memberi kesempatan kepada akal manusia untuk berpikir, dan umat Islam dapat menciptakan sendiri sistem politik dan kemasyarakatannya, sesuai dengan kebutuhan mereka yang terus berubah-ubah.

Masa 30 tahun berikutnya sejak Nabi wafat tahun 662M dan tewasnya Ali dibacok seorang Khawarij tahun 661M dikenal sebagai era Khulafaur-Rasyiddin (The Right Guided Successors) yang berada di bawah prinsip-prinsip konsultasi dan akomodasi, dimana pengangkatan khalifah dilakukan atas dasar prinsip-prinsip demokrasi yang dilakukan oleh diwan syura melalui proses musyawarah dan pilihan dengan baiat. Pada umumnya ulama maupun pengamat sepakat bahwa pada era Khulafaur-Rasyiddin ke-imamahan sangat sempurna, sebab idealisme Islam sesuai dengan realita.

Dalam menanggapi diselenggarakannya Konferensi Khilafah Internasional oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) 12 Agustus 2007, Azyumardi Azra dengan mengutip pendapat Ibnu Khaldun menyatakan bahwa khilafah sudah tamat dengan berakhirnya Khulafaur-Rasyiddin. Dengan tegas Azyumardi Azra mengatakan, semua entitas politik pasca al-Khulafa al-Rasyidun adalah kerajaan atau kesultanan, bukan khilafah.

Ada kekeliruan mendasar yang disimpulkan oleh Azyumardi Azra. Waktu Ali tewas, memang telah berakhir apa yang disebut ulama-ulama fikih sebagai Khilafat al-Kamila, atau kekhalifahan yang sempurna, tetapi bukan kekhalifahan itu sendiri. Dalam Muqaddimah pasal 28 tentang Perubahan Kekhalifahan Menjadi Kerajaan Ibnu Khaldun sesungguhnya mengatakan bahwa sejak Muawiyah mewariskan tahta kepada putranya Yazid karena didorong oleh fanatisme primordial (al-ashabiyah) bentuk kekhalifahan bermetamorphosis menjadi sistem kerajaan. Meskipun demikian Ibnu Khaldun menyatakan bahwa kekhalifahan itu secara substansi tetap ada dan bertahan. Perpindahan dari kekhalifahan ke bentuk kerajaan an sich tidak dinilai beliau bertentangan dengan syariat, sepanjang kerajaan masih melaksanakan segala aktivitasnya untuk mencapai kebenaran dan kemaslahatan bersama.

Lebih jauh Ibnu Khaldun mengatakan bahwa walaupun bentuk pemerintahan Islam telah berganti dari sistem syura ke sistem pewarisan kerajaan, namun makna-makna substansial dan tujuan-tujuan atau hakikat kekhalifahan masih utuh dan ciri Negara Islam masih berjalan. Dalam Muqaddimah beliau menyatakan, Islam masih memiliki kehormatan dan kekuatan; Islam telah menebarkan keadilan, persaudaraan, persamaan dan penjagaan kehormatan, menggantikan kezaliman, pemaksaan dan penindasan sebagaimana yang sebelumnya dilakukan oleh imperium Persia dan Romawi.

Ibnu Khaldun yang lebih fokus pada makna formal keimamahan menyimpulkan bahwa setiap sistem pemerintahan ditentukan oleh undang-undang. Pertama, pemerintahan kerajaan yang alamiah yang membawa umat pada tujuan memenuhi tujuan nafsu (al-shahwat), yang tabiat alamiahnya ditentukan oleh instink seperti berusaha mewujudkan keserakahan individu. Kedua, pemerintahan politik (siyasah aqliyah), yang didasarkan pada rasio belaka dalam mencapai kesejahteraan duniawi. Walau kedua bentuk pemerintahan ini hingga batas tertentu dapat mewujudkan keadilan dan manfaat, keteraturan, kemajuan dan kejayaan bangsa, tetapi misinya materialis dan mengenyampingkan kehidupan spritual dan hal-hal yang berkaitan dengan akhirat.

Karena kelemahan tersebut, diperlukan bentuk pemerintahan ketiga, yaitu pemerintahan kekhalifahan (siyasah diniyah), yaitu sebuah sistem yang akan membawa semua orang untuk sesuai dengan jalan agama Islam dalam memenuhi kepentingan mereka dunia dan akhirat. Model pemerintahan ketiga ini menurut Ibnu Khaldun adalah perwakilan dari Tuhan sebagai pemilik syariat dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan ajaran-ajarannya.

Hakikat kekhalifahan adalah usaha untuk mendirikan Negara Islam dan menjaga kesinambungannya. Negara yang dimaksud adalah negara yang berdiri di atas dasar agama Islam, yang melaksanakan syariat Islam, yang bertugas menjaga tanah-tanah Negara Islam, yang membela penduduk Islam, dan berusaha menyebarkan misi Islam di dunia. Dhiauddin Rais menyatakan bahwa hukum mendirikan Negara Islam tersebut adalah fardhu atau rukun. Dengan demikian umat Islam dikategorikan lengah dan dari sisi agama Islam berdosa jika tidak melaksanakan kewajiban ini. Dosa tersebut jatuh ke pundak para kepala negara, penguasa, ulama, dan cerdik pandai seperti Azyumardi Azra, karena kewajiban tersebut jatuh terlebih dahulu atas mereka, dan merupakan tingkatan pertama yang bertanggungjawab bagi tugas penjagaan umat dan agama Islam. Selamat berjuang!

sumber : http://www.hizbut-tahrir.or.id/

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 10:00 | Permalink | 0 comments
Sabtu, 01 September 2007
Festival Film Gay dan Lesbi akan Berlangsung di Jakarta
Sebuah festival film Gay dan Lesbian akan dilangsungkan di Jakarta. Katanya, festival ini sudah berlangsung enam kali. Tak satupun ulama protes

Hidayatullah.com--Festival film Gay dan Lesbian, dengan nama resmi Q-Film Festival, kembali dilangsungkan di Jakarta. Acara akan berlangsung mulai 25 Agustus hingga 2 September mendatang, tahun ini festival kaum ’hombreng’ ini sudah memasuki usianya yang ke-enam. Demikian dikutip sebuah media Jerman, Deutsche Welle.

Namun meski dianggap belum panjang usianya bagi kaum Gay, namun mengingat sulitnya situasi yang melingkupi perjuangan mewujudkan dan menjaga keberlangsungan festival, ini dianggapnya sebagai sebuah perjuangan besar.



Lebih-lebih mengingat terjadinya semacam kebangkitan kaum konservatif dan makin lunturnya toleransi masyarakat tertentu belakangan ini, kata media tersebut. Media itu juga menulis, berkali-kali festival ini mendapat hambatan, bahkan ancaman. Dengan segala bentuknya. Bahkan dari tahun ke tahun, penyelenggaraan festival ini dilakukan secara gerilya.

Gagasannya bermula pada tahun 2002, lewat sejumlah wartawan dan penulis lepas, sebagian besar Gay dan Lesbian. Festival pertamanya, dianggap berlangsung secara bersahaja. Dan peminatnya ternyata besar. Tahun-tahun berikutnya, simpati dari berbagai kalangan di seluruh dunia berdatangan.

Kendati tidak membuat panitia jadi mudah mencari dana. Buktinya, tahun ini Festival hampir batal karena kesulitan dana.

Dalam sebuah wawancara, John Badalu, Direktur dan Penggagas Q-Film-Festival mengatakan, festival ini akan diramaikan dengan peserta dari Asia. Ada dari Jepang, Filipina, Thailand, Singapura, Taiwan, Korea.

”Kita berusaha memfokuskan pada film Asia. 60 persen film Asia, selebihnya dari seluruh penjuru dunia. Termasuk Eropa dan Amerika, ” katanya.

Selain itu, festival juga akan memutar film-film Indonesia yang menyinggung ”queer” istilah lain kaum kaum Gay dan Lesbian.

Film-film itu antara lain; ”Coklat Stroberi”, “Jakarta Undercover”, “Kala” dan “Love is Cinta”. Sebagaimana diketahui, lima tahun belakangan ini, bukan hal aneh, kalangan sutradara muda Indonesia mengangkat hal-hal ganjil seperti Gay dan Lesbi.

Menariknya, meski dikenal sebagai penduduk dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia, tak satupun ulama, hatta, NU dan Muhammadiyah melakukan protes festival-festival ganjil seperti ini. [dwwd/idc/cha/www.hidayatullah.com]

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 07:26 | Permalink | 2 comments
Dubes Vatikan Kembali Kunjungi Papua
Duta Besar Vatikan (Nuncio Apostolik) untuk Indonesia, Mgr Leopoldo Girelli kembali mampir ke Papua. Sebelumnya, ia pernah datang membawa pesan Paus

Hidayatullah.com--Duta Besar Takhta Suci Vatikan (Nuncio Apostolik) untuk Indonesia, Mgr Leopoldo Girelli melakukan kunjungan pastoral (kegembalaan) ke Keuskupan Timika, Mimika, Papua sejak Jumat (31/8) hingga Senin (2/9).

"Agenda utama lawatan pastoral Dubes ke wilayah pegunungan tengah Papua itu untuk menghadiri perayaan syukur 80 tahun karya sosial dan keagamaan Gereja Katolik Mimika yang menurut rencana berlangsung Ahad (1/9) di Kokonao, Distrik Mimika Barat," kata Uskup Timika, Mgr John Philip Saklil,Pr di Timika, Sabtu.

Mgr Leopoldo Girelli tiba di Bandara Mozes Kilangin Timika, ibukota Kabupaten Mimika, Jumat (31/8) siang dengan menumpang pesawat Garuda Indonesia dari Denpasar, Bali.

Di tangga pesawat, Dubes disambut Uskup Timika Mgr John Philip Saklil Pr dan Penjabat Bupati Mimika Atanasius Allo Rafra SH, para Muspida serta pemuka agama Katolik setempat dan langsung diarak ke jantung kota Timika.

Saat turun dari mobil yang membawanya, Dubes Vatikan ini disambut tarian adat Kamoro "Ereka Tao" yang dibawakan 50 orang pria dan wanita.

Tarian ini mengisahkan seorang yang diutus Tuhan datang melihat umat dan tanah Kamoro. Ketua penari Kamoro, Gasper Aumurauw mengenakan Yauwmako, semacam topi kebesaran pada kepala Mgr Girelli Dubes Vatikan itu serta mengalungkan bunga berwarna kuning putih pada Uskup Timika John Philip Saklil.

Setiba di istana Keuskupan Timika, Dubes Vatikan juga disambut kelompok ibu-ibu penari suku Amungme.

Leopoldo Girelli mengaku sangat antusias dengan tarian adat yang dibawakan masyarakat suku Kamoro dan Amungme yang merupakan dua suku terbesar yang mayoritas warganya menganut Katolik di Kabupaten Mimika.

"Dengan cara anda membawakan tarian yang begitu sederhana, sangat asli dan alamiah menunjukkan kedekatan masyarakat Mimika dengan Tuhan dan alam," tutur Girelli.

Bukan Pertama

Ini bukan kunjungan pertama Leopoldo. Sebelumnya, wakil Vatikan ini sudah pernah ke Papua. 11 Pebruari 2007 lalu, Mgr Leopoldo Girelli yang memulai kunjungan pastoral (kegembalaan) di Pegunungan Tengah, Papua. Dia juga menyempatkan diri mengunjungi masyarakat Abmisibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, wilayah yang berbatasan langsung dengan Negara Papua Nugini (PNG).

Ia menumpang pesawat khusus jenis Pilatus Potter, didampingi Uskup Jayapura, Mgr Leo Laba Ladjar,OFM, Sekretaris Keuskupan Jayapura, Erhardus Desa dan Ekonom Keuskupan, Suster ModestaFSGM, pada Sabtu (10/2) mendarat mulus di lapangan terbang (Lapter) Abmisibil.

Saat ceramah di gereja Bintang Timur, Dubes Vatikan ini mengatakan, dirinya datang ke Abmisibil untuk membawa berkat Apostolik Paus Benedictus XVI bagi umat Katolik dan masyarakat di wilayah perbatasan ini.

"Saya mendorong kalian semua agar menghayati iman secara utuh dan hidup sebagai orang Katolik serta mencintai sesama manusia,"katanya. [ant/hid/www.hidayatullah.com]

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 07:16 | Permalink | 0 comments
Jumat, 31 Agustus 2007
Konferensi Dunia di Spanyol Membongkar Kekeliruan Teori Evolusi
Gerakan menentang teori Evolusi lahir di mana-mana. Tahun 2008 kelak, di beberapa kota Spanyol akan diselenggarakan diskusi mempertanyakan teori evolusi

Hidayatullah.com--Nampaknya gerakan dunia menyingkap sisi gelap teori evolusi tidak melemah di masa mendatang, bahkan sebaliknya. Gerakan menentang ketidak jujuran ilmiah evolusionis itu malah semakin gencar di Amerika dan Eropa.

Di tahun 2008, serangkaian konferensi telah dijadwalkan di Spanyol. Konferensi bertajuk “What Darwin Didn’t Know“ (Apa yang Tidak Diketahui Darwin) itu rencananya akan diadakan di lima kota: Barcelona (17 Januari 2008, di Hotel Fira Palace); Malaga (19 Januari 2008, di Centro Convenciones Mapfre); Madrid (21 Januari 2008); Leon (23 Januari 2008) dan Vigo, (25 Januari 2008).

Selain tidak dikenakan biaya, peserta konferensi itu akan mendapatkan DVD gratis berbahasa Spanyol, Katalan atau Inggris. DVD berisi film dokumenter berjudul Unlocking the Mystery of Life (La Clave del Misterio de la Vida). Dalam bahasa Indonesia berarti ’Menyingkap Rahasia Kehidupan’. Film ini memaparkan penemuan ilmiah terkini di bidang biologi molekuler beserta ilmuwannya yang menyingkap ketidakabsahan teori evolusi.

Serangkaian konferensi di negara beribukota Madrid itu rencananya akan dipandu Dr. Antonio Martinez, anggota PSSI asal Spanyol. PSSI adalah kependekan dari Physicians and Surgeons for Scientific Integrity (Dokter dan Ahli Bedah untuk Kejujuran Ilmiah).

Dijadwalkan, pembicara dalam konferensi yang diadakan PSSI itu adalah anggota dewan PSSI, Dr. Geoff Simmons, penulis buku What Darwin Didn't Know (Apa yang Tidak Diketahui Darwin) dan Billions of Missing Links (Miliaran Mata Rantai Yang Hilang), serta Prof. Tom Woodward, Ph.D., pengarang buku Doubts About Darwin (Ragu Terhadap Drawin) dan Darwin Strikes Back (Darwin Menyerang Balik).

Dokter Menggugat Ketidakjujuran Ilmiah

Ketidakjujuran para evolusionis yang tidak terbuka memaparkan berbagai kelemahan teori evolusi adalah yang mendorong pembentukan PSSI. Organisasi nirlaba ini berupaya mendukung penegakan kembali kejujuran dalam ilmu pengetahuan, sebagaimana dinyatakan dalam situs resminya, www.pssiinternational.com.

Lembaga yang didirikan tahun 2006 ini menyediakan wadah bagi para dokter dan ahli bedah untuk secara terbuka turut dicantumkan dalam daftar mereka yang tidak meyakini makroevolusi Darwin, teori kebetulan yang didasarkan pada peristiwa alamiah belaka (perubahan dari molekul menjadi manusia). Teori ini diajarkan sebagai fakta di hampir semua sekolah di dunia meskipun ketiadaan bukti ilmiah yang mendukungnya.

Lembaga yang anggotanya tersebar di seluruh dunia ini prihatin akan ketidak jujuran di dunia ilmiah. Pernyataan bahwa; “para ilmuwan sepakat bahwa makro-evolusi Darwin adalah fakta“ tidaklah benar menurut PSSI. Sedihnya lagi, bukti ilmiah kuat yang menentang keabsahan teori itu malah disembunyikan oleh cabang-cabang ilmu yang seharusnya mendukung bukti-bukti yang ada, ke mana pun arah kesimpulannya.

Para evolusionis bahkan sudah kelewat batas. Mereka tidak lagi memegang kebebasan berpendapat di dunia akademis. Para ilmuwan yang berpandangan tidak sejalan dengan teori makro-evolusi Darwin malah ada yang telah dicopot dari jabatannya lantaran mengijinkan atau mendukung diskusi terbuka tentang permasalahan yang mengganjal teori itu.

Konferensi dan Kegiatan lain

Selain di Spanyol, PSSI juga telah merencanakan konferensi serupa di Pennsylvania State University, AS pada musim gugur 2007 ini. Hadir sebagai pembicara Prof. Michael Behe, PhD., biokimiawan di Lehigh University, penulis buku Darwin's Black Box: The Biochemical Challenge to Evolution (Kotak Hitam Darwin: Tantangan Biokimiawi terhadap Evolusi) dan The Edge of Evolution: The Search for the Limits of Darwinism (Garis Tepi Evolusi: Pencarian terhadap Batas-Batas Darwinisme).

Selain itu, telah direncanakan pula konferensi di Lousiana State University (musim semi 2008); Costa Rica, El Salvador dan Guatemala (Agustus 2008), negara bagian Oregon dan Washington, AS (musim gugur 2008), Roma, Italia (musim dingin 2008). Konferensi serupa juga direncanakan akan diadakan di Asia dan Amerika Latin.

Sebelumnya, konferensi berjudul “Darwin or Design? Resolving the Conflict“ (Darwin atau Perancangan? Memutuskan Perseteruan), telah dilaksanakan di Sun Dome, University of South Florida, AS pada 29 September 2006, dan di Hotel Radisson, pada 30 September 2006. Acara ini dihadiri lebih dari 3.000 peserta.

Selain penyelenggaraan konferensi, seminar dan debat untuk para siswa dan masyarakat umum, PSSI dengan dukungan para anggotanya yang tersebar di 16 negara di 5 benua ini juga membagi-bagikan bahan-bahan pendidikan tentang topik penting ini kepada para siswa, mahasiswa, guru dan profesor.

Bagaimana dengan para dokter dan ahli bedah di Indonesia?

Sumber : Hidayatullah.com

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 09:04 | Permalink | 0 comments
Kamis, 30 Agustus 2007
Surat Kabar di Swedia Muat Gambar Kartun yang Lecehkan Rasulullah Saw
Umat Islam Swedia memprotes keras gambar kartun Rasulullah saw yang dipublikasikan harian Nerikes Allehanda. Harian Swedia itu memuat gambar kartun Rasulullah saw, maaf, berbadan binatang.

Tapi di sisi lain, umat Islam di Swedia menegaskan tekadnya akan mencoba mengatasi dan memperbaiki krisis ini di dalam negeri Swedia, dan tidak memblow-up berita ini ke negara lain sebagaimana kasus serupa yang terjadi sebelumnya di Denmark.

Kini, Umat Islam di Kota Orebro telah merancang sejumlah aksi demonstrasi mengecam gambar ini.

Aksi demonstrasi gelombang pertama akan dilakukan ba’da shalat Jum’at pekan ini. Umat Islam yang minoritas di Swedia menjamin aksi ini tidak akan anarkis dan akan berlangsung dengan damai.

Harian Nerikes Allehanda merupakan harian lokal yang terbit di Orebro, sebelah timur Stockholm. Harian itu memuat gambar Rasulullah saw dalam berbagai bentuk pada terbitan hari Ahad lalu. Ikatan Islam Swedia mengecam publikasi gambar tersebut.

Muhammad Khalfe, kepala Ikatan Islam Swedia mengatakan, “Kami menentang gambar itu. Tapi kami tidak ingin memperbesar masalah ini ke luar. Harian ini hanya terbit di kota kecil, dan kami menduga langkah itu mereka lakukan hanya untuk sensasi belaka untuk memancing kemarahan umat Islam. ”

Khalfe juga menjelaskan alasannya mengapa ia tidak mengangkat isu ini k e luar. “Sejumlah harian besar Swedia tidak mempublikasikan gambar-gambar itu. Ini hal yang baik. Kami tidak ingin memperbesar tema itu. Kami berharap bisa mengatasi ini secara internal. Ada banyak respon penolakan yang baik dari masyarakat Swedia sendiri, dan itu yang akan kami manfaatkan, ” ujarnya.

Sementara itu, Pusat Kebudayaan Islam di Orebro menegaskan pihaknya saat ini tengah menyusun aksi demonstrasi besar di kantor harian tersebut, pada hari Jum’at mendatang. Jamal Muhammadi, jubir Pusat Kebudayaan Islam mengatakan, aksi ini akan terus berlangsung melalui kerjasama dengan sejumlah organisasi Islam lainnya.

“Kami akan tetap menggelar aksi demonstrasi damai, dan semuanya akan berkoordinasi dengan Pusat Kebudayaan Islam di Orebro, ” jelasnya.

Ada rencana pula, kasus tersebut bakal diajukan ke meja hijau. Diuraikan oleh Khalfe, sejumlah organisasi Islam telah memikirkan hal itu. Ia mengatakan, “Kami sedang terus mempelajari usulan memejahijaukan harian tersebut dalam kasus ini. Kami akan berkumpul dengan sejumlah tokoh dari berbagai organisasi Islam pada akhir pekan ini, guna menentukan langkah yang akan ditempuh secara hukum. ” (na-str/iol/eramuslim)

Demi Etika Publikas Gambar tidak kami tampilkan,
namun bila anda ingin melihatnya silahkan browse di

sumber : http://www.swaramuslim.net

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 06:50 | Permalink | 0 comments
Bush Kembali Serang Ide Khilafah
Syabab.Com - Baru-baru ini, Presiden Amerika, George W. Bush kembali menyerang ide khilafah. Bush berjanji untuk bertarung dengan siapa saja yang mencoba mengembalikan Khilafah Islam di Timur Tengah, sebagai bagian dari "war on terror". Ini merupakan sikap pertama Bush selepas berbagai kegiatan, konferensi, dan rapat umum seputar Khilafah digelar di berbagai negeri sebulan ini.

Dalam pernyataannya pada pertemuan ke 89 legiun veteran Amerika di Reno, Nevada, (28/08), Presiden Bush mencoba untuk menghubungkan perjuangan Khilafah dengan aksi kekerasan, terutama yang terjadi di Irak.


"Dan kemudian pemikiran musuh, mengakui bahwa sebuah masyarakat bebas di Timur Tengah akan menjadi serangan utama untuk ambisi mereka untuk menyebarkan khilafah mereka di seluruh Timur Tengah, upaya untuk membuat kekerasan sektarian. Mereka membunuh yang tak berdosa yang menyebabkan orang ragu terhadap pemerintah dan koalisi."

("And then the thinking enemy, recognizing that a free society in the Middle East would be a major blow to their ambitions to spread their caliphate throughout the Middle East, tried to create sectarian violence. They murdered the innocent in order to cause people to doubt government and doubt the coalition."



"Para ekstrimis ini berharap untuk menentukan visi gelap yang sama di sepanjang Timur Tengah dengan menegakkan sebuah kekerasan dan khilafah radikal yang terbentang dari Spanyol hingga Indonesia."

("These extremists hope to impose that same dark vision across the Middle East by raising up a violent and radical caliphate that spans from Spain to Indonesia.")

Menanggapi pernyataan ini, Taji Mustafa, representatif media Hizbut Tahrir Inggris sebagai gerakan islam internasional yang giat menyerukan Khilafah tanpa kekerasan ini mengungkap makar Bush dan sekutunya

"Para pemimpin Barat telah berusaha untuk menghubungkan perjuangan Khilafah dengan kekerasan," tandas Taji Mustafa.

Padahal kata Taji Mustafa yang aktif menyerukan Islam di Ingris dan juga seorang ahli IT profesional ini menyebutkan bahwa belum juga dua pekan berlalu, 100.000 orang berkumpul untuk sebuah rapat umum di Indonesia menyerukan penegakkan kembali Khilafah--orang-orang yang hadir tidak melakukan kekerasan. Juga pertemuan di Malaysia, Lebanon, dan Sudan.

"Di seluruh dunia Islam, di sana gerakan tanpa kekerasan berjuang untuk mengembalikan Khilafah yang berarti membebaskan orang-orang dari kebrutalan dan kediktatoran Barat, yakni pemerintah Amerika dan Inggris sebagai sekutunya.", ungkap Taji.

Taji Mustafa juga mengingatkan dunia atas kebrutalan Amerika yang menyebabkan 650.000 sipil tewas menjadi korban kebiadaban Amerika. Barat selalu mencoba menancapkan ideologi kapitalisme dengan landasan sekularisme dan kebebasn dengan cara-cara kekerasan dan penjajahan. Tegaknya Khilafah itulah yang akan mengakhiri segala penjajahan terhadap kaum Muslim.

Jadi siapa sesungguhnya yang melakukan kekerasan dan membunuh orang yang tak bersalah? Ketakutan Amerika terhadap tegaknya Khilafah semakin nyata. [syabab.com]


Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 06:36 | Permalink | 0 comments
Rabu, 29 Agustus 2007
Tokoh Islam Liberal Itu Ternyata Suka Minum Bir
Datang ke Indonesia, tokoh liberal Abdullah al-Na’im tidak saja menjajakan ide-ide sekuler Barat, ia juga mempromosikan kehidupan khas Barat. Selama berkunjung ke Indonesia, Al-Naim ternyata terbiasa minum bir.

“Teman saya, panitia acara itu, kecewa dengan sikap al-Na’im. Ketika jamuan malam di hotel tempat dia menginap, rupanya dia biasa minum bir. Teman saya itu betul-betul kaget dan kecewa, ” ujar Prof. Dr. Amany Burhanuddin Lubis.

Ironisnya lagi, katanya, sikap yang ditunjukkan pemikir liberal dari Emory University, Atlanta, Georgia, U. S. A. tidak simpatik di depan umum. Misalnya, ketika jamuan malam, Al-Naim malah mengenakan celana pendek. ”Teman saya bilang dia sangat malu, ” tegasnya.

Karena itu, sambung guru besar bidang sejarah Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, banyak pihak yang menolak kehadiran al-Na’im. ”Saat datang ke UIN, Bu Huzaemah (Prof. Dr. Huzaemah Tahido Yanggo, ahli fiqh dan anggota MUI, red) bilang kepada al-Naim, Anda tidak perlu mengajari kami tentang bernegara dan bersyari’at. Kami punya cara sendiri, dan itu tidak mengganggu negara. Anda sendiri tidak punya negara, ” papar Amany menirukan.

Sementara itu, Dr. Fahmy Hamid Zarkasyi, peneliti Institute for The Study of Thought and Civilization (INSIST) menyatakan, al-Na’im tidak saja mengejek kita tentang bernegara dan bersyari’at Islam. Tapi, katanya, ia juga tidak mengakui adanya institusi ulama dan syari’ah dalam Islam. ”Ia betul-betul liberal kaffah. Ini tantangan yang harus kita hadapi, ” ujar Hamid.

Hamid mengungkapkan, ketika al-Naim dipanelkan dengan juru bicara Hizbut Tahrir Ismail Yusanto, Al-Naim menyebut Ismail Yusanto tidak mengerti masalah yang dibahas dalam buku karyanya.

sumber :

http://www.eramuslim.com/berita/nas/7829145401-tokoh-liberal-ternyata-suka-minum-bir.htm

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 12:25 | Permalink | 1 comments
Selasa, 28 Agustus 2007
Libforall.com: Situs Zionis Berkedok Islam (Berbahasa Indonesia)
Pluralisme dan Liberalisme Agama merupakan pintu masuk bagi penghancuran agama itu sendiri. Hal ini sudah menimpa agama Nasrani ratusan tahun lalu di Eropa dan Amerika, sehingga gereja di sana banyak yang kosong dan kemudian dijual. Banyak pula orang Eropa dan Amerika yang mengaku sebagai Kristiani kian lama kian sedikit dan berubah menjadi agnostik, kaum yang tidak mau tahu soal agama. Inilah buah dari Liberalisme yang melanda umat Kristiani Eropa dan AS.

Setelah itu, kaum Liberalisme dan Pluralisme yang didalangi oleh apa yang disebut-sebut Henry Ford sebagai The International Jews ini mengarahkan sasarannya ke umat Islam dunia. Indonesia sebagai negeri kaum Muslimin terbesar dunia menjadi tujuan utama gerakan penghancur agama ini. Berkedok sebagai Islam Pluralis, Islam Liberalis, Islam Damai, Islam Kultural, dan kedok-kedok lainnya, mereka mencoba mendangkalkan agama Allah ini.

Selain membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL), mereka juga melakukan promosi di dunia maya. Salah satunya, mereka membuat situs www. Libforall. Com yang awalnya (2003) hanya berbahasa Inggris namun beberapa waktu lalu telah pula diluncurkan versi bahasa Indonesia. Tujuannya apa lagi jika bukan untuk memperluas cakupan “jualannya”.



Di halaman pertama kita akan disambut dengan kalimat “LibForAll Foundation adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan dunia yang damai berdasarkan nilai-nilai luhur agama di bawah bimbingan dan perlindungan Yang Mulia KH. Abdurrahman Wahid dan para ulama lain. ”

Masih di halaman yang sama, Associated Press menulis bahwa CEO LibFor All, Holland Taylor, tengah berupaya menghimpun tokoh-tokoh Liberalis dan Pluralis ber-KTP Islam di seluruh dunia untuk membentuk satu jaringan “Muslim Moderat”. Inilah kalimatnya: “Pendiri-bersama LibForAll C. Holland Taylor sedang menghubungkan para pemimpin Muslim moderat dalam sebuah jaringan mercusuar di dalam dunia Islam yang akan mempromosikan toleransi dan kebebasan berpikir dan beribadah. ”

“Kebebasan beribadah” di sini diartikan sebagai “Walau Anda Muslim, Anda bebas memilih mau sholat apa tidak. Itu terserah kepada Anda” Sebab, bukan rahasia umum lagi jika kelompok ini orang-orangnya sering tidak sholat. Sholahuddin Wahid, adik kandung Gus Dur, pernah berkata dalam satu acara, “Saya tahu betul, Gus Dur itu tidak sholat. ”

Yang kelihatan konyol, terdapat satu kalimat di halaman “Kultur Pop” yang penuh dihiasi tulisan dan gambar band Dewa-19 pimpinan Ahmad Dhani—yang beribu kandung seorang Yahudi-Jerman—yang berbunyi: “Kata-kata “Laskar Jihad” berarti “The Warriors of Jihad. ” Ia juga merupakan nama sebuah kelompok radikal yang telah bertanggung jawab atas meninggalnya ribuan umat Kristen di Indonesia timur, Maluku dan Sulawesi baru-baru ini, dan telah mengusir setengah jutaan lainnya dari rumah mereka. ”

Yang membuat konyol bukan soal Laskar Jihadnya, karena laskar yang ini pun kita tahu betul apa kerjanya ketika tengah bergelora Jihad di Ambon. Tetapi, kekonyolan yang menganggap pihak Muslim yang harus bertanggungjawab atas matinya ribuan umat Kristen di Maluku dan Sulawesi. Padahal, yang memulai konflik, yang memulai serangan, memulai pembantaian, memulai perkosaan, memulai pengusiran, di Ambon sama sekali bukan umat Islam, tapi non-Muslim. Betapa naifnya kalimat itu.

Situs ini pun tanpa tedeng aling-aling menyatakan kelompok Islam Radikal sebagai kelompok yang diilhami Setan. Lihat saja halaman berjudul “Sebuah ‘Fatwa Musikal’ Melawan Kebencian & Terorisme Religius”.

Bendera perang telah dikibarkan oleh mereka. Genderang telah ditabuh. Umat Islam Indonesia harus dididik agar memahami dengan penuh kesadaran agar bisa menilai mana Islam yang benar dan baik, Islam yang berkiblat ke Makkah, yang Nabinya bernama Muhammad Rasulullah SAW, dan mana Islam made in Amerika yang berkiblat ke Washington dan Pentagon, serta nabinya bernama George W. Bush. Ini merupakan pekerjaan besar yang harus ditunaikan oleh orang-orang yang menyandang sebutan Ustadz dan Ulama. Tinggalkanlah paradigma bahwa umat itu komoditas atau alat untuk mendorong mobil mogok, yang didekati jika sedang diperlukan, namun ditinggal kabur ketika sudah tidak dibutuhkan.

sumber : http://www.eramuslim.com/

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 11:48 | Permalink | 1 comments
Bagaimana Seharusnya Kita Menyikapi Ospek di Perguruan Tinngi
Kampus merupakan salah satu miniatur masyarakat kecil. Di dalamnya terdapat anggota masyarakat yang cukup heterogen, mulai dari pedagang, karyawan, dosen, dan tentunya mahasiswa. Atau dari segi suku, di dalam kampus tentunya tidak hanya ada satu suku yang mendiaminya, ada banyak suku. Demikian pula dari segi agama, masyarakat sebagian besar kampus memiliki agama yang berbeda-beda. Heteregonitas ini mengharuskan kita agar dapat berkomunikasi dengan siapa saja sesuai dengan kapasitas siapa yang yang kita hadapi.

Di dalam Al Quran, Allah mengingatkan kepada seluruh manusia, apapun sukunya, apapun bangsanya, atau statusnya:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujarat : 13)

Dengan kata lain, ayat diatas bisa diartikan bahwa Allah menciptakan manusia demikian heterogen bukan untuk menunjukkan suku/bangsa/status mana yang paling mulia, dan bukan untuk saling beradu domba. Allah meluruskan bahwa heteregonitas itu adalah agar kita saling mengenal, dan ketaqwaanlah yang menjadi barometer kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT. Dan kita tahu bahwa ketaqwaan itu hanya mungkin diraih bila seseorang itu berserah diri kepada Allah (baca: beragama Islam).

Berkaitan dengan saling mengenal, ada agenda tahunan yang diadakan oleh kampus, yaitu penyambutan mahasiswa baru. Ada mahasiswa baru, berarti ada proses saling perkenalan secara massal. Dan kehadiran mahasiswa baru inilah yang membedakan kampus dengan model masyarakat kecil lainnya. Dan tidak sembarang orang dapat mendapat gelar mahasiswa, Kedatangan mahasiswa baru selalu ada setiap tahun, sedangkan dalam model masyarakat lainnya mungkin tidak demikian. Kehadiran mahasiswa baru umumnya disambut oleh kegiatan kampus yang biasa disebut sebagai ospek.

Ospek di Indonesia, dikalangan mahasiswa, sudah terlanjur dikonotasikan dengan kegiatan perpeloncoan. Di dalam sebuah ospek hampir selalu ada yang namanya mengerjai anak baru, hukuman dan penindasan. Bahkan ada yang mencapai pada taraf benturan fisik, misalnya ketika sampai jatuhnya korban nyawa mahasiswa di beberapa perguruan tinggi, misalnya di IPDN, bahkan kekerasan di IPDN, sudah tidak dapat di toleransi lagi, dan banyak pihak yang mengnginkan agar IPDN di bubarkan saja . Bahkan setelah ospekpun kadang rawan dengan tawuran antar mahasiswa, dan ini pernah terjadi, misalnya di Univesitas Negeri Makassar (UNM), seperti yang pernah ramai diberitakan media massa, tentu pihak kampus sendiri sangat tidak menghendaki hal ini.

Oleh karena itu, mari kita tolak Ospek yang identik dengan kegiatan perpeloncoan..!!!!



Ospek tersebut dilakukan dengan alasan agar mahasiswa baru lebih mengenal kampusnya, mengenal seniornya, lebih akrab, dan sebagainya. Peraturan yang sering timbul di dalam ospek adalah 1. Kakak senior selalu benar. 2. Jika kakak senior salah, maka lihat peraturan nomor satu. Dan setelah ospek berakhir, biasanya mahasiswa baru diwajibkan membentuk kepanitiaan untuk mengadakan malam inagurasi (untuk keakraban). Tujuannya mungkin bagus untuk keakraban, tapi kenyataannya seringkali tidak lebih dari penghambur-hamburan uang dan foya-foya. Demikianlah ospek yang tidak mendidik, kadang lebih cenderung mencerminkan gaya-gaya anarkis dan militerisme. Sungguh kontradiksi dengan demo-demo mahasiswa yang seringkali bersuara tolak militerisme dan anarkisme. Sunnguh selayaknya kita mengatakan menolak Ospek, karena bertentangan dengan harkat dan martabat manusia

Sebagai mahasiswa yang intelektual dan berakal sehat, harus memandang kehadiran mahasiswa baru dari sisi positifnya. Dan sebagai mahasiswa yang bermoral, kita harus memandang mahasiswa baru sebagai generasi yang harus diselamatkan, aqidahnya, ibadahnya, akhlaqnya, dan intelektualitasnya.

Kedatangan mereka yang setiap tahun ini sebenarnya memudahkan lembaga dakwah kampus untuk mengatur agenda-agendanya, terutama dalam hal usaha memberi pencerahan kepada setiap generasi (baca: dakwah untuk setiap angkatan) di kampus.

Bagi kita, mahasiswa baru bukanlah sebagai korban baru yang siap dikerjai. Kehadiran mereka memiliki arti positif bagi kita. Paling tidak ada beberapa point, arti pentingnya mahasiswa baru, yaitu sebagai berikut:

1. Mahasiswa baru berarti objek dakwah baru

Mungkin ini merupakan salah satu kelebihan dakwah kampus dengan wilayah dakwah lainnya. Betapa tidak, karena setiap tahun kita dianugerahi oleh Allah SWT ratusan bahkan ribuan objek dakwah baru. Objek dakwah baru berarti ladang dakwah baru, ladang amal. Prospek meraih pahala dan ridho-nya sangat besar di sini. Satu orang saja mendapatkan hidayah Allah SWT karena kita, maka ingatlah kabar gembira dari Rasulullah berikut ini:

Demi Allah, barang siapa yang dengan usahanya menyebabkan Allah menurunkan hidayah maka baginya itu lebih baik dari unta merah. (HR. Bukhori-Muslim). Dan dalam riwayat lain disebutkan : "Bila Allah memberikan hidayah pada sesorang disebabkan diri kita, maka itu lebih bagus dari dunia dan segala isinya".

Atau di hadits lain, Rasulullah bersabda:

"Barangsiapa yang mengajak (seseorang) kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun" (HR. Muslim, No. 2674.)

Maka bagi mahasiswa senior yang ingin mendapat ridho-Nya, tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan besar ini.

2. Mahasiswa baru ibaratkan tamu

Setiap angkatan baru bisa diibaratkan sebagai tamu yang berkunjung. Setiap tamu yang datang tentu harus kita layani. Maka sudah barang tentu aktivitas pelayanan kepada mahasiswa baru harus digiatkan. Misalnya jika mereka membutuhkan tempat kost, tunjuki tempat kost yang bagus, yang kondusif untuk tempat tinggal, kondusif untuk belajar, kondusif untuk aqidahnya, ibadahnya, dan akhlaqnya. Jika kita punya buku kuliah yang sudah tidak terpakai lagi, mungkin bisa dipinjamkan kepada mereka. Kelak buku kuliah ini akan terus turun temurun kepada adek-adek di bawah mereka (selama kurikulumnya masih relevan). Atau jika mereka butuh modul-modul / form praktikum, biasanya kita punya contohnya yang bisa dicopy.

Tunjuki pula mereka tempat-tempat yang nyaman untuk belajar. Misalnya laboratorium, perpustakaan, acara-acara seminar yang kita adakan, dan sebagainya. Dan tentunya tunjuki mereka dimana tempat ibadah, masjid atau mushola di kampus. Ajak mereka beribadah ketika adzan berkumandang. Stiker, pembatas buku, loose leaf, dan sebagainya yang berisi nasehat-nasehat, mungkin bisa juga diberikan kepada mereka agar terus ingat. Begitulah kira-kira gambaran sekilas melayani mahasiswa baru. Masih banyak lagi yang bisa kita lakukan untuk mereka.

Intinya, berikan mereka servis yang menarik dan menggugah jiwa agar mereka merasa at home dan nyaman. Selain itu berikan dorongan semangat, motivasi, petunjuk, arahan dan berbagai kemudahan dan fasilitas lainnya.


3. Mahasiswa baru berarti generasi penerus

Generasi penerus menjadi perhatian besar dalam kebangkitan Islam. Karena usia dakwah ini tidak terkait dengan usia seorang manusia, dia akan terus berjalan tanpa kita atau dengan kita. Dan kita bukanlah orang yang hanya bisa menonton, menyaksikan Islam berkembang begitu saja. Kita harus punya andil, salah satunya adalah kita harus memastikan bahwa disetiap generasi ada penerus yang bisa melanjutkan dakwah ini. Hubungan antara kita dengan mahasiswa baru harus dibina dengan baik. Sebarkan salam. Yang muda menghormati yang tua, dan yang tua menyayangi yang muda. Nabi Muhammad SAW bersabda:

Bukan golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua dan menyayangi yang muda dari kami.

Para nabi dan para dai itu punya harapan besar kepada generasi penerusnya. Banyak potongan ayat di Al Quran yang memperlihatkan betapa mesranya hubungan mereka dengan anak-anak mereka yang nantinya akan menjadi penerus dakwah itu. Misalnya Luqman Al-Hakim yang memanggil anaknya dengan panggilan paling mesra Ya Bunayya kepada anaknya (QS. Luqman: 13-16-17). Begitu juga panggilan Nabi Syu`aib kepada anaknya Yusuf (QS. Yusuf : 5, 67-87). Panggilan Nabi Ibrahim kepada anaknya Ismail (QS. Ash-Shaffaat: 102). Panggilan Nabi Nuh kepada anaknya (QS. Hud : 42). Semua memanggil generasi penerusnya dengan panggilan yang baik.

Sapaan seperti itu jauh dari kesan otoriter, sombong atau sok kuasa. Dan sapaan seperti itu lebih mencerminkan kemesraan dan hubungan psikologis yang sangat intim antara keduanya.

Jadi, sapa lah mereka dengan sapaan yang baik. Ajak mereka dalam aktivitas- aktivitas keislaman, aktivitas ilmiah, dan aktivitas reformasi, mulai dari reformasi diri sendiri agar menjadi lebih baik, hingga mereformasi negeri ini agar semakin adil dan sejahtera. Kita harus bisa mencari bibit-bibit unggul yang siap memanggul amanah suci ini, yang intelektual, dan yang siap menyuarakan kebenaran dengan lantang, walaupun itu dihadapan penguasa yang zalim. Inilah salah satu pentingnya tarbiyah di kampus.

4. Mahasiswa baru berarti akan menjadi saudara seperjuangan

Masuknya mahasiswa baru, berarti akan ada penambahan baru dalam barisan dakwah. Oleh karena itu mereka adalah saudara-saudara seperjuangan. Mereka adalah saudara se-Islam, se-Iman. Hubungan antar saudara sesama muslim adalah hubungan persaudaraan yang melebihi persaudaraan lainnya. Hubungan seperti ini adalah hubungan ishlah, damai, tentram dan mesra. Allah SWT berfirman:

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (QS. Al-Hujurat : 10)

Demikianlah beberapa arti penting mahasiswa baru bagi kita. Mari kita sambut mahasiswa baru, dengan salam dan senyuman, dengan slogan ahlan wa sahlan "kusambut adinda dengan salam dan senyuman". []

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 09:56 | Permalink | 0 comments
Senin, 27 Agustus 2007
Dipersulit Lewati Perbatasan Oleh Israel, Balita Palestina Meninggal Dunia
Sungguh malang nasib balita Palestina bernama Ibrahim Abu Nahel. Ia meninggal dunia gara-gara tentara Israel mempersulit Ibrahim untuk melintasi perbatasan Erez, padahal Nahel membutuhkan perawatan medis segera akibat penyakit jantung yang dideritanya.

Direktur pelayanan ambulan Palestina Muawiya Abu Hassanin mengatakan, Nahel yang baru berusia satu tahun, meninggal dunia setelah menunggu berjam-jam agar diizinkan masuk ke Israel lewat perbatasan Erez, Minggu (26/8)

"Dia tiba pukul 08. 00 pagi dan ia diminta menunggu selama hampir tiga jam di Erez. Ketika Ibrahim diizinkan masuk, tentara Israel tidak menyediakan ambulan sehingga ia dibawa dengan menggunakan taxi ke rumah sakit. Dalam perjalanan dengan taxi itulah, dekat kota Ashkelon, Nahel meninggal, " tutur Hassanin.



Namun juru bicara militer Israel membantah kalau pasukannya sengaja membuat lama keluarnya izin melintasi perbatasan bagi Nahel. Ia mengklaim, pihaknya justru mempercepat perizinan melintasi perbatasan bagi Nahel.

"Dia tiba pukul 08:35 pagi dan pada pukul 08:45 dia melintasi perbatasan, setelah kami membuat melakukan proses perizinan khusus untuk dia, " kata jubir militer Israel Shady Yassin.

Sementara itu, pesawat-pesawat tempur Israel kembali memuntahkan amunisinya ke kota Beit Hanun, Senin (27/8). Pada saat yang sama, pasukan Israel menembak mati seorang petani Palestina, saat petani itu sedang bekerja di lahannya yang terletak dekat perbatasan Ghaza-Israel.

Militer Israel menuding petani berusia 40 tahun itu sedang menanam bom di area perbatasan. Meskipun setelah diteliti, pasukan Israel tidak menemukan satu bahan peledak pun di tanah milik petani tadi.

Di tempat terpisah, Menteri Keamanan Publik Israel Avi Dichter lewat radio Israel, menuding Mesir telah menyelundupkan berton-ton bahan peledak dan senjata ke Jalur Ghaza untuk membantu Hamas.

"Mesir bisa segera mengambil langkah tegas untuk menghentikan penyelundupan ini, tapi itu tidak mereka lakukan lebih dari tujuh tahun belakangan ini, " kata Dichter.

"Saya yakin, Mesir punya kepentingan untuk membuat Hamas menjadi kuat di Ghaza, " sambungnya. (ln/mol)

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 23:20 | Permalink | 0 comments
Nanti Malam Gerhana Bulan, Ayo Shalat!
Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menyampaikan akan terjadi gerhana bulan total petang hingga malam ini. Jangan lupa shalat gerhana ya?

Hidayatullah.com—Kepala Observatorium Boscha Taufik Hidayat, sebagaimana banyak dikutip media massa mengatakan, gerhana matahari total (GMT) itu akan berlangsung mulai pkl. 15.50.54 WIB dan berakhir pkl.19.23.43 WIB pada hari Selasa, 28 Agustus 2007 ini .

Menurut Taufik, gerhana bulan total itu dapat dilihat dari wilayah Indonesia, Amerika Selatan bagian barat dan utara, Samudera Pasifik, Filipina, Asia bagian timur, Jepang, dan Korea. Untuk Indonesia, bahkan bisa disaksikan lebih lama.

Masyarakat yang berada di lingkup Waktu Indonesia Barat jangan kaget, sebab bulan purnama yang terbit dari timur akan berwarna kemerahan berbarengan dengan turunnya matahari di sebelah barat.

“Bulan terlihat lebih gelap dan kemerah-merahan, memang jarang-jarang kita melihat (bulan) seperti itu,” Taufik Hidayat.

Fenomena itu terjadi akibat gerhana bulan total, terjadi ketika bayang-bayang umbra (lingkaran paling gelap yang terjadi akibat cahaya matahari terhalang bumi) jatuh di permukaan bulan. Gerhana yang terjadi 28 Agustus nanti berbeda dengan gerhana yang terakhir terjadi, yakni Maret dini hari lalu. Gerhana bulan pada Maret lalu, terjadi akibat bayang-bayang penumbra dihalangi oleh bumi. “Tidak terlihat perubahan warna seperti ini,” katanya.

Sementara itu, cahaya bulan yang terbit akan berwarna suram kemerah-merahan saat puncak gerhananya, dan pelan-pelan warna bulan saat purnama akan kembali putih cemerlang. Warna bulan yang kemerahan itu terjadi akibat cahaya yang menimpa bulan berasal dari cahaya matahari yang dibiaskan oleh atmosfer bumi.

“Pembiasan yang paling terbelokkan adalah cahaya merahnya, sehingga bulan (purnama) akan terlihat kemerah-merahan,” kata Taufik.

Proses gerhana sendiri akan dimulai pukul 14.53 WIB, saat itu permukaan bulan mulai menyentuh lingkaran bayang-bayang umbra. Bulan akan mulai berubah suram dan pelan-pelan menjadi kemerahan mulai 16.52 WIB, yakni seluruh permukaan bulan masuk dalam bayang-bayang umbra. Puncaknya, warna bulan menjadi sangat kemerahan terjadi pukul 17.37 WIB. Warna bulan yang suram dan kemerahan itu akan bertahan sekitar setengah jam, yakni sampai pukul 18.22 WIB.

Bagi yang ingin mengabadikan fenomena ciptaan Allah ini, bisa menggunakan kamera single lens reflect (SLR) dengan menggunakan bukaan yang besar. Bagi kaum Muslim, disunnahkan melakukan sholat Khusuf saat terjadi gerhana.

Perintah ini didasarkan pada hadits Nabi yang diriwayatkan Bukhori & Muslim yang berbunyi;

"Telah terjadi gerhana matahari pada hari wafatnya Ibrahim putera Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam. Berkatalah manusia: Telah terjadi gerhana matahari kerana wafatnya Ibrahim. Maka bersabdalah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam "Bahwasanya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Allah mempertakutkan hamba-hambaNya dengan keduanya. Matahari gerhana, bukanlah kerana matinya seseorang atau lahirnya. Maka apabila kamu melihat yang demikian, maka hendaklah kamu shalat dan berdoa sehingga habis gerhana." [HR. Bukhari & Muslim]

Sumber : Hidayatullah.com

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 23:06 | Permalink | 0 comments
Minggu, 26 Agustus 2007
Tokoh Pejuang Chechnya Meninggal
Salah satu tokoh pejuang Cechnya, Rustam Basayev dikabarkan meninggal. Rustam adalah sepupu pejuang Checknya, Shamil Basayev

Hidayatullah.com--Pihak berwenang di Republik Chechnya di Rusia selatan mengumumkan, seorang pemimpin pejuang dan dua anggota polisi tewas dalam kontak senjata.

Sebelumnya aparat menghentikan seorang pria di ibukota, Grozny untuk memeriksa dokumennya, akan tetapi orang itu melarikan diri ke sebuah apartemen sebelum akhirnya dikepung oleh polisi bersenjata. Kementrian Dalam Negeri Chechnya mengidentifikasi orang itu sebagai Rustam Basayev (30).

Media massa Rusia mengatakan, Basayev berpangkat brigadir jendral di kalangan pejuang Chechnya dan dituduh membunuh beberapa anggota polisi. Rustam Basayev juga dikenal sebagai pegulat profesional.

Rustam Basayev adalah pemimpin pejuang jihad Chechnya. Rustam adalah sepupu pejuang ternama yang telah meninggal, Shamil Basayev. Rustam juga keluarga dekat pejuang jihad Checknya, Abu Bakr Basayev. Dia juga berhubungan dengan pemimpin Chechnya lain, Doku Umarov. Bagi Rusia, terbunuhnya tokoh seperti Rustam Basayev memiliki nilai propaganda besar. Namun bagi para pejuang Islam Checknya, kematian bukan akhir perjuangan.

Doku Umarov, presiden gerakan perlawanan bawah tanah Chechnya, berjuang melawan pasukan Rusia lebih dari satu dasa warsa. Pemerintah Rusia, menganggap pejuang Checknya dengan sebutan "separatis", tapi bagi bangsa Checknya, dia adalah pejuang sekaligus pahlawan. [bbc/www.hidayatullah.com]

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 09:24 | Permalink | 0 comments
Sabtu, 25 Agustus 2007
Tanah Wakaf Terkena Tol, Para Santri Demo

Gara-gara tanah wakaf terkenal jalan tol, ribuan santri dari 28 pondok pesantren di Kecamatan Ciwaringin, Cirobon Jawa Barat menggelar demo

Hidayatullah.com--Ribuan santri dan ulama dari 28 Pondok Pesantren yang ada di Kecamatan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, menggelar unjuk rasa di sekitar pondok pesantren mereka, Sabtu malam sekitar pukul 19.30 WIB untuk menolak pembangunan jalan tol Cikampek-Palimanan yang ternyata akan mengenai 30 hektar lahan wakaf milik Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin.

Sebelumnya rencana tapak tol tidak mengenai lahan wakaf tersebut, namun karena terjadi perubahan tapak tol akibat adanya perubahan di sekitar Kopo, Cikampek akhirnya tapak proyek jalan tol itu kemudian bergeser ke arah Selatan sekitar 500 meter dan mengenai lahan wakaf itu.

Aksi malam ini sengaja dilakukan karena bersamaan dengan rencana kedatangan Menneg Koperasi dan UKM Suryadharma Ali akan mendatangi pesantren tersebut.

Dalam aksi itu yang berakhir pukul 20.00 WIB itu, para kiai, santri, dan warga membubuhkan tanda tangan secara bergantian dalam kain sepanjang 13 meter sebagai bentuk penolakan pembangunan jalan tol itu.

Beberapa pimpinan yang mengawali penandatanganan antara lain KH Maksum Hanan, Habib Hud bin Yahya, KH Zamzami Amin, KH Marzuki Ahl, dan Habib Abu Bakar bin Hud.[ant/www.hidayatullah.com]

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 20:12 | Permalink | 0 comments
Untuk Melumpuhkan Pemuda Arab, Israel Gunakan Situs Porno
Koran Israel melaporkan, situs-situs porno Israel digunakan merusak anak-anak Mesir, Saudi, Tunis, Yordania, dan Palestina. Banyak pemuda Arab terpengaruh


Hidayatullah.com--Koran Yediot Aharonot menyebutkan bahwa pengguna internet dari kalangan pemuda Arab, khususnya Mesir, dimana kakek-kakek dan bapak-papak mereka dikenal sebagai penentang Israel tidak begitu tertarik dengan perseturuan itu, sebagaiamana ketertarikan mereka untuk registrasi nama ke dalam situs-situs porno Israel.

Koran Israel itu melaporkan lewat situsnya, bahwa situs-situs porno Israel yang berbahasa Arab banyak dikunjungi anak-anak Mesir, Saudi, Tunis, Yordania, dan Palestina.

Dan Nir Syi’r, salah satu pengelola situs porno Israel menegaskan, bahwa perusahaannya mengandalkan materi-materi pornografi yang dipraktekkan oleh tentara-tentara wanita Isreal yang menjadi pelacur. Inilah “dagangan” yang disukai kebanyakan orang-orang Arab.

Dia menambahkan, bahwa jumlah pengunjung situs yang ingin menyaksikan film-film porno semakin meningkat tiap harinya, terutama para pengunjung yang berasal dari negara-negara yang membenci Israel, sepert Mesir, Yordania, dan Saudi. Dan jumlah itu terus bertambah seiring dengan datangnya pengunjung dari negara-negara yang tidak memiliki hubungan buruk dengan Isreal, seperti Iraq, Iran dan Kuwait, menurut penilainnya.

Ia juga menyatakan, meskipun promosi film porno untuk Arab tidak memiliki dampak posotif terhadap perdamaian, akan tetapi tentara Israel telah memperoleh income dari saku orang-orang ]rab, melalui film-film itu.

[almesryoon.com/thoriq/www.hidayatullah.com]


Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 08:41 | Permalink | 0 comments
Al-Aqsa Masih Menghadapi Ancaman Yahudi
Dua hari lalu, tepat empat dekade Masjid Al-Aqsa di bawah kendali Israel. Salah satu tempat suci umat Islam seluruh dunia ini tetap menjadi ancaman Zionis-Yahudi

Hidayatullah.com--Hampir empat dekade telah berlalu sejak Masjid Al-Aqsa di Jerusalem, tempat paling suci ketiga dalam Islam, dibakar oleh pembakar Israel, tepatnya pada pagi hari 21 Agustus 1969. Pemerintah Israel terus melakukan klaim terhadap masjid ini, dan para pejabat tinggi dalam Pemerintah Israel secara terbuka telah menyampaikan rasa hausnya untuk menghancurkan masjid dan menggantikannya dengan sebuah sinagoga (tempat sembahyang Yahudi).

Pemerintah Israel terus melanjutkan upaya untuk mengubah geografis dan struktur masjid, dan bahkan tak henti untuk menantang pengikut non-Yahudi hingga saat ini.

Meskipun beberapa dekade telah lepas, Haji Nader Eshtiyya (Abu Akef), yang bekerja selama 48 tahun dalam departemen pemeliharaan Masjid Aqsa, masih tetap mengingat setiap momentum pada hari ketika masjid itu dibakar.

Saya sedang bekerja dengan teman saya di atas kubah, dan kemudian kami mendengar teman kami lain berteriak dan memberitahu kami bahwa Al-Aqsa sedang dibakar, katanya.

Saya melihat asap muncul dari kubah dan kami lari untuk mendapatkannya, dan menemukan bagian Salaeh Ed Deen terbakar. Kami menemukan residu material ledakan di bebatuan dan kayu.






Haji Eshtiyya menambahkan bahwa ada lebih dari satu orang yang terlibat dalam kejahatan ini. Mereka membantu Michael Rohan, orang Israel yang melakukan penyerangan. Semua terbakar, katanya, Kemudian menjadi jelas bahwa mereka membakar keduanya dari dalam maupun dari luar, katanya seperti dikutip situs berita Imemc.

Seperti diketahui, pembakaran itu telah menyebabkan sayap tenggara masjid, yang dikenal Haram Al Sharif ludes. Api juga menghanguskan kayu berusia ribuan tahun, dan mimbar gading. Jordania kemudian melakukan perbaikan masjid dengan mengeluarkan dana hampir 9 juta dolar AS.

Api semakin membesar, dan sebuah kendaraan pemadam datang dari Kota Tua. Pada saat itu hanya ada satu kendaraan pemadam di Jerusalem, katanya menambahkan, Tapi kemudian datang juga pemadam dari Bethlehem dan Hebron. Kami berjuang siang dan malam sampai akhirnya api dapat dipadamkan.

Kebanyakan tempat di masjid terbakar. Arsitektur, kayu-kayu tua dan ukiran-ukiran, tambahnya.

Abu Akef menjelaskan bahwa rencana Israel untuk menghancurkan masjid ini tidak terjadi dengan api itu, tapi mereka terus melanjutkannya dalam dekade-dekade berikutnya. Hingga hari ini, Yahudi fundamentalis tetap merencanakan penyerangan dan penghancurannya.

Saksi mata lainnya, Sheikh Ekrima Sabri, Kepala Komite Islam Tertinggi, mengatakan bahwa dia adalah salah seorang yang ikut serta dalam memadamkan api itu.

Menurut dia hingga saat ini, Pemerintah Israel terus melanjutkan upaya dengan menggali di bawah masjid dan sekitarnya, untuk mengoyahkan fondasi dan menyebabkan keruntuhannya.

Al-Aqsa bukan hanya bagi rakyat Palestina, tapi untuk semua Muslim di seluruh dunia, kata Sabri, Kita memiliki tanggung jawab untuk melindunginya.

Menurut dia, serangan dari pembakar masjid ini merupakan sebuah konspirasi. Meskipun Pemerintah Israel mengklaim bahwa satu orang diidentifikasi bernama Michael Rohan ada di belakang serangan itu, namun bukti meyakinkan menunjukkan bahwa lebih dari satu orang melakukan aksi kejahatan itu.

Mereka (Israel) mengatakan bahwa Rohan gila dan menyelundupkannya keluar dari negara itu, namun material yang digunakan untuk membakar masjid sangat jelas menunjukkan bahwa satu orang saja takkan sanggup melakukannya seorang diri. Material yang digunakan dalam serangan bukanlah benda-benda rumahan --hanya tentara dan pemerintah yang memiliki akses kepada material itu, katanya.

Ketua Departemen Manuscript di Masjid Al-Aqsa Sheik Najeh Bkeirat mengatakan bahwa pada hari ketika masjid dibakar merupakan hari tragis bagi seluruh Muslim.

Syeikh Khalil Al Alamy, Ketua Departemen Garda Masjid menyebut Teroris ingin membakar simbol paling relijius dalam Islam.

Sementara itu, Dr Hasan Khater, Koordinator Umum Front Islam-Kristen untuk Pertahanan Jerusalem mengatakan hari Selasa (21/8), kegiatan memperingati 38 tahun pembakaran Masjid Al-Aqsa, merupakan waktu yang tepat untuk mengingatkan betapa masjid ini tetap terancam bahaya maupun pengisolasian oleh tembok yang dibangun Israel.

Dia menambahkan bahwa krisis internal yang terjadi saat ini di Palestina, telah menggeser Palestina dari upaya mempertahankan Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa. Menurut dia, krisis internal itu telah menjadi bahan bakar yang akan membakar Jerusalem dan tempat-tempat suci di sana.

Khater mengingatkan bahwa Masjid Al-Aqsa kini tetap di bawah serangan, dan ancaman itu belum berakhir, sebab sejumlah kelompok Yahudi fundamental tetap merencanakan untuk menyerangnya. [plt/www.hidayatullah.com]


Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 08:19 | Permalink | 0 comments
Jumat, 24 Agustus 2007
Mempersiapkan diri Menyambut Ramadhan

Saat ini kita telah berada di tengah-tengah bulan Sya’ban. Sebulan lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan. Ramadhan merupakan tamu agung yang senantiasa kita harapkan kedatangannya. Karena itu, tentu kita jauh-jauh hari mesti mempersiapkan diri guna menyambutnya.

Sudah kita ketahui bersama, bahwa manusia tidak akan melaksanakan sesuatu dengan baik kecuali jika ia mempersiapkan diri dengan baik pula. Begitupun agar kita mampu melaksanakan semua amalan di bulan Ramadhan; sangat penting kita mempersiapkan diri untuk itu. Keberhasilan kita pada bulan Ramadhan akan dipengaruhi sejauh mana kita mempersiapkan diri untuk menyambutnya.



Rasul saw. dan para Sahabat sangat bersemangat menyambut datangnya bulan Ramadhan. Mereka sangat serius mempersiapkan diri agar bisa memasuki bulan Ramadhan dan melakukan segala amalan di dalamnya dengan penuh keimanan, keikhlasan, semangat, giat dan tidak merasakannya sebagai beban.

Berbagai persiapan dilakukan untuk menyambut Ramadhan, tamu yang istimewa ini. Persiapan penting yang harus kita lakukan adalah persiapan mental dan ilmu. Mempersiapkan diri secara mental tidak lain adalah mempersiapkan ruhiah kita serta membangkitkan suasana keimanan dan memupuk spirit ketakwaan kita. Cara paling manjur adalah dengan memperbanyak amal ibadah. Dalam hal ini, Rasulullah saw. telah memberikan contoh kepada kita semua. Nabi saw. memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban. Ummul Mukminin Aisyah ra. menuturkan:

«مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ»

Aku tidak melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadhan dan aku tidak melihat Beliau lebih banyak berpuasa dibandingkan dengan pada bulan Sya’ban (HR al-Bukhari dan Muslim).

Bahkan Rasulullah saw. menyambung puasa pada bulan Sya’ban itu dengan puasa Ramadhan. Ummul Mukminin Aisyah ra. menuturkan:

«كَانَ أَحَبَّ الشُّهُورِ إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَصُوْمَهُ شَعْبَانُ ثُمَّ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ»

Bulan yang paling Rasul saw. sukai untuk berpuasa di dalamnya adalah Sya’ban, kemudian Beliau menyambungnya dengan (puasa) Ramadhan. (HR Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ahmad).

Beberapa hadis di atas menjelaskan bahwa Rasulullah saw. banyak berpuasa pada bulan Sya’ban. Puasa pada bulan Sya’ban itu demikian penting dan memiliki keutamaan yang besar daripada puasa pada bulan lainnya, tentu selain bulan Ramadhan. Sedemikian penting dan utamanya sampai ‘Imran bin Hushain menuturkan, bahwa Rasul saw. pernah bertanya kepada seorang Sahabat:

«هَلْ صُمْتَ مِنْ سُرَرِ هَذَا الشَّهْرِ شَيْئًا يَعْنِيْ شَعْبَانَ قَالَ لاَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَإِذَا أَفْطَرْتَ مِنْ رَمَضَانَ فَصُمْ يَوْمَيْنِ مَكَانَهُ»

“Apakah engkau berpuasa pada akhir bulan ini (yakni Sya’ban)?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak.” Lalu Rasulullah saw. bersabda kepadanya, “Jika engkau telah selesai menunaikan puasa Ramadhan, maka berpuasalah dua hari sebagai gantinya.” (HR Muslim).

Hadis di atas menunjukkan dengan jelas keutamaan puasa sunnah pada bulan Sya’ban. Lalu apa hikmah dari puasa pada bulan Sya’ban itu?

Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah saw.:

«يَا رَسُول اللهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُوْمُ مِنْ شَهْر مِنْ الشُّهُور مَا تَصُوم مِنْ شَعْبَان، قَالَ : ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفَلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَان، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبّ الْعَالَمِينَ ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ»

“Ya Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan-bulan lain seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban.” Rasul menjawab, “Bulan itu (Sya’ban) adalah bulan yang dilupakan oleh manusia, yaitu bulan di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan itu adalah bulan diangkatnya amal-amal manusia kepada Tuhan semesta alam. Aku suka amal-amalku diangkat, sementara aku sedang berpuasa.” (HR Abu Dawud dan an-Nasa’i; disahihkan oleh Ibn Khuzaimah).

Rasul saw. juga memposisikan puasa pada bulan Sya’ban itu sebagai persiapan untuk menjalani Ramadhan. Anas ra. menuturkan bahwa Nabi saw. pernah ditanya:

«أَيُّ الصَّوْمِ أَفْضَلُ بَعْدَ رَمَضَانَ فَقَالَ شَعْبَانُ لِتَعْظِيمِ رَمَضَانَ»

“Puasa manakah yang paling afdhal setelah puasa Ramadhan?” Rasul menjawab, “Puasa Sya’ban untuk mengagungkan Ramadhan.” (HR at-Tirmidzi).

Walhasil, puasa Sya’ban, di samping akan mendapatkan pahala yang besar dan keutamaan di sisi Allah, juga merupakan sarana latihan guna menyongsong datangnya Ramadhan. Al-Hafizh Ibn Rajab mengatakan, “Dikatakan tentang puasa pada bulan Sya’ban, bahwa puasa seseorang pada bulan itu merupakan latihan untuk menjalani puasa Ramadhan. Hal itu agar ia memasuki puasa Ramadhan tidak dengan berat dan beban. Sebaliknya, dengan puasa Sya’ban, ia telah terlatih dan terbiasa melakukan puasa. Dengan puasa Sya’ban sebelumnya, ia telah menemukan lezat dan nikmatnya berpuasa. Dengan begitu, ia akan memasuki puasa Ramadhan dengan kuat, giat dan semangat.”

Para ulama salaf dulu sangat memperhatikan pelaksanaan semua amalan-amalan kebaikan pada bulan Sya’ban. Mereka, sejak memasuki bulan Sya’ban, telah memperbanyak membaca al-Quran, menelaah dan memahami isinya dan men-tadabbur-i kandungannya. Bahkan Habib ibn Abi Tsabit, Salamah bin Kahil dan yang lain menyebut bulan Sya’ban ini sebagai Syahr al-Qurâ.


Wahai kaum Muslim:

Marilah kita gunakan bulan Sya’ban ini untuk instrospeksi diri; sejauh mana kita telah bertindak dan bermuamalah sesuai dengan syariah yang telah Allah turunkan. Sudahkah kita pada bulan ini bergegas mempersiapkan diri guna menyambut datangnya Ramadhan yang sebentar lagi akan tiba? Ataukah kita malah termasuk orang yang melupakan bulan penting ini sebagaimana yang disinggung oleh Rasul saw. dalam hadis di atas?

Saatnyalah kita segera mempersiapkan diri sendiri, keluarga dan orang-orang yang ada di sekitar kita guna menyongsong datangnya Ramadhan. Caranya adalah dengan memperbanyak puasa serta membaca al-Quran sekaligus menelaah, memahami dan men-tadabbur-i kandungannya. Kita juga harus giat melakukan shalat malam serta memperbanyak sedekah dan amalan-amalan kebaikan lainnya. Agar kita nanti mampu menjalani Ramadhan dengan penuh makna, hendaknya kita pun menyiapkan program-program amal kebaikan yang akan kita lakukan selama bulan Ramadhan.

Lebih dari itu, bulan Ramadhan adalah bulan ketaatan; di dalamnya setiap Muslim dituntut untuk mengikatkan diri dengan seluruh syariah-Nya. Bulan Ramadhan adalah bulan murâqabah. Sebab, shaum yang dilakukan di dalamnya mengajari setiap Muslim untuk senantiasa merasa diawasi Allah. Ramadhan juga adalah bulan pengorbanan di jalan Allah. Di dalamnya setiap Muslim dituntut untuk berkorban dengan menahan rasa lapar dan haus demi meraih derajat ketakwaan kepada-Nya. Takwa adalah puncak pencapaian ibadah shaum pada bulan Ramadhan. Perwujudan takwa secara individu tidak lain adalah dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun perwujudan takwa secara kolektif adalah dengan menerapkan syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan oleh seluruh kaum Muslim. Shaum Ramadhan tentu akan kurang bermakna jika tidak ditindaklanjuti oleh pelaksanaan syariah secara total dalam kehidupan, karena itulah wujud ketakwaan yang hakiki.

Terakhir, guna menambah kerinduan dan semangat kita mempersiapkan diri menyongsong Ramadhan, hendaklah kita mengingat dan merenungkan kembali pesan-pesan Rasul saw. yang pernah Beliau sampaikan pada akhir bulan Sya’ban. Salman al-Farisi menuturkan, bahwa Rasulullah saw. pernah berkhutbah pada akhir bulan Syaban demikian:

Wahai manusia, kalian telah dinaungi bulan yang agung, bulan penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah telah menjadikan puasa pada bulan itu sebagai suatu kewajiban dan shalat malamnya sebagai sunnah. Siapa saja yang ber-taqarrub di dalamnya dengan sebuah kebajikan, ia seperti melaksanakan kewajiban pada bulan yang lain. Siapa saja yang melaksanakan satu kewajiban di dalamnya, ia seperti melaksanakan 70 kewajiban pada bulan lainnya.

Bulan Ramadhan adalah bulan sabar; sabar pahalanya adalah surga. Ia juga bulan pelipur lara dan ditambahnya rezeki seorang Mukmin. Siapa saja yang memberikan makanan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, ia akan diampuni dosa-dosanya dan dibebaskan lehernya dari api neraka. Ia akan mendapatkan pahala orang itu tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.

Para Sahabat berkata, “Kami tidak memiliki sesuatu untuk memberi makan orang yang berpuasa puasa?”

Rasulullah saw. menjawab:

Allah akan memberikan pahala kepada orang yang memberi makan untuk orang yang berbuka berpuasa meski dia hanya memberi sebutir kurma, seteguk air minum atau setelapak susu.

Ramadhan adalah bulan yang awalnya adalah rahmah, pertengahannya adalah maghfirah dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka. Siapa saja yang meringankan hamba sahayanya, Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka. Perbanyaklah pada dalam Ramadhan empat perkara, dua perkara yang Tuhan ridhai dan dua perkara yang kalian butuhkan. Dua perkara yang Tuhan ridhai adalah kesaksian Lâ ilâha illâ Allâh Muhammad Rasûlullâh dan permohonan ampunan kalian kepada-Nya. Adapun dua perkara yang kalian butuhkan adalah: kalian meminta kepada Allah surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka. (HR Ibn Khuzaimah dalam Shahih Ibn Khuzaimah dan al-Baihaqi di dalam Syu’âb al-Imân).
Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb. []

sumber :

http://www.hizbut-tahrir.or.id/al-islam/index.php/2007/08/21/mempersiapkan-diri-menyambut-ramadhan/


Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 16:06 | Permalink | 2 comments
Kamis, 23 Agustus 2007
Muhammad Ismail Yusanto: Khilafah Mampu Selamatkan NKRI
Sejak kehancuran payung Dunia Islam sekitar 86 tahun yang lalu, saat kekhilafahan Turki Utsmaniyah dihapuskan, kaum Muslimin seperti kehilangan arah. Sejak itulah berbagai persoalan berupa penjajahan dan penindasan menimpa umat Islam hingga kini. Disadari atau tidak, umat Islam memerlukan kembali kepemimpinan yang dapat menyatukan kaum Muslimin sedunia dengan penegakan syariah secara kaffah.

Apakah ide khilafah sebagaimana yang tegak berdiri pada masa lalu bisa berdiri kokoh dan dapat diterima oleh seluruh umat Islam, terutama di Indonesia? Berikut wawancara Eramuslim dengan Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Muhammad Ismail Yusanto, di Jakarta.



Sebenarnya maksud dari khilafah itu apa, mungkin sebagian orang Islam belum mengerti?

Khilafah itu adalah kepemimpinan umat Islam sedunia atau kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimim di dunia untuk menegakan syariat Islam dan mengemban dakwah ke segenap penjuru dunia.
Dalam perkembangannya sejarah yang membentang selama lebih dari 1300 tahun, khilafah secara praktis telah berhasil menaungi dunia Islam dan menyatukan umat Islam seluruh dunia untuk menerapkan syariah Islam secara kaffah, sehingga kerahmatan yang dijanjikan benar-benar terwujud.

Dalam konteks saat ini, khilafah tidak ada. Namun untuk mendirikan kembali, paling tidak diperlukan pemahaman yang sama, untuk kemudian bisa menyetujui, dan berupaya mewujudkannya. Dengan demikian akan ada proses politik untuk memajukan figur khalifah itu.
Tahapan untuk menghadirkan seorang khalifah dalam ide khilafah ini masih sangat jauh, baru pada tahap pertama. Bahkan orang banyak yang salah paham menganggap khilafah itu sebagai khilafiah, ataupun khilafah dengan khofifah.

ismail-y.jpg

Ada yang penilai konteks kekhilafahan ini tidak cocok bagi Indonesia?

Kami serahkan penilaian kepada tiap-tiap individu yang memberikan pendapat itu. Tapi kami sendiri justru mempertanyakan ketidakcocokan itu di mana. Inti dari khilafah itu adalah syariah dan yang kedua persatuan (ukhuwah). Syariah itu kita perjuangkan dengan keinginan mendalam untuk menggantikan sekularisme. Yang saya kira telah memimpin Indonesia selama 60-an tetapi tidak memberikan apa-apa kecuali berbagai persoalan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri secara tegas mengatakan, bahwa sekularisme itu tidak sesuai dengan Islam dan haram untuk mengikutinya. Karenanya harus ada yang diganti. Sebagai seorang muslim, gantinya yang paling cocok dengan syariah. Indonesia kan merupakan negeri muslim terbesar, dan kita sendiri merdeka dengan mengatakan atas berkah rahmat Allah. Allah yang mana yang dimaksud oleh negara mayoritas muslim, kecuali Allah SWT dengan segala kekuasaannya itulah seharusnya kita mengambil syariah itu sebagai pengatur kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kemudian dari substansi dari khilafah yang kedua adalah persaudaraan (ukhuwah) atau persatuan. Kita menyerukan persatuan, penjagaan terhadap negeri muslim, termasuk Indonesia. Jangan sampai Indonesia terpecah belah dengan gagasan yang tidak cocok dengan Indonesia. Bahwa kemudian kita ingin mengamankan sebuah persatuan yang lebih besar. Saya kira tidak perlu keluar dari apa yang menjadi kepentingan negeri ini untuk membangun negeri yang kuat yang tidak mudah diekspolitasi oleh negara-negara asing, seperti yang tampak oleh kita saat ini. Karena itu gagasan yang ada pada khilafah itu substansinya adalah syariah dan ukhuwah sangat cocok untuk negeri ini. Itulah pendirian kami.

Bagaimana pandangan Anda terhadap pemerintah di Indonesia?

Pemerintah belum sepenuhnya bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan, diman terbentuk pemerintah yang aman dan amanah. Karena diakui memang sistem yang digunakan bukan khilafah dan bukan sistem Islam yang menegakan syariah. Hal itu diakui oleh mereka.

Apakah Anda melihat kondisi persaudaraan ataupun persatuan umat Islam sudah memprihatinkan?

Ukhuwah dalam beberapa hak ukhuwah itu terlihat, misalnya apabila sedang menyelenggarakan acara bersama, tetapi ketika sudah meyangkut kepentingan politik tampak sekali perpecahan itu. Misalnya pada hasil pemilu 2004 ada semacam ketidaksatuan pendapat antara umat Islam. Jadi sebenarnya sistem khilafah ini, bukan sistem yang baru, sudah pernah ada pada masa lalu dalam buku-buku dan kitab fiqih yang kita baca. Mengenai masa depan bangsa ini terbuka, saya kira apa yang ada dinegeri ini bukan tidak mungkin tidak bisa berubah.
Memang kita sering mengatakan ini jangan diubah, tapi toh faktanya UUD 1945 saja yang pada masa orde baru dilarang untuk diubah nyatanya mengalami perubahan. Jadi segala sesuatu yang dipandang kurang bagus dan ada alternatif yang lebih baik. Saya kira terbuka untuk kemungkinan perubahan, dan kita menawarkan sesuatu yang Insya Allah akan membuat Indonesia lebih baik.

Seperti diketahui Indonesia sangat beragam, bagaimana Hizbut Tahrir meyakinkan bahwa syariah itu penting dan bagus?

Pertama tentu kita akan meyakinkan bahwa mereka tidak akan pernah terusik dengan ketidakmuslimannya, meraka akan terjaga karena memang dalam syariat Islam ada aturannya untuk melindungi kehidupan non muslim. Tidak perlu dikhawatirkan dari syariah. Dalam kehidupan publik terkait dengan sistem ekonomi, politik dan sosial budaya mereka harus mengikuti syariah. Kita harus berfikir, bahwa kita berada dalam sistem yang baik. Sepanjang sejarah Islam, antara non muslim yang berada dalam sistem syariah dapat hidup dengan damai, sejahtera, serta adil, tidak ada masalah.

Bagaimana tanggapan dari ormas Islam lain terhadap ide khilafah yang dibawa oleh Hizbut Tahrir?

Pada umumnya ormas Islam di Indonesia menyambutnya dan mendukung ide tersebut.

Ada sejumlah kalangan berpendapat, ide khilafah ini akan mengancam NKRI?

Mengancam dari sisi mana? Khilafah dan syariah itu akan menggantikan sekularisme. Di mana sekularisme sudah membuat celaka negeri kita, justru yang mengancam itu sekularisme dan kapitalisme global. Fakta sudah nyata. Ukhuwah justru akan mensolidkan negara dari ancaman separatisme yang mengancam. Bentuk separatisme, seperti RMS dan Papua Merdeka itu yang mengancam, bukannya khilafah. Khilafah malah akan menyelamakan NKRI dari kehancuran. (Rz/Noffel)
[eramuslim.com; Minggu, 12 Agu 07 15:06 WIB]


Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 09:52 | Permalink | 5 comments
Rabu, 22 Agustus 2007
Visi Indonesia 2030 VS Tegaknya Khilafah Islam
Visi Indonesia 2030 VS Tegaknya Khilafah Islam

Tulisan ini dibuat dalam rangka menanggapi Visi Indonesia 2030 yang sering digembar – gemborkan oleh Indonesia Forum. Visi tersebut adalah sebuah tujuan yang ingin dicapai oleh bangsa Indonesia untuk menjadi negara maju nomor lima di dunia pada 2030. Memang banyak kalangan yang optimis, tetapi tidak sedikit juga yang pesimis. Optimis lantaran prediksi bahwa Indonesia akan menjadi negara maju nomor tujuh dunia dilontarkan oleh lembaga – lembaga asing besar yaitu DBS dan Pricewaterhouse Coopers (PwC) dalam buku Ekonomi Dunia 2050. Sedangkan kalangan yang pesimis melihat bahwa hal tersebut merupakan hal yang mungkin dicapai tetapi sangat sulit mengingat bertumpuknya permasalahan – permasalahan negeri ini, ditambah lagi kondisi historis kita.



Indonesia Forum mengatakan bahwa hal tersebut bukanlah hal yang mustahil mengingat banyak contoh negara – negara yang dulunya masih terkategori negara berkembang sekarang telah terkategori sebagai negara maju. Sebut saja Cina, India, Brasil dsb. Cina misalnya, yang saat ini telah memiliki pertumbuhan ekonomi selalu lebih dari 10%. Ataupun juga India yang mencapai pertumbuhan ekonomi 8-9% setelah pada awalnya hanya berkisar 3-4%. Begitupun juga dengan Brasil yang saat ini telah menjadi net eksportir minyak dengan perusahaan minyaknya yang terkenal yaitu petrogas.

Visi Indonesia 2030 tersebut, menurut Indonesia Forum ditopang oleh empat pencapaian utama, yaitu pendapatan perkapita, pemanfaatan kekayaan alam, pengembangan pariwisata, dan kualitas hidup modern. Itulah sekelumit gambaran mengenai visi Indonesia 2030 yang digembar – gemborkan oleh Indonesia Forum. Lalu mungkinkah visi itu tercapai? Serta bagaimana visi tersebut dapat dicapai? Mengingat yang ditawarkan oleh Indonesia Forum sangat miskin dari solusi atas permasalahan bangsa ini.

Visi Indonesia 2030

Dalam visi tersebut Indonesia diharapkan menjadi negara maju nomor lima dunia dengan pendapatan perkapita sebesar US$ 18 ribu dan jumlah penduduk 285 juta jiwa. Sebagai sebuah visi, tentu hal itu tidaklah salah sama sekali. Justru bukan nomor lima harusnya, tetapi negara super power nomor satu dunia. Tetapi pertanyaannya mungkinkah hal itu dicapai dengan berbagai mekanisme pemerintahan dan kebijakan – kebijakan yang diambil selama ini?

Mengingat visi Indonesia 2030 ditopang oleh empat pencapaian utama, maka sudah seharusnya kita mencermati keempat hal tersebut. Tengok saja misalnya pendapatan perkapita. Sampai saat ini pendapatan perkapita masih merupakan satu hal yang kontroversial dalam bidang ekonomi. Dikatakan kontroversial karena angka – angka yang ditunjukkan di sana sama sekali tidak menggambarkan kondisi real masyarakat suatu negara. Coba saja bayangkan, dalam satu populasi kelas kuliah terdapat seorang David Beckham di sana. Tentulah pendapatan perkapita kelas kuliah tersebut menjadi sangat tinggi. Bahkan mungkin bisa dikatakan bahwa pendapatan perkapita kelas tersebut setara dengan penghasilan pertahun sang David Beckham, dengan asumsi penghasilan para mahasiswa yang lain sangat kecil, sehingga dapat diabaikan relatif terhadap penghasilan David Beckham. Oleh karena itu, tolok ukur pendapatan perkapita tersebut sama sekali tidak layak untuk dijadikan sebagai acuan.

Begitupun juga dengan poin pemanfaatan kekayaan alam. Saat ini, minyak dan gas alam kita 90% nya dikuasai oleh swasta asing dengan bagi hasil yang sangat kecil bagi negara ini. Lalu pertanyaannya sekarang adalah, apakah dengan termanfaatkannya kekayaan alam kita begitu saja akan membuat kita sebagai negara maju? Tentu saja jawabannya belum tentu. Selama pengelolaan kekayaan alam tersebut masih diserahkan kepada asing, apalah artinya pemanfaatan kekayaan alam tersebut. Toh nantinya juga hanya akan masuk kedalam kantong – kantong pengusaha asing.

Hanya Khilafah Yang Mampu Mewujudkan Visi Indonesia 2030

Visi Indonesia 2030 memang sudah cukup baik dilihat dari sisi targetannya yaitu Indonesia sebagai negara maju nomor lima dunia. Akan tetapi visi tersebut tidak akan pernah tercapai bila paradigma penyelesaian problematika kita masih bertumpu kepada ideologi kapitalis sekuler. Ideologi tersebut tentunya tidak ingin Indonesia menguasai kekayaan alamnya sendiri sehingga mengharuskan negara – negara barat harus membayar mahal untuk mendapatkannya. Pun juga tidak dengan tolok ukur pendapatan perkapita yang sarat dengan kepentingan – kepentingan para pemilik kapital saja dalam rangka menipu rakyat dengan angka – angkanya yang fantastis. Ini bukanlah sebuah kepesimisan akan tidak tercapainya visi Indonesia 2030 tersebut dengan paradigma yang ada sekarang. Tetapi hal itu adalah sebuah keyakinan bahwa visi tersebut tidak akan dapat dicapai dengan cara pandang kapitalistik seperti sekarang.

Salah satu proses penting yang harus dijalani adalah metode yang benar untuk mencapai visi tersebut. Dalam hal ini baik itu Cina, India maupun yang lainnya telah menempuh jalan yang sama yaitu berpijak kepada satu ideologi tertentu. Dalam konteks Indonesia, dengan berpijak kepada Ideologi Kapitalis justru malah membuat Indonesia semakin terpuruk. Sebab Ideologi tersebut memang dirancang sedemikian rupa sehingga hanya menguntungkan para penjajah barat saja. Sekuat apapun kita berusaha selama pijakannya adalah Kapitalis, maka selama itu pula kita hanya akan menjadi budak di negeri sendiri.

Islam dengan ideologinya adalah satu pilihan yang tidak bisa ditawar – tawar lagi untuk mencapai visi tersebut. Tengok saja misalnya dalam hal pengelolaan kekayaan alam. Islam memandang bahwa kekayaan alam itu adalah milik rakyat dan sama sekali tidak diperkenankan untuk dikelola oleh swasta apalagi swasta asing. Ini tentu saja bertolak belakang seratus delapan puluh derajat dengan Kapitalisme yang justru membebaskan siapapun untuk mengelolanya. Yang pada akhirnya, hanya kalangan bermodal sajalah yang akan menguasainya, dan rakyat hanya akan gigit jari melihat kekayaan alam mereka dirampas.

Begitu juga dalam masalah pendapatan. Islam tidak memandang pendapatan perkapita sebagai satu indikator yang akan dijadikan tolok ukur dalam menilai kegiatan perekonomian. Tetapi yang diperhatikan oleh Islam adalah tercukupinya kebutuhan – kebutuhan primer individu per individu. Islam sama sekali tidak akan mengambil nilai rata – rata dalam masalah ini. Misalnya saja rata – rata penduduk jawa barat makan tiga kali sehari. Tetapi Islam memandang bahwa apabila ada individu yang makannya hanya dua kali perhari atau bahkan sekali perhari, maka negara wajib untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang layak baginya. Tentu ini berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kapitalisme yang membiarkan begitu saja hal – hal seperti itu kepada mekanisme pasar. Maka janganlah heran apabila kesenjangan akibat diterapkannya ideologi ini semakin lama semakin menjadi – jadi.

Khatimah

Sudah saatnya kita tidak lagi bertanya kepada kapitalisme atas segala problematika yang kita hadapi baik itu dalam bidang ekonomi, politik, sosial, iptek, pendidikan dll. Sebab telah nyata kerusakan yang ditimbulkan oleh ideologi tersebut saat ini. Berbagai permasalahan bangsa ini akan selesai, jika dan hanya jika kita bertanya kepada Islam atas segala problematika yang kita hadapi. Visi Indonesia 2030 tidak akan pernah tercapai tanpa metode pencapaian yang benar yaitu Islam dalam naungan Khilafahnya. Bahkan visi tersebut sama sekali tidak berlaku bagi khilafah Islam, sebab yang menjadi visi khilafah Islam adalah menjadi negara adidaya sebagaimana layaknya pernah terjadi selama 13 abad dalam naungan khilafah. Ini berlaku secara umum bagi seluruh negeri – negeri kaum muslimin saat ini, tidak hanya berlaku bagi Indonesia saja. Apalagi bila seluruh kekuatan kaum muslimin bersatu dan melebur dalam bingkai khilafah Islam, tentu visi sebagai negara adidaya tersebut tidak lama lagi akan terpenuhi. Bahkan akan terpenuhi saat itu juga yaitu saat seluruh kaum muslimin di dunia bersatu, dan hanya ada satu bendera yaitu bendera Islam tanpa bendera – bendera nasionalisme lainnya. Oleh karena itu sudah saatnya bagi kita umat Islam, untuk mengerahkan segenap daya dan upaya untuk menegakkan kembali Khilafah Islam dalam rangka mencapai visi sebagai umat terbaik. Wallahua’lam Bishawwab.

Sumber :

http://www.gemapembebasan.or.id/?pilih=lihat&id=433

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 10:08 | Permalink | 1 comments
Saatnya khilafah Mennguncang Dunia
Saatnya khilafah Mennguncang Dunia

Alhamdulillah, Konferensi Khilafah Internasional 12 Agustus 2007 yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia telah berlangsung dengan sukses. Sekitar 100.000 peserta dengan penuh semangat meneriakkan takbir ALLAHU AKBAR hampir sepanjang acara sehingga mengguncangkan stadion. Dahsyat ! Subhanallah! Hati pun siapa pun pasti akan turut bergetar hebat mendengar asma-Nya yang agung dikumandangkan dengan penuh keimanan menerobos cakrawala kota Jakarta menjangkau setiap penjuru dunia.



Jika konferensinya saja sudah mengguncang seperti ini, apalagi nanti ketika Khilafah benar-benar berdiri, dalam waktu dekat ini insya Allah.. Sudah dapat dipastikan lahirnya kembali Khilafah akan lebih dahsyat dan lebih mengguncang dunia. Allahu Akbar !

Berikut ini adalah liputan berbagai media masa internasional tentang Konferensi Khilafah Internasional 2007 tersebut :

CNN : http://www.cnn.com/2007/WORLD/asiapcf/08/12/indonesia.rally.ap/index.html?iref=newssearch
TURKS.US DAILY NEWS : http://www.turks.us/article~story~20070812233727278~mode~print.htm
NASDAQ : http://www.nasdaq.com/aspxcontent/NewsStory.aspx?cpath=20070812%5cACQRTT200708120913RTTRADERUSEQUITY_0015.htm&
BBC ONLINE : http://news.bbc.co.uk/2/hi/asia-pacific/6943070.stm
http://news.bbc.co.uk/2/hi/asia-pacific/6942688.stm
AFP Yahoo : http://news.yahoo.com/s/afp/20070812/wl_asia_afp/indonesiareligionpolitics_070812122751
ADNKronos International : http://www.adnkronos.com/AKI/English/Religion/?id=1.0.1196047038
Crosswalk International www.crosswalk.com/news/11551049/
INDEPENDENT Canada : www.iol.co.za/widgets/rss_redirect.php
Times of INDIA : timesofindia.indiatimes.com/Islamists_hold_massive_rally_in_Jakarta_/articleshow/2275183.cms
Middle East Times : www.metimes.com/storyview.php%3fStoryID=20070812-010122-9384r
United Press International : www.upi.com/NewsTrack/Top_News/2007/08/12/activists_seek_single_muslim_state/8053/

Dan masih ada 428 judul berita yang lain, yang dapat diakses melalui yahoo news :
http://news.search.yahoo.com/news/search?p=caliphate&c=

Berikut ini juga beberapa berita Konferensi Khilafah Internasional di media nasional :
SCTV : http://www.liputan6.com/news/?id=145934&c_id=1
METROTV : http://www.metrotvnews.com/berita.asp?id=43774
http://www.metrotvnews.com/berita.asp?id=43787
http://www.metrotvnews.com/berita.asp?id=43798
SINDO : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/nasional/hizbut-tahrir-siap-gandeng-parpol.html
KOMPAS : http://www.kompas.co.id/ver1/Nasional/0708/12/094847.htm
REPUBLIKA : http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=303177&kat_id=3
ERAMUSLIM : http://www.eramuslim.com/berita/nas/7812181948-banyak-tokoh-tak-hadir-konferensi-khilafah-tetap-semarak.htm
http://www.eramuslim.com/berita/bc2/7812150239-muhammad-ismail-yusanto-khilafah-mampu-selamatkan-nkri.htm
http://www.eramuslim.com/berita/nas/7813093243-muhammadiyah-ide-khilafah-baik-tapi-sulit-realisasikannya.htm

Juga ada news dalam bentuk video, dari ABC tv,
http://cosmos.bcst.yahoo.com/up/news?ch=1105621&cl=3676863&lang=en

SUMBER : http://khilafah-fighters.blogspot.com/

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 09:54 | Permalink | 0 comments
Sekilas Tentang Gema Pembebasan
Profil Singkat

GERAKAN MAHASISWA PEMBEBASAN KOMISARIAT UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

Gerakan Mahasiswa Pembebasan Komisariat Universitas Negeri Makassar atau disingkat Gema Pembebasan Kom. UNM adalah organ mahasiswa ekstra kampus yang beranggotakan mahasiswa Islam di Universitas Negeri Makassar ( UNM ). Gema Pembebasan bertujuan mencerdaskan mahasiswa dan mengajak mereka untuk berjuang bersama menerapkan syariat Islam secara formal di UNM untuk menyambut kembalinya kehidupan Islam. Gema Pembebasan Kom. UNM bercita cita menjadikan Idilogi Islam sebagai sumbu poros perjuangan pergerakan mahasiswa di lingkungan Universitasa Negeri Makassar.

LATAR BELAKANG

Mahasiswa dengan idealismenya memiliki potensi yang cukup besar dalam proses perubahan sosial dan politik. Akan tetapi selama ini mahasiswa banyak diwarnai oleh berbagai gerakan yang tidak atau kurang berani dalam mengedepankan ideologi Islam.

Oleh karena itu diperlukan sebuah jaringan dakwah kampus se-Indonesia untuk mengkampanyekan pemikiran-pemikiran Islam dan solusi-solusi Islam atas segala permasalahan serta untuk melahirkan kader-kader dakwah mahasiswa yang suatu saat akan terjun ke masyarakat.

Jaringan inilah yang kemudian diberi nama Gerakan Mahasiswa Pembebasan atau disingkat Gema Pembebasan


PEMBENTUKAN

Gema Pembebasan resmi dibentuk pada tanggal 28 Februari 2004 bertempat di Auditorium Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia. Saat itu juga diresmikannya Website Gema Pembebasan dengan alamat http://www.gemapembebasan.or.id yang menjadi salah satu sarana publikasi opini dan ide-ide Gema Pembebasan. Setelah terbentuk, organisasi ini terus menyebar di Indonesia mulai tingkat pusat hingga perguruan tinggi dengan membentuk struktur baku Pengurus Pusat (PP), Pengurus Wilayah (PW), Pengurus Daerah (PD) dan Pengurus Komisariat (PK).

VISI, MISI dan TUJUAN

VISI:
Menjadikan Ideologi Islam sebagai mainstream gerakan mahasiswa di Indonesia.

MISI:

* Mengembangkan manajemen pengelolaan opini ideologi Islam sehingga memiliki daya gugah yang membangun kesadaran politik dan daya pembebas terhadap seluruh faktor yang membelenggu Islam.
* Membangun jaringan pergerakan Mahasiswa Islam ideologis di seluruh Indonesia.
* Mengembangkan sistem pendukung bagi transformasi ideologi Islam di kalangan mahasiswa dan pergerakan mahasiswa.
* Membentuk kader pergerakan mahasiswa Islam yang ideologis dan memiliki kemampuan dalam mengembangkan opini.

TUJUAN:
Terbentuknya opini Islam Ideologis di kalangan mahasiswa dan pergerakan mahasiswa di Indonesia.


KEGIATAN

Sebagai organisasi mahasiswa Islam Ideologis,
Gema Pembebasan memiliki kegiatan antara lain :

* Penulisan dan penyebaran artikel serta buletin keislaman
* Mengadakan bedah buku
* Mengadakan kajian keislaman tematik dan kajian bahasa arab.
* Mengadakan outbound dan pelatihan
* Mengadakan dialog pemikiran
* Mengadakan seminar-seminar keislaman
* Menanggapi masalah-masalah yang aktual dengan sudut pandang Islam.
* Mengadakan acara bersama dengan Lembaga Dakwah kampus lainnya.
* Mengadakan aksi simpatik pada moment-moment tertentu.

Adapun acara training pembebasan ini merupakan salah satu format baku pengkaderan Gema Pembebasan, yang di adakan guna membentuk kader yang peduli akan tegaknya Idilogi Islam dalam kehidupan, dan mencetak kader yg siap memperjuangkan opini Idilogi Islam di tengah tengah masyarakat, khususnya dalam lingkup mahasiawa Universiatas Negeri Makassar, juga sebagai wadah bagi mahasiswa yang memilki semangat keIslaman


bersatu bergerak teakkan idilogi Islam

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 09:52 | Permalink | 2 comments