Sabtu, 25 Agustus 2007
Al-Aqsa Masih Menghadapi Ancaman Yahudi
Dua hari lalu, tepat empat dekade Masjid Al-Aqsa di bawah kendali Israel. Salah satu tempat suci umat Islam seluruh dunia ini tetap menjadi ancaman Zionis-Yahudi

Hidayatullah.com--Hampir empat dekade telah berlalu sejak Masjid Al-Aqsa di Jerusalem, tempat paling suci ketiga dalam Islam, dibakar oleh pembakar Israel, tepatnya pada pagi hari 21 Agustus 1969. Pemerintah Israel terus melakukan klaim terhadap masjid ini, dan para pejabat tinggi dalam Pemerintah Israel secara terbuka telah menyampaikan rasa hausnya untuk menghancurkan masjid dan menggantikannya dengan sebuah sinagoga (tempat sembahyang Yahudi).

Pemerintah Israel terus melanjutkan upaya untuk mengubah geografis dan struktur masjid, dan bahkan tak henti untuk menantang pengikut non-Yahudi hingga saat ini.

Meskipun beberapa dekade telah lepas, Haji Nader Eshtiyya (Abu Akef), yang bekerja selama 48 tahun dalam departemen pemeliharaan Masjid Aqsa, masih tetap mengingat setiap momentum pada hari ketika masjid itu dibakar.

Saya sedang bekerja dengan teman saya di atas kubah, dan kemudian kami mendengar teman kami lain berteriak dan memberitahu kami bahwa Al-Aqsa sedang dibakar, katanya.

Saya melihat asap muncul dari kubah dan kami lari untuk mendapatkannya, dan menemukan bagian Salaeh Ed Deen terbakar. Kami menemukan residu material ledakan di bebatuan dan kayu.






Haji Eshtiyya menambahkan bahwa ada lebih dari satu orang yang terlibat dalam kejahatan ini. Mereka membantu Michael Rohan, orang Israel yang melakukan penyerangan. Semua terbakar, katanya, Kemudian menjadi jelas bahwa mereka membakar keduanya dari dalam maupun dari luar, katanya seperti dikutip situs berita Imemc.

Seperti diketahui, pembakaran itu telah menyebabkan sayap tenggara masjid, yang dikenal Haram Al Sharif ludes. Api juga menghanguskan kayu berusia ribuan tahun, dan mimbar gading. Jordania kemudian melakukan perbaikan masjid dengan mengeluarkan dana hampir 9 juta dolar AS.

Api semakin membesar, dan sebuah kendaraan pemadam datang dari Kota Tua. Pada saat itu hanya ada satu kendaraan pemadam di Jerusalem, katanya menambahkan, Tapi kemudian datang juga pemadam dari Bethlehem dan Hebron. Kami berjuang siang dan malam sampai akhirnya api dapat dipadamkan.

Kebanyakan tempat di masjid terbakar. Arsitektur, kayu-kayu tua dan ukiran-ukiran, tambahnya.

Abu Akef menjelaskan bahwa rencana Israel untuk menghancurkan masjid ini tidak terjadi dengan api itu, tapi mereka terus melanjutkannya dalam dekade-dekade berikutnya. Hingga hari ini, Yahudi fundamentalis tetap merencanakan penyerangan dan penghancurannya.

Saksi mata lainnya, Sheikh Ekrima Sabri, Kepala Komite Islam Tertinggi, mengatakan bahwa dia adalah salah seorang yang ikut serta dalam memadamkan api itu.

Menurut dia hingga saat ini, Pemerintah Israel terus melanjutkan upaya dengan menggali di bawah masjid dan sekitarnya, untuk mengoyahkan fondasi dan menyebabkan keruntuhannya.

Al-Aqsa bukan hanya bagi rakyat Palestina, tapi untuk semua Muslim di seluruh dunia, kata Sabri, Kita memiliki tanggung jawab untuk melindunginya.

Menurut dia, serangan dari pembakar masjid ini merupakan sebuah konspirasi. Meskipun Pemerintah Israel mengklaim bahwa satu orang diidentifikasi bernama Michael Rohan ada di belakang serangan itu, namun bukti meyakinkan menunjukkan bahwa lebih dari satu orang melakukan aksi kejahatan itu.

Mereka (Israel) mengatakan bahwa Rohan gila dan menyelundupkannya keluar dari negara itu, namun material yang digunakan untuk membakar masjid sangat jelas menunjukkan bahwa satu orang saja takkan sanggup melakukannya seorang diri. Material yang digunakan dalam serangan bukanlah benda-benda rumahan --hanya tentara dan pemerintah yang memiliki akses kepada material itu, katanya.

Ketua Departemen Manuscript di Masjid Al-Aqsa Sheik Najeh Bkeirat mengatakan bahwa pada hari ketika masjid dibakar merupakan hari tragis bagi seluruh Muslim.

Syeikh Khalil Al Alamy, Ketua Departemen Garda Masjid menyebut Teroris ingin membakar simbol paling relijius dalam Islam.

Sementara itu, Dr Hasan Khater, Koordinator Umum Front Islam-Kristen untuk Pertahanan Jerusalem mengatakan hari Selasa (21/8), kegiatan memperingati 38 tahun pembakaran Masjid Al-Aqsa, merupakan waktu yang tepat untuk mengingatkan betapa masjid ini tetap terancam bahaya maupun pengisolasian oleh tembok yang dibangun Israel.

Dia menambahkan bahwa krisis internal yang terjadi saat ini di Palestina, telah menggeser Palestina dari upaya mempertahankan Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa. Menurut dia, krisis internal itu telah menjadi bahan bakar yang akan membakar Jerusalem dan tempat-tempat suci di sana.

Khater mengingatkan bahwa Masjid Al-Aqsa kini tetap di bawah serangan, dan ancaman itu belum berakhir, sebab sejumlah kelompok Yahudi fundamental tetap merencanakan untuk menyerangnya. [plt/www.hidayatullah.com]


Label:

 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 08.19 | Permalink |


0 Comments: