Minggu, 25 Mei 2008
Pemerintah tidak berhati nurani dengan menaikkan BBM
Ya Allah, siapa saja yang menjadi pengatur urusan umatku, kemudian ia membebani mereka, maka bebanilah ia. (Doa Rasulullah saw.)

“Pemerintah Keterlaluan,” demikian headline sebuah media nasional yang mengkomentari kenaikan BBM 1 Oktober tahun 2005. Pernyataan yang sama kita tujukan kepada pemerintah sekarang ini. Tanpa peduli kesulitan rakyat, pemerintah ngotot tetap menaikkan BBM.

Dampak kenaikan ini tidak perlu diperdebatkan lagi. Sudah banyak pengamat yang mengatakan bahwa naiknya BBM akan menambah jumlah orang miskin. Harga-harga langsung meroket naik, biaya tranportasi pun meningkat, buruh terancam PHK massal. Pemerintah tampaknya tidak mau tahu. Mereka sudah buta mata, buta telinga, dan—yang paling menyedihkan—buta nurani.

Berbagai cara dilakukan Pemerintah yang tak bernurani ini untuk menenangkan masyarakat. Senjata utamanya adalah subsidi langsung. Pemerintah membagi-bagikan uang sebesar Rp 100.000 perbulan. Apakah ini menyelesaikan persoalan? Tentu saja tidak! Rp 100.000 perbulan (yang berarti Rp 3000 perhari) tidak akan cukup, mengingat biaya hidup meningkat berlipat-lipat. Ryas Rasyid dalam diskusi dengan HTI menggambar BLT seperti seorang yang dipukul habis-habisan sampai babak belur, supaya tidak nangis dia diberikan permen. Rakyat akan semakin menderita, untuk membujuk rakyat diberikan Rp 3000 perhari.

Jelas, kebijakan ini sangat zalim. Padahal masih banyak cara yang bisa digunakan oleh Pemerintah tanpa harus mengorbankan rakyat. Pemerintah, misalnya, bisa mengenakan pajak yang sangat tinggi terhadap orang-orang kaya yang berpenghasilan lebih dari Rp 5 juta, atau mengenakan pajak tambahan terhadap rumah-rumah mewah para pejabat yang harganya di atas 500 juta, demikian juga yang mempunyai mobil mewah lebih dari satu. Apa susahnya membuat kebijakan seperti ini. Pemerintah juga bisa saja menunda pembayaran utang plus bunga (APBN 2008) yang jumlahnya 151,2 trilyun. Pemerintah juga bisa menyita harta koruptor yang jumlahnya lebih dari Rp 200 triliun. Pemerintah juga bisa mengambil alih tambang emas, perak, minyak dan batu baru yang sekarang dikuasai oleh asing. Karena semuanya adalah pemilikan umum yang merupakan hak rakyat, tapi sekarang lebih dari 80 persen dikuasai asing. Akan tetapi, kebijakan ini malah tidak diambil oleh Pemerintah.

Kami berani mengatakan, kebijakan ini merupakan upaya sistematis untuk membunuh rakyat. Sebab, dengan kebijakan ini, akan semakin banyak rakyat yang meregang nyawa karena kemiskinan; akan semakin banyak anak-anak yang sakit karena orangtuanya tidak mampu memberikan gizi yang baik, juga karena kemiskinan; dan akan semakin banyak orang miskin yang sulit ke rumah sakit karena biaya rumah sakit yang semakin tidak terjangkau oleh mereka. Ini bukanlah persoalan main-main. Ini adalah tindakan pembunuhan terhadap rakyat yang termasuk dosa besar. (Lihat: QS an-Nisa’ [4]: 93).

Mengapa Pemerintah mengeluarkan kebijakan ini? Tidak lain, demi mematuhi tekanan negara-negara imperialis melalui IMF, yang telah memaksa Pemerintah untuk melakukan liberalisasi ekonomi, termasuk migas. Seperti yang diungkap Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila Universitas Gadjah Mada (UGM), Revrisond Baswir kepada Tempo Interaktif (2/10/2005), kenaikan harga BBM tersebut hanyalah bagian dari target liberalisasi sektor migas yang akan melepas harga minyak domestik ke pasar dunia. “Kenaikan ini hanya sebagian saja dari proses menuju liberalisasi tadi dan Pemerintah selangkah lagi dalam agenda tersebut,” kata Baswir. Ia juga memperkirakan, Pemerintah masih akan menaikkan harga BBM, karena harga yang sekarang pun masih di bawah harga pasar. Menurutnya, Pertamina sudah akan kehilangan izin PSO (public service obligation)-nya, dan akhirnya di sektor hilir migas akan masuk pengecer BBM lainnya di Indonesia seperti Exxon, Caltex, dan sebagainya.

Seperti kehilangan akal, Pemerintah juga memanfaatkan berbagai cara untuk melegalkan kedzolimannya. Media massa pun diduga ditekan agar tetap pro kenaikan BBM. Para ekonom dibeli untuk melakukan analisis yang pro kenaikan BBM. Para menteri pun harus beriklan di TV yang biayanya pastilah mahal.

Nasihat sabar disampaikan kepada masyarakat. Memang, keharusan bersabar saat mengalami kesulitan merupakan perintah Allah Swt. Namun, bukankah Allah Swt. juga memerintahkan kepada kita, tentu juga kepada ulama , untuk tidak berdiam terhadap kebijakan penguasa yang menyengsarakan rakyat. Lalu mengapa penguasa itu tidak dinasihati, padahal diam terhadap kemungkaran penguasa adalah dosa besar, apalagi jika ada kemampuan dan kesempatan untuk menasihatinya.

Bagi kita, pemerintah dzolim produk kapitalis ini, tidak boleh dibiarkan menyengsarakan rakyat. Kita harus melakukan perlawanan. Bukan semata-sama perlawanan terhadap antek-antek kapitalis yang berkuasa, tapi perlawanan terhadap sistem kapitalis yang menjadi pangkal penderitaan rakyat. Karenanya, kita harus bersungguh-sungguh, bahkan ekstra bersungguh-sungguh untuk memperjuangkan syariah dan Khilafah. Sistem inilah yang akan menghentikan kedzoliman sistem kapitalis yang membuat rakyat menderita ini. Sekali lagi , hanya syariah dan Khilafah.

Terakhir, kita mengingatkan kepada Pemerintah, hendaklah segera bertobat kepada Allah Swt., dan segera mencabut kebijakan yang menyengsarakan rakyat ini! [Farid Wadjdi].

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 10.26 | Permalink | 2 comments
Selasa, 28 Agustus 2007
Bagaimana Seharusnya Kita Menyikapi Ospek di Perguruan Tinngi
Kampus merupakan salah satu miniatur masyarakat kecil. Di dalamnya terdapat anggota masyarakat yang cukup heterogen, mulai dari pedagang, karyawan, dosen, dan tentunya mahasiswa. Atau dari segi suku, di dalam kampus tentunya tidak hanya ada satu suku yang mendiaminya, ada banyak suku. Demikian pula dari segi agama, masyarakat sebagian besar kampus memiliki agama yang berbeda-beda. Heteregonitas ini mengharuskan kita agar dapat berkomunikasi dengan siapa saja sesuai dengan kapasitas siapa yang yang kita hadapi.

Di dalam Al Quran, Allah mengingatkan kepada seluruh manusia, apapun sukunya, apapun bangsanya, atau statusnya:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujarat : 13)

Dengan kata lain, ayat diatas bisa diartikan bahwa Allah menciptakan manusia demikian heterogen bukan untuk menunjukkan suku/bangsa/status mana yang paling mulia, dan bukan untuk saling beradu domba. Allah meluruskan bahwa heteregonitas itu adalah agar kita saling mengenal, dan ketaqwaanlah yang menjadi barometer kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT. Dan kita tahu bahwa ketaqwaan itu hanya mungkin diraih bila seseorang itu berserah diri kepada Allah (baca: beragama Islam).

Berkaitan dengan saling mengenal, ada agenda tahunan yang diadakan oleh kampus, yaitu penyambutan mahasiswa baru. Ada mahasiswa baru, berarti ada proses saling perkenalan secara massal. Dan kehadiran mahasiswa baru inilah yang membedakan kampus dengan model masyarakat kecil lainnya. Dan tidak sembarang orang dapat mendapat gelar mahasiswa, Kedatangan mahasiswa baru selalu ada setiap tahun, sedangkan dalam model masyarakat lainnya mungkin tidak demikian. Kehadiran mahasiswa baru umumnya disambut oleh kegiatan kampus yang biasa disebut sebagai ospek.

Ospek di Indonesia, dikalangan mahasiswa, sudah terlanjur dikonotasikan dengan kegiatan perpeloncoan. Di dalam sebuah ospek hampir selalu ada yang namanya mengerjai anak baru, hukuman dan penindasan. Bahkan ada yang mencapai pada taraf benturan fisik, misalnya ketika sampai jatuhnya korban nyawa mahasiswa di beberapa perguruan tinggi, misalnya di IPDN, bahkan kekerasan di IPDN, sudah tidak dapat di toleransi lagi, dan banyak pihak yang mengnginkan agar IPDN di bubarkan saja . Bahkan setelah ospekpun kadang rawan dengan tawuran antar mahasiswa, dan ini pernah terjadi, misalnya di Univesitas Negeri Makassar (UNM), seperti yang pernah ramai diberitakan media massa, tentu pihak kampus sendiri sangat tidak menghendaki hal ini.

Oleh karena itu, mari kita tolak Ospek yang identik dengan kegiatan perpeloncoan..!!!!



Ospek tersebut dilakukan dengan alasan agar mahasiswa baru lebih mengenal kampusnya, mengenal seniornya, lebih akrab, dan sebagainya. Peraturan yang sering timbul di dalam ospek adalah 1. Kakak senior selalu benar. 2. Jika kakak senior salah, maka lihat peraturan nomor satu. Dan setelah ospek berakhir, biasanya mahasiswa baru diwajibkan membentuk kepanitiaan untuk mengadakan malam inagurasi (untuk keakraban). Tujuannya mungkin bagus untuk keakraban, tapi kenyataannya seringkali tidak lebih dari penghambur-hamburan uang dan foya-foya. Demikianlah ospek yang tidak mendidik, kadang lebih cenderung mencerminkan gaya-gaya anarkis dan militerisme. Sungguh kontradiksi dengan demo-demo mahasiswa yang seringkali bersuara tolak militerisme dan anarkisme. Sunnguh selayaknya kita mengatakan menolak Ospek, karena bertentangan dengan harkat dan martabat manusia

Sebagai mahasiswa yang intelektual dan berakal sehat, harus memandang kehadiran mahasiswa baru dari sisi positifnya. Dan sebagai mahasiswa yang bermoral, kita harus memandang mahasiswa baru sebagai generasi yang harus diselamatkan, aqidahnya, ibadahnya, akhlaqnya, dan intelektualitasnya.

Kedatangan mereka yang setiap tahun ini sebenarnya memudahkan lembaga dakwah kampus untuk mengatur agenda-agendanya, terutama dalam hal usaha memberi pencerahan kepada setiap generasi (baca: dakwah untuk setiap angkatan) di kampus.

Bagi kita, mahasiswa baru bukanlah sebagai korban baru yang siap dikerjai. Kehadiran mereka memiliki arti positif bagi kita. Paling tidak ada beberapa point, arti pentingnya mahasiswa baru, yaitu sebagai berikut:

1. Mahasiswa baru berarti objek dakwah baru

Mungkin ini merupakan salah satu kelebihan dakwah kampus dengan wilayah dakwah lainnya. Betapa tidak, karena setiap tahun kita dianugerahi oleh Allah SWT ratusan bahkan ribuan objek dakwah baru. Objek dakwah baru berarti ladang dakwah baru, ladang amal. Prospek meraih pahala dan ridho-nya sangat besar di sini. Satu orang saja mendapatkan hidayah Allah SWT karena kita, maka ingatlah kabar gembira dari Rasulullah berikut ini:

Demi Allah, barang siapa yang dengan usahanya menyebabkan Allah menurunkan hidayah maka baginya itu lebih baik dari unta merah. (HR. Bukhori-Muslim). Dan dalam riwayat lain disebutkan : "Bila Allah memberikan hidayah pada sesorang disebabkan diri kita, maka itu lebih bagus dari dunia dan segala isinya".

Atau di hadits lain, Rasulullah bersabda:

"Barangsiapa yang mengajak (seseorang) kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun" (HR. Muslim, No. 2674.)

Maka bagi mahasiswa senior yang ingin mendapat ridho-Nya, tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan besar ini.

2. Mahasiswa baru ibaratkan tamu

Setiap angkatan baru bisa diibaratkan sebagai tamu yang berkunjung. Setiap tamu yang datang tentu harus kita layani. Maka sudah barang tentu aktivitas pelayanan kepada mahasiswa baru harus digiatkan. Misalnya jika mereka membutuhkan tempat kost, tunjuki tempat kost yang bagus, yang kondusif untuk tempat tinggal, kondusif untuk belajar, kondusif untuk aqidahnya, ibadahnya, dan akhlaqnya. Jika kita punya buku kuliah yang sudah tidak terpakai lagi, mungkin bisa dipinjamkan kepada mereka. Kelak buku kuliah ini akan terus turun temurun kepada adek-adek di bawah mereka (selama kurikulumnya masih relevan). Atau jika mereka butuh modul-modul / form praktikum, biasanya kita punya contohnya yang bisa dicopy.

Tunjuki pula mereka tempat-tempat yang nyaman untuk belajar. Misalnya laboratorium, perpustakaan, acara-acara seminar yang kita adakan, dan sebagainya. Dan tentunya tunjuki mereka dimana tempat ibadah, masjid atau mushola di kampus. Ajak mereka beribadah ketika adzan berkumandang. Stiker, pembatas buku, loose leaf, dan sebagainya yang berisi nasehat-nasehat, mungkin bisa juga diberikan kepada mereka agar terus ingat. Begitulah kira-kira gambaran sekilas melayani mahasiswa baru. Masih banyak lagi yang bisa kita lakukan untuk mereka.

Intinya, berikan mereka servis yang menarik dan menggugah jiwa agar mereka merasa at home dan nyaman. Selain itu berikan dorongan semangat, motivasi, petunjuk, arahan dan berbagai kemudahan dan fasilitas lainnya.


3. Mahasiswa baru berarti generasi penerus

Generasi penerus menjadi perhatian besar dalam kebangkitan Islam. Karena usia dakwah ini tidak terkait dengan usia seorang manusia, dia akan terus berjalan tanpa kita atau dengan kita. Dan kita bukanlah orang yang hanya bisa menonton, menyaksikan Islam berkembang begitu saja. Kita harus punya andil, salah satunya adalah kita harus memastikan bahwa disetiap generasi ada penerus yang bisa melanjutkan dakwah ini. Hubungan antara kita dengan mahasiswa baru harus dibina dengan baik. Sebarkan salam. Yang muda menghormati yang tua, dan yang tua menyayangi yang muda. Nabi Muhammad SAW bersabda:

Bukan golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua dan menyayangi yang muda dari kami.

Para nabi dan para dai itu punya harapan besar kepada generasi penerusnya. Banyak potongan ayat di Al Quran yang memperlihatkan betapa mesranya hubungan mereka dengan anak-anak mereka yang nantinya akan menjadi penerus dakwah itu. Misalnya Luqman Al-Hakim yang memanggil anaknya dengan panggilan paling mesra Ya Bunayya kepada anaknya (QS. Luqman: 13-16-17). Begitu juga panggilan Nabi Syu`aib kepada anaknya Yusuf (QS. Yusuf : 5, 67-87). Panggilan Nabi Ibrahim kepada anaknya Ismail (QS. Ash-Shaffaat: 102). Panggilan Nabi Nuh kepada anaknya (QS. Hud : 42). Semua memanggil generasi penerusnya dengan panggilan yang baik.

Sapaan seperti itu jauh dari kesan otoriter, sombong atau sok kuasa. Dan sapaan seperti itu lebih mencerminkan kemesraan dan hubungan psikologis yang sangat intim antara keduanya.

Jadi, sapa lah mereka dengan sapaan yang baik. Ajak mereka dalam aktivitas- aktivitas keislaman, aktivitas ilmiah, dan aktivitas reformasi, mulai dari reformasi diri sendiri agar menjadi lebih baik, hingga mereformasi negeri ini agar semakin adil dan sejahtera. Kita harus bisa mencari bibit-bibit unggul yang siap memanggul amanah suci ini, yang intelektual, dan yang siap menyuarakan kebenaran dengan lantang, walaupun itu dihadapan penguasa yang zalim. Inilah salah satu pentingnya tarbiyah di kampus.

4. Mahasiswa baru berarti akan menjadi saudara seperjuangan

Masuknya mahasiswa baru, berarti akan ada penambahan baru dalam barisan dakwah. Oleh karena itu mereka adalah saudara-saudara seperjuangan. Mereka adalah saudara se-Islam, se-Iman. Hubungan antar saudara sesama muslim adalah hubungan persaudaraan yang melebihi persaudaraan lainnya. Hubungan seperti ini adalah hubungan ishlah, damai, tentram dan mesra. Allah SWT berfirman:

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (QS. Al-Hujurat : 10)

Demikianlah beberapa arti penting mahasiswa baru bagi kita. Mari kita sambut mahasiswa baru, dengan salam dan senyuman, dengan slogan ahlan wa sahlan "kusambut adinda dengan salam dan senyuman". []

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 09.56 | Permalink | 0 comments
Rabu, 22 Agustus 2007
Visi Indonesia 2030 VS Tegaknya Khilafah Islam
Visi Indonesia 2030 VS Tegaknya Khilafah Islam

Tulisan ini dibuat dalam rangka menanggapi Visi Indonesia 2030 yang sering digembar – gemborkan oleh Indonesia Forum. Visi tersebut adalah sebuah tujuan yang ingin dicapai oleh bangsa Indonesia untuk menjadi negara maju nomor lima di dunia pada 2030. Memang banyak kalangan yang optimis, tetapi tidak sedikit juga yang pesimis. Optimis lantaran prediksi bahwa Indonesia akan menjadi negara maju nomor tujuh dunia dilontarkan oleh lembaga – lembaga asing besar yaitu DBS dan Pricewaterhouse Coopers (PwC) dalam buku Ekonomi Dunia 2050. Sedangkan kalangan yang pesimis melihat bahwa hal tersebut merupakan hal yang mungkin dicapai tetapi sangat sulit mengingat bertumpuknya permasalahan – permasalahan negeri ini, ditambah lagi kondisi historis kita.



Indonesia Forum mengatakan bahwa hal tersebut bukanlah hal yang mustahil mengingat banyak contoh negara – negara yang dulunya masih terkategori negara berkembang sekarang telah terkategori sebagai negara maju. Sebut saja Cina, India, Brasil dsb. Cina misalnya, yang saat ini telah memiliki pertumbuhan ekonomi selalu lebih dari 10%. Ataupun juga India yang mencapai pertumbuhan ekonomi 8-9% setelah pada awalnya hanya berkisar 3-4%. Begitupun juga dengan Brasil yang saat ini telah menjadi net eksportir minyak dengan perusahaan minyaknya yang terkenal yaitu petrogas.

Visi Indonesia 2030 tersebut, menurut Indonesia Forum ditopang oleh empat pencapaian utama, yaitu pendapatan perkapita, pemanfaatan kekayaan alam, pengembangan pariwisata, dan kualitas hidup modern. Itulah sekelumit gambaran mengenai visi Indonesia 2030 yang digembar – gemborkan oleh Indonesia Forum. Lalu mungkinkah visi itu tercapai? Serta bagaimana visi tersebut dapat dicapai? Mengingat yang ditawarkan oleh Indonesia Forum sangat miskin dari solusi atas permasalahan bangsa ini.

Visi Indonesia 2030

Dalam visi tersebut Indonesia diharapkan menjadi negara maju nomor lima dunia dengan pendapatan perkapita sebesar US$ 18 ribu dan jumlah penduduk 285 juta jiwa. Sebagai sebuah visi, tentu hal itu tidaklah salah sama sekali. Justru bukan nomor lima harusnya, tetapi negara super power nomor satu dunia. Tetapi pertanyaannya mungkinkah hal itu dicapai dengan berbagai mekanisme pemerintahan dan kebijakan – kebijakan yang diambil selama ini?

Mengingat visi Indonesia 2030 ditopang oleh empat pencapaian utama, maka sudah seharusnya kita mencermati keempat hal tersebut. Tengok saja misalnya pendapatan perkapita. Sampai saat ini pendapatan perkapita masih merupakan satu hal yang kontroversial dalam bidang ekonomi. Dikatakan kontroversial karena angka – angka yang ditunjukkan di sana sama sekali tidak menggambarkan kondisi real masyarakat suatu negara. Coba saja bayangkan, dalam satu populasi kelas kuliah terdapat seorang David Beckham di sana. Tentulah pendapatan perkapita kelas kuliah tersebut menjadi sangat tinggi. Bahkan mungkin bisa dikatakan bahwa pendapatan perkapita kelas tersebut setara dengan penghasilan pertahun sang David Beckham, dengan asumsi penghasilan para mahasiswa yang lain sangat kecil, sehingga dapat diabaikan relatif terhadap penghasilan David Beckham. Oleh karena itu, tolok ukur pendapatan perkapita tersebut sama sekali tidak layak untuk dijadikan sebagai acuan.

Begitupun juga dengan poin pemanfaatan kekayaan alam. Saat ini, minyak dan gas alam kita 90% nya dikuasai oleh swasta asing dengan bagi hasil yang sangat kecil bagi negara ini. Lalu pertanyaannya sekarang adalah, apakah dengan termanfaatkannya kekayaan alam kita begitu saja akan membuat kita sebagai negara maju? Tentu saja jawabannya belum tentu. Selama pengelolaan kekayaan alam tersebut masih diserahkan kepada asing, apalah artinya pemanfaatan kekayaan alam tersebut. Toh nantinya juga hanya akan masuk kedalam kantong – kantong pengusaha asing.

Hanya Khilafah Yang Mampu Mewujudkan Visi Indonesia 2030

Visi Indonesia 2030 memang sudah cukup baik dilihat dari sisi targetannya yaitu Indonesia sebagai negara maju nomor lima dunia. Akan tetapi visi tersebut tidak akan pernah tercapai bila paradigma penyelesaian problematika kita masih bertumpu kepada ideologi kapitalis sekuler. Ideologi tersebut tentunya tidak ingin Indonesia menguasai kekayaan alamnya sendiri sehingga mengharuskan negara – negara barat harus membayar mahal untuk mendapatkannya. Pun juga tidak dengan tolok ukur pendapatan perkapita yang sarat dengan kepentingan – kepentingan para pemilik kapital saja dalam rangka menipu rakyat dengan angka – angkanya yang fantastis. Ini bukanlah sebuah kepesimisan akan tidak tercapainya visi Indonesia 2030 tersebut dengan paradigma yang ada sekarang. Tetapi hal itu adalah sebuah keyakinan bahwa visi tersebut tidak akan dapat dicapai dengan cara pandang kapitalistik seperti sekarang.

Salah satu proses penting yang harus dijalani adalah metode yang benar untuk mencapai visi tersebut. Dalam hal ini baik itu Cina, India maupun yang lainnya telah menempuh jalan yang sama yaitu berpijak kepada satu ideologi tertentu. Dalam konteks Indonesia, dengan berpijak kepada Ideologi Kapitalis justru malah membuat Indonesia semakin terpuruk. Sebab Ideologi tersebut memang dirancang sedemikian rupa sehingga hanya menguntungkan para penjajah barat saja. Sekuat apapun kita berusaha selama pijakannya adalah Kapitalis, maka selama itu pula kita hanya akan menjadi budak di negeri sendiri.

Islam dengan ideologinya adalah satu pilihan yang tidak bisa ditawar – tawar lagi untuk mencapai visi tersebut. Tengok saja misalnya dalam hal pengelolaan kekayaan alam. Islam memandang bahwa kekayaan alam itu adalah milik rakyat dan sama sekali tidak diperkenankan untuk dikelola oleh swasta apalagi swasta asing. Ini tentu saja bertolak belakang seratus delapan puluh derajat dengan Kapitalisme yang justru membebaskan siapapun untuk mengelolanya. Yang pada akhirnya, hanya kalangan bermodal sajalah yang akan menguasainya, dan rakyat hanya akan gigit jari melihat kekayaan alam mereka dirampas.

Begitu juga dalam masalah pendapatan. Islam tidak memandang pendapatan perkapita sebagai satu indikator yang akan dijadikan tolok ukur dalam menilai kegiatan perekonomian. Tetapi yang diperhatikan oleh Islam adalah tercukupinya kebutuhan – kebutuhan primer individu per individu. Islam sama sekali tidak akan mengambil nilai rata – rata dalam masalah ini. Misalnya saja rata – rata penduduk jawa barat makan tiga kali sehari. Tetapi Islam memandang bahwa apabila ada individu yang makannya hanya dua kali perhari atau bahkan sekali perhari, maka negara wajib untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang layak baginya. Tentu ini berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kapitalisme yang membiarkan begitu saja hal – hal seperti itu kepada mekanisme pasar. Maka janganlah heran apabila kesenjangan akibat diterapkannya ideologi ini semakin lama semakin menjadi – jadi.

Khatimah

Sudah saatnya kita tidak lagi bertanya kepada kapitalisme atas segala problematika yang kita hadapi baik itu dalam bidang ekonomi, politik, sosial, iptek, pendidikan dll. Sebab telah nyata kerusakan yang ditimbulkan oleh ideologi tersebut saat ini. Berbagai permasalahan bangsa ini akan selesai, jika dan hanya jika kita bertanya kepada Islam atas segala problematika yang kita hadapi. Visi Indonesia 2030 tidak akan pernah tercapai tanpa metode pencapaian yang benar yaitu Islam dalam naungan Khilafahnya. Bahkan visi tersebut sama sekali tidak berlaku bagi khilafah Islam, sebab yang menjadi visi khilafah Islam adalah menjadi negara adidaya sebagaimana layaknya pernah terjadi selama 13 abad dalam naungan khilafah. Ini berlaku secara umum bagi seluruh negeri – negeri kaum muslimin saat ini, tidak hanya berlaku bagi Indonesia saja. Apalagi bila seluruh kekuatan kaum muslimin bersatu dan melebur dalam bingkai khilafah Islam, tentu visi sebagai negara adidaya tersebut tidak lama lagi akan terpenuhi. Bahkan akan terpenuhi saat itu juga yaitu saat seluruh kaum muslimin di dunia bersatu, dan hanya ada satu bendera yaitu bendera Islam tanpa bendera – bendera nasionalisme lainnya. Oleh karena itu sudah saatnya bagi kita umat Islam, untuk mengerahkan segenap daya dan upaya untuk menegakkan kembali Khilafah Islam dalam rangka mencapai visi sebagai umat terbaik. Wallahua’lam Bishawwab.

Sumber :

http://www.gemapembebasan.or.id/?pilih=lihat&id=433

Label:


Baca Selengkapnya!
 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 10.08 | Permalink | 1 comments