Minggu, 02 September 2007
Kecewa pada Fatah dan Hamas, Hizbut Tahrir Menjadi Trend Baru Bagi Muslim Palestina
Sekarang telah datang generasi baru yang akan menjadi alternatif HAMAS dan FATAH. Abu Abdullah mengatakan saat ini banyak dari generasi remaja dan pemuda yang ikut aktif bersama Hizbut Tahrir di Palestina.

Puluhan ribu kaum Muslim Palestina pendukung Hizbut Tahrir, sebuah gerakan Islam internasional yang menolak sistem demokrasi dan menginkan syariah tegak di penjuru dunia melalui Khilafah Islamiyyah, berkumpul di Tepi Barat (West Bank) untuk merekrut ribuan orang yang kecewa terhadap kelompok Fatah Sekuler dan gerakan Islam Hamas.

"Seseorang yang tinggal di Palestina sekarang benar-benar membutuhkan partai politik, terutama pada Islam yang satu, tidak dicapai sesuatu untuk individu." kata Syeikh Abu Abdullah seperti dilaporkan telegraph online.

Sekitar 50 orang pria, muda dan tua, berkumpul selepas sholat pada suatu malam untuk mendengarkan kajian dari syeikh di salah satu masjd. Harian telegraph melaporkan diperkirakan ratusan masjid atau bahkan ribuan di Tepi Barat dan Yerusalem Timur menjadi tempat pembinaan Hizbut Tahrir untuk setiap pekannya.

Meskipun sulit memperkirakan keanggotaan mereka, rapat akbar beberapa hari yang lalu di bulan Rajab kemarin, di Ramalah telah menghadirkan sekitar 10.000 orang. Sedangkan media yang lain menyebutkan diperperkirakan peserta yang hadir hingga 40.000 ribu orang. Poster-poster seruan terhadap khilafah mereka tempel pada setiap dinding di pusat kota. Bahkan di pusat kota Ramalah terpampang sebuah banner raksasa bertuliskan, "Khilafah: Super Power Masa Depan".

Muslim Palestina Dukung Khilafah pada Konferensi Khilafah di Ramalah Palestina"Suatu pembicaraan tentang kembalinya kepada Khilafah, pembicaraan tentang kembali kepada nila-nilai agama adalah sesuatu yang menarik untuk orang-orang." kata Majid Abu Malah, 55, seorang pengajar Bahasa Arab yang ikut serta hadir dalam rapat akbar tersebut.

Dia, seperti halnya yang lain, mengatakan bahwa dia telah cukup sudah memberikan kepercayaan kepada kedua kelompok, Hamas dan Fatah, namum mengecewakan. Ia tidak akan memilih pada pemilu mendatang. "Saya percaya pada apa yang [Hizbut Tahrir] berikan."

Banyak rakyat Palestina yang kecewa terhadap kedua kelompok tersebut yang mengakibatkan Palestina terbagi dua, satu di bawah kendali Hamas dan lainnya dikuasai Fatah. Hizbut Tahrir sendiri pernah mengingatkan kedua kelompok itu untuk sama-sama kembali kepada solusi Islam, bukan saling bunuh. Dalam selebarannya beberapa bulan lalu, gerakan yang lahir dari Masjid Al-Aqsa, 54 tahun yang lalu ini mengingatkan bahwa perilaku saling bunuh antara Fatah dan Hamas merupakan kejahatan dan pengkhianatan kepada Allah Swt.

"Solusinya bukan mengirimkan 10.000 orang dari Gaza ke Israel untuk menghapuskan pos militer. Walaupun Negara Palestina berdiri di bawah kondisi yang bagus, namun bagaimana dengan negeri yang lain? Sebuah negeri seperti Yaman dan Yordania?" tegas Abu Abdullah melanjutkan pembicaraan dengan menyebutkan dua rezim Arab yang menindas, korup dan sekular.

Gerakan ini juga tidak menghiraukan penguasaan Jalur Gaza oleh Hamas baru-baru ini. Penguasaan itu tidak cukup Islami, sebab akan semakin menambah perpecahan negeri kaum Muslim seperti halnya penguasaan Taliban di Afganistan bukanlah solusi yang Islami.

Para Pemuda Pendukung KhilafahSemakin meningkatnya aktifitas Hizbut Tahrir di Palestina ini tentu bukan untuk menyaingi Hamas. Namun menawarkan solusi jitu bagi pembebasan Al-Quds, Palestina dan negeri-negeri Muslim lainnya yang saat ini masih dijajah Barat dan antek-anteknya. The Global and Mail, sebuah koran Kanada menyebutkan Hizbut Tahrir menawarkan alternatif untuk Hamas

Hizbut Tahrir, didirikan di Al-Quds pada tahun 1953, tetapi sebagian besar telah terabaikan dan tidak terdengar di Palestina sendiri hingga beberapa tahun terakhir ini. Hizbut Tahrir mulai terasa keberadaannya di Palestina sejak bulan Rajab setahun yang lalu, ketika mereka berkumpul di al-Khalil, Ramalah, dan Gaza untuk mengingat keruntuhan Khilafah.

Sedangkan media barat senantiasa menyebutkannya sebagai gerakan yang dilarang di beberapa negeri termasuk di Arab tapi aktif di Inggris dan Australia. Hal ini merupakan hal yang wajar, karena sikap dari gerakan ini yang selalu tegas untuk menolak setiap penjajahan dan kediktatoran serta solusi-solusi semu dan menipu dari para penguasa Arab. Satu solusi yang sering ditawarkan oleh gerakan ini ialah kembali kepada syariat dengan khilafah yang akan menaungi umat manusia sedunia.

Hizbut Tahrir menyerukan kepada negeri-negeri Muslim untuk kembali kepada Khilafah Islamiyyah yang akan menerapkan syariah Islam. Gerakan ini juga mengaku tidak melakukan kekerasan dalam setiap perjuangannya.

Walaupun demikian, melihat pertumbuhan Hizbut Tahrir di Palestina yang cepat ini menjadi ancaman baru bagi Israel. "Ini sebuah ancaman besar," ketakutan Eitan Azani, seorang kolonel Israel.

Sumber : syabab.com

Label:

 
posted by Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kom. UNM at 10.11 | Permalink |


0 Comments: